Gentle C-Section, Pengalaman Melahirkan dengan Operasi Cesar “Rasa Normal”

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Ada lagi teknik melahirkan baru, dengan pengalaman baru, yang konon membuat ibu lebih merasa nyaman, Gentle C- Section.

“Jadi saya masih mungkin VBAC (Vaginal Birth After Cesarean), kan, ya, dok?” tanya saya saat kehamilan kedua kemarin masuk trimester 3. Jawaban dokter cukup menenangkan, ia mengatakan bisa, asal tidak ada faktor penyulit yang berisiko terhadap proses persalinan. Saya mengiyakan. Masuk minggu ke 32 saat saya kontrol USG, dokter berseru, “Yaaaahh, sepertinya nggak bisa normal, nih. Si janin terlilit tali pusar!” Aaah, saya sedikit kecewa.

Di kehamilan kedua ini saya sangat ingin melahirkan secara normal. Saya ingin memberikan IMD dengan maksimal. Pasalnya, dulu saat persalinan pertama, proses IMD terpaksa disudahi lebih cepat karena bayi membiru dan perlu observasi lebih lanjut. Saya merasa kontak skin-to-skin kami menjadi sangat terbatas, ditambah lagi dengan lengan yang diinfus dan beberapa alat lain yang dipasang di badan saya kala itu.

Tapi sebuah artikel yang baru-baru ini saya baca, memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan apa yang saya mau kalau kelak saya hamil anak ketiga, ahahaha. Sebuah teknik melahirkan dengan gentle C-section, konon mengijinkan saya untuk melihat proses persalinan, meskipun dilakukan dengan operasi cesar.

Gentle C-Section, Pengalaman Melahirkan dengan Operasi Cesar “Rasa Normal” - Mommies Daily

Apa itu gentle C-section?

Ada sebuah perubahan kecil pada prosedur operasi cesar dilakukan. Bila biasanya ada tirai pembatas yang diletakkan di sekitar dada untuk menghalangi pandangan ibu ke perut yang sedang dibuka, dengan teknik gentle C-section, memungkinkan ibu melihat proses keluarnya bayi dari sayatan perut, karena tirai pembatas yang digunakan adalah tirai tembus pandang. Tentu dengan angle tertentu sehingga tidak meninggalkan trauma pada ibu yang sedang melahirkan.

Pada proses gentle C-section ini, bayi yang lahir juga akan segera diletakkan di dada ibu untuk IMD. Sementara, selang infus sudah dikondisikan untuk dipasang di tangan yang lebih bebas dan alat-alat lain dipasang di area punggung sehingga memudahkan bayi untuk mengikuti proses IMD dengan nyaman.

Saya sempat bertanya pada dokter Ricky Susanto, SpOG dari RS Mitra Keluarga Kali Deres, Jakarta, menurutnya, gentle C-section mengijinkan bayi untuk ‘keluar’ sendiri tanpa ditarik paksa. Sehingga ada kemungkinan, ibu akan diminta untuk mengejan, sehingga membantu bayi untuk mendorong dirinya keluar melalui sayatan di perut.

Apa keuntungan teknik gentle C-section?

Dengan gentle C-section, bila kondisi bayi sehat dan baik, ibu bisa langsung bertemu bayi, memberikan IMD, memeluknya, sementara dokter menyelesaikan tugasnya untuk menutup sayatan perut. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kontak skin-to-skin sesaat setelah bayi lahir akan membantu mengatur suhu tubuh dan denyut jantung bayi. Bagi saya ini adalah peluang untuk memberikan IMD yang terbaik dan peluang untuk menjalin ikatan batin sejak dini.

Apakah risiko yang bisa terjadi saat memilih melakukan gentle C-section?

Dokter Ricky mengatakan, teknik persalinan ini kurang lebih sama dengan teknik operasi cesar tradisional. Hanya saja, saat menunggu bayi keluar dengan sendirinya dibutuhkan waktu lebih lama, sehingga dikhawatirkan bayi akan mengalami hipoksia (kekurangan oksigen). Selain itu, waktu yang terlalu lama dengan luka terbuka meningkatkan risiko terjadinya infeksi. Jadi, bila memang berniat untuk melakukan gentle C-section, persiapan haruslah matang, dan dibutuhkan kerjasama yang baik antara dokter dengan ibu melahirkan.

Baca juga:

Jenis-jenis Makanan Untuk Penyembuhan Pasca Melahirkan

Di Indonesia, teknik ini belum begitu populer. Meskipun proses sesudah bayi lahir kurang lebih sama dengan bayi yang lahir melalui vagina, namun menurut penelitian di Jerman tidak menemukan adanya peningkatan keinginan ibu untuk melahirkan secara operasi cesar. Sebab, pada dasarnya pilihan operasi cesar dilakukan bila ada masalah pada kehamilan. Gentle C-section setidaknya memberikan kesempatan bagi ibu yang terpaksa melahirkan secara cesar untuk melihat bagaimana bayi keluar dari perut, dan skin-to skin yang lebih lama.

Jadi, mommies mau mencobanya?

Baca juga:

Biaya Persalinan di Rumah Sakit Daerah Bandung dan Surabaya


Post Comment