8 Tahun Menikah, Inilah 8 Masalah Pernikahan yang Sering Saya Temui

Memasuki usia pernikahan yang ke-8 tahun, membuat saya belajar dan memahami bahwa ada beberapa masalah pernikahan yang sering kali muncul. Kalau dibiarkan terus bergulir, akan memberikan efek bola salju. Suatu ketika bisa membahayakan pernikahan.

Kesel sama suami karena sembarangan meletakan handuk? Ah, itu, sih, biasa. Kesal sama suami, yang tiba-tiba saja membela anak, seakan tidak satu suara dengan kita? Ini juga biasa. Atau, malah sama-sama stress memikirkan dana pendidikan anak yang nilainya begitu tinggi? Target investasi berjalan lambat seperti jalannya bekicot?

Hahahaa, ngomongin masalah pernikahan rasanya nggak akan ada habisnya, ya. Setidaknya untuk saya pribadi. Saya sendiri percaya, kalau konflik dalam rumah tangga memang akan terus kita temui. Sampai kapan pun. Mustahil rasanya ada pernikahan yang selalu adem ayem.

Entah mengapa, selama saya masih bisa berseteru dengan suami, bisa jujur mengungapkan kekesalan, kemudian bisa berdiskusi mencari titik temu, ketika itu juga saya tahu kalau pernikahan kami masih ‘sehat’. Setidaknya kami masih terus belajar menemukan formula yang tepat untuk menghadapi konflik. Bukan menghindari.

masalah pernikahan-mommiesdaily

Seperti yang diungkapkan Anna Surti Ariani SPsi, MSi, Psi, atau yang sering saya sapa dengan panggilan Mbak Nina Teguh, bahwa tidak selamanya bertengkar itu buruk. Pertengkaran dengan suami justru bisa menyelamatkan pernikahan, karena pada tahapan tersebut emosi yang sudah nge-drop bisa naik lagi sehingga bisa menaikan level emosi. Kebayang, sih, ya, bagaimana kondisi pernikahan jika suami dan istri sudah tidak saling peduli?

Ngomongin soal isu atau konflik yang sering muncul dalam pernikahan, ternyata memang sering kali dipicu oleh bebarapa faktor. Setidaknya saya belajar dari pengalaman pribadi dan beberapa orang terdekat.

Kebosanan

Bosan? Iya, bosan. Ternyata sama halnya dengan perasaan bosan dengan suatu barang yang kita miliki, rasa bosan juga bisa timbul terhadap pasangan sendiri. Tapi kan, suami itu bukan tas atau sepatu, yang bisa kita ganti kapanpun juga. Untuk mengakalinya, pernikahan juga perlu diisi dengan kegiatan yang menimbulkan antusiasme. Sesuatu yang bisa menimbulkan rasa ‘greget’. Hubungan pernikahan tanpa dibumbui dengan aktivitas spontan memang akan membosankan yang ke depannya bisa menimbulkan masalah.

Perbedaan seksual

Dalam pernikahan, saya percaya bahwa membangun keintiman fisik sama pentingnya dengan keintiman emosional. Sayangnya, seiring usia pernikahan, pandangan soal hubungan seksual juga bisa berbeda. Apalagi cara pandang perempuan dan lelaki terhadap aktivitas seks juga berbeda. Belum lagi masalah karena libido yang turun, karena lelah, stress, sudah bosan dengan gaya yang begitu-gitu saja, atau malah adanya penolakan? Perbedaan seksual ini memang bisa timbul karena beragam faktor. Untuk itu, memang diperlukan kesepakatan dan bagaimana mengomunikasikan dengan pasangan. Jangan sampai, deh, gara-gara kebutuhan seksualnya nggak terpenuhi, jadi membuka peluang perselingkuhan dan kasih kesempatan untuk ‘jajan’ di luar rumah karena kebutuhan seksual merasa tidak terpenuhi.

