Kenapa Aku Nggak Punya Kelebihan, Bu?

Saat anak mengeluh kalau dirinya tidak punya kelebihan dibandingkan teman-temannya, apa yang perlu kita lakukan?

Bumi, anak saya, suatu ketika pernah bercerita kalau ada salah satu teman di kelasnya punya kelebihan karena jago gambar. “Bu… teman aku itu, jago gambar banget, deh. Gambarnya bagus banget. Menurut aku itu yang jadi kelebihannya. Nah, kalau aku kenapa nggak punya kelebihan seperti teman aku itu, ya, Bu? Kok, aku biasa-biasa saja…” ujarnya sambil memasang muka serius.

Hahahhahaa, saya geli sendiri kalau ingat mimiknya waktu itu. Apalagi saat saya menjawab, “Masa, sih, Mas Bumi nggak punya kelebihan? Ada kok… Coba deh, Mas Bumi pikir dulu….”

Apa kelebihan aku? Nggak ada,” ujarnya lagi.

“Menurut ibu, Mas Bumi juga bisa gambar, kok. Malah ditambah dengan cerita seperti komik yang suka kamu baca itu. Tinggal dilatih lagi aja. Oh ya, Mas Bumi juga jago ngomong!”

Dengan mata terbelalak, anak saya langsung menjawab,  “Ih, Ibu, tuh, aneh banget. Masa ngomong dijadikan kelebihan. Semua orang juga bisa ngomong. Itu kan hal biasa…”

Memang, semua orang itu rata-rata bisa ngomong. Tapi kalau untuk anak seusia Mas Bumi, kamu itu sudah lebih pintar. Pemilihan katanya banyak, bertuturnya juga sangat baik”.

Mendengar curhatan anak saya ini, saya pun tergerak untuk mencari tahu, sebenarnya langkah apa yang perlu dilakukan orangtua jika anak merasa nggak punya kelebihan, kurang percaya diri akan kemampuannya dengan bertanya langsung pada Mbak Vera Itabiliana, psikologi anak dan remaja yang selalu berbaik hati memberikan ‘pencerahan’ buat saya.

Kenapa Aku Nggak punya kelebihan, bu-mommiesdaily

Menurutnya, tanggapan saya seperti yang sudah saya tulis di atas sudah baik. Karena ketika anak merasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, orangtua perlu memotivasi anak. Mencari kelebihan anak dan menjelaskannya dengan detail.

Katanya, poin yang perlu dilakukan adalah pentingnya melakukan komunikasi efektif, bagaimana  anak bisa leluasa dan curhat tentang perasaannya. Mengeluhkan apa yang ia rasakan.

“Memang baiknya begitu, berikan dorongan pada anak dan jelaskan hal apa yang menjadi kelebihannya secara detail. Dari ini lambat laun anak timbul rasa percaya diri pada anak,” ujar Mbak Vera.

Komunikasi yang efektif itu penting untuk membangun hubungan sehat,  snak tidak akan ragu untuk bercerita hal apa saja yang membuat dirinya tidak nyaman, bahkan jika memang terasa sedang terintimidasi.

Langkah selanjutnya adalah, jangan pernah menyepelekan apa yang sudah dilakukan anak. Apalagi kalau sampai kita mengeluarkan kata-kata yang justru membuatnya kehilangan percaya diri.

“Untuk membangun rasa percaya diri, membuat anak percaya akan kemampuannya, jangan lupa untuk memberikan apresiasi hal-hal kecil,” tambah Mbak Vera.

Lebih lanjut, Mbak Vera mengatakan kalau pada prinsipnya rasa percaya diri pada anak berkaitan erat dengan kemandirian anak. Kemampuan anak untuk bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

“Contoh kecilnya, ketika anak sudah bisa tidur sendiri sendiri. Sebagai orangtua kita perlu memberikan apresiasi. Saat anak sudah bisa melakukan sesuatu secara mandiri, tanpa dibantu oleh orang lain, rasa percaya diri juga akan bisa tumbuh,” tegas Mbak Vera lagi.

Kemudian, jangan lupa untuk membantu anak kira menemukan aktivitas yang ia senangi dan tentu saja beri dukungan. Saat anak bisa melakukan  aktivitas yang ia senangi, otomatis akan menimbulkan rasa bahagia.

” Kalau memang kita melihat ada bakat, apakah idealnya langsung mendorong anak untuk mendapatkan les tambahan sesuai minatnya, Mbak?” tanya saya lagi.

“Bisa saja, tapi memang perlu dipastikan juga apakah anak mau atau tidak. Bukan kita paksakan. Tapi anak-anak itu biasanya masih sulit komitmen dengan  waktu. Anak-anak itu kan kalau sering diatur-atur, termasuk saat les, maka rasa fun yang mereka rasakan itu bisa hilang,” ujar Mbak Vera lagi.

Oh, ya, Mbak Vera juga berpesan, nih, kita sebagai orangtua sebaiknya jangan cepat GR, cepat memutuskan bakat anak.”Nggak usah buru-buru bilang bakat anak itu di bidang A atau bidang B, kemudian langsung memberikan les ini itu untuk mendukungnya. Soalnya, minat anak itu kan sering berubah ya sampai remaja akhir. Saat itu mereka cenderung baru bisa konsisten,” tambah Mbak Vera.


Post Comment