Mengasuh Anak Berdasarkan Fakta Sains

Biarkan anak melakukan kesalahan, kita sebagai orangtua hanya perlu memastikan mereka tetap aman dalam melakukan kesalahan tersebut.

Nggak pernah ada yang namanya sekolah untuk jadi orangtua. Siapa yang setuju? Apalagi kalau anaknya baru satu. Yang ada kita jadi sibuk meraba-raba. Paling sering dilakukan adalah bertanya-tanya ke mereka yang udah pengalaman. Sisanya? Pasrah dan ikutin insting.

Ternyata, selain insting, beberapa fakta sains berikut ini mungkin bisa membantu mommies dalam hal pengasuhan si kecil.

Mengasuh Anak Berdasarkan Fakta Sains  - Mommies Daily

Tinggi anak tidak berbanding lurus dengan kedewasaan

Terutama untuk anak laki-laki yang jelang akil baliq, pertumbuhan tinggi badan sepertinya langsung melesat. Namun seberapapun tinggi si anak, tidak selalu berbanding lurus dengan proses pendewasaan terutama untuk si pra-remaja. Menurut Sara Johnson, seorang asisten profesor di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore – AS, di usia 11 – 19 tahun dianggap sebagai masa kritis bagi perkembangan otak. Untuk itu, harus dipantau betul proses pendewasaan dan pembangunan karakter anak, yang tentunya jadi tugas kita orangtuanya. Nggak pernah ada salahnya untuk minta bantuan psikolog anak. Tidak perlu tunggu ada masalah dulu.

Baca juga:

Hobi baru saya mengajak anak ke psikolog

Waspadai sifat yang terlalu pemalu

Menurut riset yang disampaikan Sandee McClowry, seorang psikolog asal New York University, AS, anak yang terlalu pemalu dan terlalu berhati-hati dalam menghadapi situasi baru memiliki risiko tinggi gangguan kecemasan. Coba ajak mereka keluar dari zona nyaman, tanpa perlu mengubah sifat mereka. Contohnya saja, memaksa untuk anak bertegur sapa duluan dengan teman baru, padahal kita tahu banget hal tersebut sangat tidak nyaman baginya. Menuru Mc Clowry, bekerja sama dengan rasa malunya, tidak perlu dilawan. Namun berikan ia kesempatan untuk mencoba di zona-zona baru, yang ia sukai, walaupun di awal ia terlihat tidak percaya diri.

Orangtua perlu slowdown

Seringkali kita dengar, kalau belanja bulanan, biar efektif dan efisien orangtua enggan mengajak si kecil ikut. Nanti jadi lama belanjanya, begitu alasan yang diberikan. Padahal kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi si kecil untuk memelajari banyak hal, terutama anak di usia bawah lima tahun. Sebut saja, kegiatan mengenalkan anak pada bahan makanan, mengenalkan antrian, serta mungkin saja mengenai keuangan. Beberapa kegiatan yang hectic bagi orangtua memang bisa membuat stres. “Untuk itu kita sebagai orangtua perlu slowdown, manfaatkan sebaik-baiknya waktu dengan anak tanpa terburu-buru,” jelas Tovah Klein, direktur Barnard College Center for Toddler Development, New York- AS.

Remaja tantrum lagi

Bukan cuma anak usia 2 tahun yang mengalami tantrum, anak remaja ternyata juga. Mulai usia 11 hingga 19 tahun anak akan menghadapi banyak tekanan sosial, emosi, dan mental. Sayangnya di periode usia tersebut, menurut Sara Johnson, anak belum memiliki kemampuan untuk memproses atau mengatasi tekanan-tekanan tersebut dengan tepat. Hal ini dapat menyebabkan amukan yang serius. Kunci menghadapi si remaja memang hanya tenang dan mau mendengarkan masalah mereka. Hindari balik membentak atau berkata dalam nada tinggi agar si remaja mencari pelarian pada orang lain.

Pelukan dan kehangatan nggak pernah jadi hal yang basi

Menurut Amy Bohnert, psikolog perkembangan anak di Loyola University, Chicago-AS, tidak pernah ada satu formula pasti yang bekerja untuk semua anak. Namun ada satu aturan dasar, yaitu keterikatan yang hangat antara orangtua dan anak. Memeluk, mencium, dan kehangatan yang tulus membuat anak selalu tahu bahwa kebutuhan mereka akan terpenuhi dan mereka memiliki tempat untuk mengadu ketika merasa tak nyaman. Seiring mereka dewasa, anak-anak akan membutuhkan kebebasan untuk mengeksplorasi identitas mereka sendiri. Biarkan mereka melakukan kesalahan, Anda hanya perlu memastikan mereka tetap aman dalam melakukan kesalahan tersebut.


Post Comment