Nilai dan keyakinan

Pernah nggak mendengar ada pasangan suami istri yang bercerai lantaran perbedaan prinsip? Nilai-nilai atau pandangan sudah tidak sejalan lagi? Dulu, saya sih, sering heran kalau kondisi ini dijadikan alasan untuk bercerai. Kalau sudah tahu beda prinsip, kenapa maksa untuk nikah? Pikir saya. Tapi lama kelamaan saya belajar dan cukup paham kalau perbedaan pandangan memang bisa muncul seiring perjalanan usia pernikahan. Kalau terus dibiarkan dan diabaikan memang bahaya. Saya ingat percakapan dengan Mbak Nina Teguh, bahwa pasangan suami istri idealnya memang bisa tumbuh dan berkembang bersama, selalu menyamakan value nilai-nilai dalam kehidupan, dengan begitu tidak terjadi ketimpangan.

Uang…. Lagi lagi Uang…

Klise, tapi ini memang faktanya. Sumber permasalahan finansial bisa datang dari banyak hal. Oleh karena itulah diperlukan keterbukaan satu sama lain, dan tentu saja harus melakukan penyesuaikan dalam gaya hidup. Sering kali, yang bikin kebobolan itu bukan untuk kebutuhan hidup, tapi gaya hidup. Kedua hal ini jelas berbeda, lho.

Perselingkuhan

Mbak Nina sempat mengatakan ke saya, tahun lalu dirinya banyak menangani dan melakukan konseling yang berkaitan dengan perselingkuhan. Entah selingkuh fisik ataupun bukan. Menurutnya, perselingkuhan ini memang sering kali menyebabkan perceraian. Tapi bukan berarti satu-satunya jalan keluarnya adalah dengan cara bercerai, lho, ya. Perselingkungan ini pun kerap kali dipicu rasa bosan, termasuk godaan di social media.

Faktor eksternal

Umh, sudah paham dong, ya, siapa yang saya maksud di sini? Iya, konflik yang terjadi antara mertua dan ipar sering kali bikin runyam rumahtangga. Biasanya sih, karena memang adanya perbedaan cara pandang, norma, dan nilai yang berbeda bisa membuat kita menilai keluarga si pasangan sedikit di luar batas kewajaran. Termasuk tuntutan finansial. Sebenarnya masalah ini bisa dihadapi dengan komunikasi yang baik, toleransi dan mencari kesepakatan bersama.

Perasaan dimanfaatkan 

“Gue capek banget, deh… kok, kayanya yang capek cari uang itu gue ya? Gue yang selalu pusing bagimana memenuhi kebutuhan semuanya. Sementara suami gue terlalu cuek. Kesel. Mau sampai kapan kaya begini?”

Kira-kira beginilah keluhan teman saya. Mengingat sang suami memang  bekerja sebagai freelacer, yang pendapatannya tidak menentu, membuat teman saya merasa kalau selama ini dirinya yang sering kali harus banting tulang. Di satu titik, ia pun sempat berpikir kalau dirinya sering dimanfaatkan. Belum lagi dengan tuntutan lainnya. Berkaca dengan kasus teman saya ini, memang tidak bisa dipungkiri dalam pernikahan memang ada kalanya kita dihadapkan dengan perasaan seperti ini. Tapi kemudian saya mencoba ingat pesan dari Mas Indra Noveldy, yang sering memberikan konseling pernikahan. Bahwa pernikahan itu bukan praktik dagang, tidak perlu menerapkan hukum jual dan beli. Katanya,“Kalau mau sukses dan bahagia dalam pernikahan, kita harus bisa bermurah hati dalam memberi, dan lihat apa yang akan terjadi ke depannya”. 

Komunikasi tidak lancar 

Meskipun sekarang sudah era teknologi, di mana komunikasi gampang sekali untuk dilakukan, di mana saja dan kapan saja, ternyata tidak memjamin komunikasi dalam pernikahan berjalan lancar. Malah, bukan tidak mungkin kemajuan teknologi ini yang membuat komunikasi dengan pasangan terasa jauh. Gimana nggak, saat di rumah pasangan suami istri justri sibuk dengan gawainya sendiri. Ironis, ya? Tapi memang begini kenyataannya. Untuk menghindarinya, nggak ada salahnya kok, membuat peraturan di rumah. Kapan waktunya ‘puasa gadget’. Kesepakatan seperti ini nggak hanya baik untuk pernikahan, tapi juga untuk perkembangan si kecil. Selain itu, tentu saja perlu belajar bagaimana berkomunikasi yang baik dengan pasangan yang dilihat secara keseluruhan. Termasuk belajar ‘membaca’ bahasa tubuh pasangan.


Post Comment