Massa Beringas depan LBH Jakarta dan Janji Seorang Ibu

Ditulis oleh: Gita Damayana

Minggu malam itu di tengah massa yang berteriak “Ganyang PKI” di muka LBH Jakarta, saya teringat tiga anak saya di rumah.

Malam telah lewat separuh, di jalan Mendut dan Diponegoro ada ruas keberingasan di antara para lelaki yang berkumpul. Sementara di dalam pagar LBH Jakarta, ada wajah-wajah para aktivis yang lelah; tetap berkepala dingin meski menyiratkan kekhawatiran.

Motor-motor turun dekat Metropole dan beberapa orang mengarahkan telunjuk ke LBH Jakarta sambil berseru “ke sana, PKI-nya di sana”. Ketika seorang dewasa menunjukkan arah sambil menyebutkan “PKI”, sebuah kata yang hampir absen dalam kosakata manusia Indonesia berusia di bawah 40 tahun; apakah ia paham artinya apa?

Sambil berkeliaran di antara massa, cuplikan omongan yang berhasil ditangkap telinga saya adalah bahwa di dalam LBH Jakarta ada 10 (ya, sepuluh) orang anak PKI. Sepuluh orang anak PKI ini berusaha mengganti Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Menurut mereka, acara di LBH Jakarta itu isinya memang orang bernyanyi tapi lagu yang dinyanyikan adalah Genjer-Genjer. Buat yang belum paham relevansi Genjer-Genjer dengan PKI, lagu itu diyakini sebagai anthem PKI. Orang-orang ini yakin mereka harus menyerbu ke dalam LBH Jakarta karena PKI akan membangkitkan komunisme di Indonesia. Terasa ada akal sehat yang gagal hadir di sini.

Sejak siang hari di media sosial sudah beredar unggahan video acara yang isinya seorang membaca puisi Rendra, anak kelas 5 SD bergitar lagu Ibu Pertiwi serta seorang pemuda menyanyikan lagu Bob Marley. Tak sulit bagi siapapun untuk memeriksa di mesin pencari mengenai apa yang sebetulnya ditampilkan oleh panitia. Bukankah sebelum bergegas marah dan menggugat sebaiknya fakta yang kita terima harus lengkap? Seharusnya dengan sedikiiiiiit saja akal sehat, semua fakta dan informasi sudah kita terima dengan jelas.

Omongan-omongan mengenai PKI ini menancap bagi seorang ibu seperti saya. Sebagai ibu dan orangtua, salah satu bekal terpenting dalam mempersiapkan anak-anak kita menuju dewasa adalah membuat anak-anak kita mampu berpikir dengan akal sehat. Kegagalan menggunakan akal sehatlah yang membuat sebagian manusia percaya bahwa Donald Trump kompeten sebagai presiden, bumi itu datar dan umat manusia akan baik-baik saja tanpa vaksinasi.

Massa Beringas depan LBH Jakarta dan Janji Seorang Ibu - Mommies Daily

Betapa pentingnya menanamkan akal sehat bagi anak-anak kita. Di masa depan mereka akan bersaing dengan artificial intelligence alias kecerdasan buatan di dunia kerja, tidak (atau belum) seperti kita. Kemampuan anak-anak kita untuk mencerna serta mengolah informasi sangat tergantung pada daya pikir serta logika yang terbangun sejak dini. Apabila kelak mereka menentukan sikap tanpa memeriksa validitas informasi, bayangkan betapa merananya hidup mereka kelak saat bertarung dengan kecerdasan buatan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mendidik penggunaan akal sehat bagi anak-anak kita? Terus terang saya tidak memiliki jawaban komplet. Namun yang saya pahami adalah orangtua adalah teladan anak. Apa yang orangtua lakukan akan dilihat dan dicontoh oleh anak; dari mulai pemakaian smartphone hingga kebiasaan makan sayur kita. Begitupula halnya dengan akal sehat, apalagi jika kita membicarakan prosesnya ke anak-anak.

Sebagaimana kejujuran dan kerja keras; penerapan akal sehat adalah kompas mereka kelak dalam hidup saat waktunya selesai bagi kita sebagai orangtua. Di Minggu malam rusuh di Jalan Diponegoro itu saya berterima kasih pada massa . Massa yang menggunakan organ reproduksi sebagai makian ke arah LBH Jakarta itu berfungsi sebagai pengingat bagi saya sebagai seorang ibu. Tak peduli seberapa banyak kasih yang tercurah bagi anak-anak kita; absennya teladan akal sehat akan membawa mereka berpikir persis seperti massa yang saya lihat depan LBH Jakarta malam itu.

Malam semakin larut, massa semakin beringas dan di ujung Jalan Mendut terlihat mobil anti huru-hara serta water cannon polisi. Saya segera bergegas, di pagi hari anak-anak saya harus ulangan umum.


Post Comment