4 Ketakutan Saya Setelah Bercerai

Rumah itu sudah bertahun-tahun bertahan menghadapi banyak badai dan mengalami kerusakan. Dan, kini, pondasinya sudah mulai rapuh dan rumah itu kelihatan hampir runtuh. Seperti itulah pernikahan saya.

Gambaran tentang kondisi rumah di atas bisa dibilang melukiskan kondisi pernikahan saya dan suami beberapa waktu lalu. Bukan, bukannya kami tidak mencoba untuk bertahan. Sudah, berkali-kali bahkan, sampai saya sudah lupa sesering apa kami mencoba untuk bertahan. Namun, setelah saya pikir-pikir, kalau dengan bertahan malah hanya akan membuat luka untuk seluruh anggota keluarga, buat apa?

Mulai dari ngobrol dengan psikolog keluarga, psikolog anak hingga terakhir meminta saran dari masing-masing keluarga besar kami. Hingga kami sampai ke satu kesepatan, kerusakan yang terjadi sudah terlalu sulit untuk diperbaiki.

Keputusan untuk bercerai sudah kami ambil. Pengacara perceraian sudah kami pilih. Menjelaskan kepada anak juga sudah kami lakukan. Kami berharap, semua proses dan kondisi setelah bercerai tidak akan menjadi lebih buruk (ini doa saya siang dan malam). Kayaknya, sudah nggak ada tenaga kalau harus menghadapi pertengkaran lain. Tapi, saya juga harus realistis, setelah membaca buku The Good Enough Teen dari Dr. Brad Sachs. Bahwa, pasangan yang berpisah sering memimpikan perceraian yang sempurna, bebas konflik secara permanen. Tapi sama seperti pernikahan yang sempurna, perceraian yang sempurna juga sama sulitnya :D.

Maka, saya harus mempersiapkan diri terhadap empat hal ini yang seringkali mengikuti ketika perceraian terjadi:

 4 Masalah yang Sering Timbul Setelah Bercerai - Mommies Daily

1. Saat anak terjepit di tengah-tengah

Hak asuh yang jatuh ke tangan saya namun mantan suami memiliki akses kapan saja ke anak-anak, bisa membuat anak terjepit di tengah-tengah. Maksudnya? Saya hanya takut kalau ada kecurigaan baik dari pihak saya ataupun mantan suami. Nggak jarang saat anak-anak bersama saya, ayahnya mikir saya menjelek-jelekkan dia di depan anak. Saya juga sesekali ada ketakutan seperti itu. Kekhawatiran ini yang harus saya hilangkan, karena saya nggak mau kelak anak-anak merasa mereka terjepit di tengah-tengah.

2. Masalah finansial

Saya pernah ditegur oleh seorang teman, karena ketika dia bertanya kenapa saya tetap bekerja sedangkan suami mampu memenuhi kebutuhan kami sekeluarga, salah satu jawaban saya adalah seperti ini “Gue nggak tahu sampai kapan suami mampu menjadi tulang punggung keluarga, gue nggak tahu sampai kapan pernikahan kami akan bertahan. Kalau itu semua harus berakhir, setidaknya dengan bekerja membuat gue memiliki kemandirian.” Menurut teman saya, itu sama aja dengan saya berdoa agar pernikahan kami cepat selesai, ahahaha. Padahal sumpah, bukan itu maksudnya. Saya hanya mencoba berpikir logis.

Kandasnya pernikahan seringkali menimbulkan problem keuangan yang berat terutama bagi perempuan yang tidak bekerja. Saat perceraian terjadi, sudahlah perempuan harus mengatasi trauma emosi akibat perceraian, mengurus anak ditambah mencari pekerjaan. Siapa yang berani jamin kalau mantan suami akan memenuhi tanggung jawabnya untuk menafkahi anak-anak sesuai janji di pengadilan?

3. Masalah hak asuh anak

Dalam kasus saya, kami sepakat, hak asuh jatuh ke tangan saya namun dengan jam kunjung yang bebas untuk ayahnya anak-anak. Tapi bukan berarti point ini akan bebas drama. Bisa saja ada problem tambahan, seperti kunjungan, tunjangan dan pola asuh anak yang mungkin berbeda ke depannya.

4. Dampak perceraian terhadap diri saya dan anak-anak

Saya tidak terbiasa menceritakan masalah pribadi saya dan sebisa mungkin tidak menunjukkannya di depan orang. Hanya orang-orang terdekat yang sangat paham, di balik sneyum dan suara tertawa saya, ada banyaaaak sekali masalah yang saya simpan. Saya hanya takut ini membuat rasa luka, kecewa dan benci di hati saya susah hilang.

Tentang anak-anak saya, hingga detik ini mereka bisa menerima dengan baik dan semoga akan terus begitu. Karena saya nggak mau, kedua anak saya menjadi korban yang terlupakan dalam ‘medan tempur’ perceraian.


Post Comment