Sudah Sehatkah Keluarga Kita? Cek dengan 4 Indikator Ini

Tak hanya terbatas soal kesehatan fisik, olahraga teratur dan menerapkan pola makan sehat. Lebih dari itu, keluarga yang sehat untuk saya, sebaiknya memenuhi empat indikator berikut ini.

Sudah Sehatkah Keluarga Kita? Cek dengan 4 Indikator Ini - Mommies DailyImage: www.gethealthyu.com

“The greatest wealth is health.” – NN

Saya pribadi masih memegang teguh prinsip ini. Kalau badan sehat, kan nyaman, ya, mau ngapain saja. Ngantor, main sama anak, ngurus keluarga, me time dan seabreg kegiatan lainnya. Itu baru dari segi fisik, bagaimana dengan kejiwaan? Kalau dari standar WHO, di dalam artikel yang pernah saya tulis – Sudah Yakin Jiwa Anda dan Keluarga Sehat? ada 3 indikator seseorang dikatakan memiliki jiwa yang sehat, yaitu:

  1. Sehat fisik, termasuk memiliki perasaan sehat dan bisa merasa bahagia.
  2. Bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain, juga menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri.
  3. Dan yang terakhir sanggup berkompetisi dengan orang lain, sekaligus kuat menghadapi tantangan hidup.

Ukuran lainnya, sebuah keluarga bisa dikatakan sehat (IMO), adalah dari kebiasaan-kebiasaan baik keluarga yang terjalin cukup lama. Dan bisa tergambar dari pola interaksi mereka.

Mengenai kebiasaan keluarga ini, saya jadi teringat, adegan sungkem seorang selebriti yang hendak izin menikah dengan ayahnya. Walau saya tidak tahu persis apa isi pembicaraan mereka berdua, namun dari raut dan bahasa tubuh mereka. Saya bisa merasakan kesungguhan hubungan keduanya. Tulus, tak sekadar basa basi. Bagian lain yang paling membuat hati saya terenyuh adalah, ketika sang ayah, mempunyai panggilan sayang yang khusus untuk puteri bungsunya, “Permata hatiku.” Sampai sini saya pikir, mommies tahu ya, siapa selebriti yang saya maksud :D

Gambaran kasus tadi, (IMO) hanya bisa tercapai jika sebuah keluarga punya rutinitas seperti berikut ini, sehingga bisa dikatakan sebagai keluarga yang sehat, tak hanya sekadar dari segi fisik.

1. Good communication

Klise? Saya harus bilang iya, sih. Tapi nyatanya, komunikasi yang baik ada pondasi untuk jenis hubungan apapun. Mau itu pernikahan, persahabatan, relasi pekerjaan, termasuk antar anggota keluarga. Namanya juga banyak kepala, beda pemikiran, pastilah ada gesekan-gesekan. Sebagai contoh, mind set orangtua dulu, kalau anak demam harus langsung dikasih obat. Nyatanya, demam kan baru gejala, belum bisa dikatakan penyakit. Hal-hal semacam ini, harus bisa saya sampaikan dengan komunikasi yang bisa diterima oleh papa dan mama saya. Nggak bisa juga tuh, saya langsung bilang “Bukan begitu, ma, pa, kalian nggak ngerti!”, ya gimana mau ngerti kalau nggak diberikan pengertian? Hal yang sama berlaku untuk suami saya. Ketidaksetujuan, merasa tidak nyaman, ada yang mengganjal, semua harus saya sampaikan. Karena laki-laki tidak bisa menerka-nerka isi hati dan kepala istrinya. Tapi juga harus imbang, kalau pasangan kita pantas diberikan apreasi, ya, jangan ragu untuk memujinya :) 

2. Spent quality time together

Bukan hanya dari segi porsi waktu yang dihabiskan dengan keluarga. Tapi juga kualitas waktu yang dihabiskan. Contohnya, ayah, ibu dan anak berkumpul di ruang tamu pada akhir pekan. Namun, masing-masing sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Ini tidak bisa dikatakan menghabiskan waktu berkualitas bersama. Walau kegiatannya sederhana, tapi kalau secara fisik dan jiwa, semuanya hadir dalam momen itu, nah, itu baru bisa dikatakan “spent quality time together.” Ada interaksi nyata, masing-masing merespon sepenuh hati tindakan yang diberikan. Misalnya, ketika Jordy anak saya minta dibacakan buku dongeng. Saya akan menaruh HP jauh dari jangkauan. Lalu setiap Jordy bertanya sekecil apapun tentang jalan cerita yang saya sampaikan, sebisa mungkin akan saja jawab sesuai dengan nalar usia 3 tahun, walau rasa kantuk sudah tak tertahan :p

3. Respect each other

Saya selalu mengingatkan “3 magic words” kepada suami dan anak saya. Tolong, maaf dan terima kasih. Tiga kata ini, menjadi alat untuk memberikan respect terhadap orang. Dihargai sebagai manusia. Tak peduli permintaan  itu datang dari pak suami sang kepala keluarga, dia harus mendahului permintaannya, dengan kata “tolong.” Selain itu, jika ada yang sedang bicara, usahakan memberikan respon. Lagi-lagi, ini bentuk hadirnya kita sepenuh hati dan jiwa untuk lawan bicara, bahkan untuk anak saya yang berusia 3 tahun.

4. Memegang komitmen

Suatu hari suami saya bilang, mau mengurangi merokok (baru dikurangin, ya ini :p). Komitmennya diam-diam saya pantau. Ternyata, dia cukup memegang komitmennya. Salah satu buktinya dari bajunya yang tak lagi meninggalkan jejak asap rokok terlalu pekat. Lalu berikutnya saya, hehehe. Yang berkomitmen untuk kembali olahraga, setelah sekian lama absen *UPS. Goal-nya, ya supaya badan sehat dan bonusnya? Mengembalikan bentuk tubuh, seperti semula, hohoho. Artinya, jika berbagai jenis komitmen dipegang teguh, berani merealisasikanya, dan nggak hanya sekadar janji, berarti keluarga mommies sudah menuju kategori keluarga yang sehat, tak hanya sekadar sehat secara fisik.

Mommies punya versi lainnya? Silakan ditambahkan di kolom komentar, ya :)


Post Comment