Wajib Tahu! MPASI Sesuai Panduan WHO

Bagi si kecil yang akan memasuki tahap MPASI, yuk sempatkan cari tahu, seperti apa sebenarnya MPASI yang sesuai dengan rekomendasi WHO.
Berkembangnya informasi mengenai makanan pendamping ASI alias MPASI 10 tahun belakangan ini jauh lebih intens ketimbang 20-30 tahun sebelumnya. Sampai akhir 90an, panduannya cukup ‘dimulai dari usia empat bulan’. Lalu sampai sekitar 2008, muncul pedoman mulai enam bulan, tanpa gula garam, dan pakai karbohidrat tepung-tepungan. Setelah itu mulai, deh, ramai baby led weaning (BLW), tapi karbobidrat tepung sekarang tidak direkomendasikan.
Pusing? Nggak, perlu ‘lah, ya. Karena sebetulnya makan dan pola makan itu kembali pada kebiasaan keluarga.
Familiar dengan episode susah makan baik picky eating atau GTM (gerakan tutup mulut)? Ditengarai salah satu penyebabnya adalah makanan yang ditawarkan pada anak bukan makanan yang biasa dimakan keluarga. Darimana anak tahu? Saat masih janin dan menyusui, taste dari makanan si ibu sudah bisa dirasakan dan diakrabi bayi.

Jadi kalau selama hamil dan menyusui makannya sop, soto, pecel madiun, dan ayam-tempe penyet, lalu tiba-tiba pas MPASI bayi disodori salmon grillkabocha, dan zuchini, jelas nggak kenal sama rasanya, ‘kan?Tapi sebetulnya pakemnya apa, sih? Banyak ibu baru millenials jadi galau karena si nenek bilangnya A, dokter anak menyarankan B, sementara artis dan seleb medsos kasih C ke anaknya dan nampak baik-baik saja, bahkan terlihat keren.

Kebetulan saya sempat ikut talkshow seputar serba-serbi WHO yang diadakan komunitas GROW akhir Agustus lalu. Hitung-hitung, update ilmu untuk sesama mommies, karena masa-masa kasih MPASI untuk saya pribadi sudah berlalu cukup lama, dan kayaknya (mudah-mudahan), nggak melalui masa itu lagi, yaaa :D

Jadi, mommies, pada dasarnya ada dua lembaga besar yang jadi patokan tentang MPASI, yang kemudian disederhanakan oleh WHO, seperti gambar dibawah ini.

PIC1
(Gambar 1 Perbandingan panduan dari AAP, ESPHGAN, dan WHO)

Nah, kalau begini jelas, ‘kan, mengapa ada yang berprinsip tanpa gula garam, tapi ada juga yang cenderung longgar, masih pakai salted butter and cheese.Lalu, yang benar kapan MPASI bisa dimulai? Mengapa harus di usia enam bulan?

Sebetulnya patokannya bukan usia, tapi milestone bayi yang dinamakan aspek oromotor. Aspek ini terdiri dari:
  • hilangnya extrusion reflect, yaitu reflek lidah mendorong bila disodori sesuatu di mulut.
  • bisa mengontrol gerak lidah.
  • sudah bisa menegakkan kepala atau duduk dengan bantuan.

Tentunya milestone ini berbeda-beda tercapainya tiap anak, ya. Tapi kalau dirata-rata, biasanya dalam rentang usia 4-6 bulan. Ini jawaban mengapa ada anak yang siap MPASI sebelum usia enam bulan.

Tapi kan rekomendasinya tetap enam bulan?

Betul, karena yang jadi acuan bukan hanya kesiapan bayi, tapi juga kebutuhan gizinya, dimana sampai usia enam bulan seluruh kebutuhan gizi masih tercukupi hanya dari ASI saja. Kalau ASI saja cukup, mengapa harus repot mulai MPASI yang belum tentu bisa langsung mencukupi asupannya? Mengapa harus mengurangi pemberian ASI sedangkan memberi ASI bukan hanya soal susu dan kenyang tapi juga sentuhan, bonding, dan dekapan ibu.
PIC2
(Gambar 2 Gap antara energi yang dapat dipenuhi oleh ASI vs kebutuhan bayi berdasarkan usia)

Jangan juga mulai terlalu telat tapi, ya. Karena kalau sampai baru mulai di usia lebih dari 26 minggu, akan ada beberapa risiko seperti gangguan tumbuh kembang, anemia defisiensi besi (karena yang dari ASI sudah tidak cukup), dan masalah/gangguan makan.Bagaimana dengan pemberiannya? Tentunya nggak langsung padat, ya. Walau baiknya nggak terlalu encer juga seperti pedoman jaman awal 2000an yang disuruhnya kasih encer seperti air, sekarang malah harus cukup kental dengan patokan kalau sendok dibalik, makanan tidak mengalir jatuh.

PIC3

(Gambar 3 Panduan tahap pemberian MPASI)

Dari poin-poin di atas, bisa disimpulkan bahwa panduan MPASI menurut WHO diharapkan memenuhi syarat sebagai berikut:
  1. Kaya Energi – Protein – Mikronutrien (zat besi, seng, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan asam folat) yang dibutuhkan bayi pasca ASI eksklusif.
  2. Tidak berbumbu tajam, terlalu manis atau asin.
  3. Mudah dikonsumsi dan dicerna.
  4. Disukai anak.
  5. Tersedia dari bahan lokal dan terjangkau.
  6. Mudah disiapkan dari menu keluarga. Cukup masak menu yang sama, pisahkan untuk bayi sebelum dibumbui, lalu sesuaikan teksturnya dengan kemampuan bayi.
Siap memulai MPASI sesuai panduan WHO? Semoga si kecil dan Mommies sama-sama menikmati prosesnya, ya.
*All images:  bahan presentasi dr. Wiyarni Pambudi

Post Comment