Laila Achmad, Bicara Soal Kecintaannya pada Dunia Menulis, Olahraga dan Pola Asuh

Hidup memang tidak sesederhana hitam dan putih, baik atau jahat, bahkan tak sekadar gelap ataupun terang. Ada kalanya hidup ini terasa begitu absurd. Sepertinya, hal inilah yang mejadi salah satu prinsip pengasuhan yang dilakukan Laila Achmad terhadap puteranya, Raya. Bahwa ia ingin anaknya mengerti bahwa tidak ada standar di dunia ini yang ‘paling benar’.

Buat para mommies yang senang blogwalking, atau sering ‘bermain-main’ di social media, mungkin sudah cukup familiar dengan nama Laila Achmad. Ibu dari Jagad Raya (5 tahun) yang gemar menulis ini memang sudah cukup lama dikenal sebagai blogger. Buah pikirannya pun sering kali ia tumpahkan lewat cuwitan di social media seperti twitter.

Perkenalan saya dengan Laila sebenarnya sudah cukup lama. Tepatnya ketika saya resmi menjadi editor di Mommies Daily. Jauh sebelum saya membantu menulis untuk Mommies Daily, justru Laila sudah melakukannya. Meskipun ia mengaku sering kali menulis hal ‘receh’ justru saya melihat tulisan Laila cukup tajam, malah sering kali terasa menghunus, hahahaa. Maksudnya, Laila bisa menulis dengan sudut pandang yang berbeda, sehingga begitu saya membaca tulisannya, saya pun langsung membatin, “Eh, benar juga, ya”. Lagi pula menurut saya, sih, penulis memang idealnya bisa menyuguhkan sesuatu yang berbeda.

IMG-20170911-WA0002

Kecintaan Laila pada dunia tulis menulis ternyata sudah tumbuh sejak dirinya masih belia. Ia bercerita, bahwa semasa SD, ia pernah menulis cerpen horror. “Waktu itu saya menulis sendirian malam-malam di ruang makan, pakai kertas dan bolpen. Baru setengah halaman, saya menjerit sendiri lalu terbirit-birit ke kamar. Ibu saya ngakak nggak kelar-kelar. Saat itulah saya—dan keluarga—menyadari bahwa saya baper banget dengan tulisan saya sendiri. I’m passionate with I write, always.”

Laila juga menambahkan kalau ia tidak pernah melihat sebuah tulisan sebagai “hanya sebuah tulisan”. Ia justru melihatnya sebagai sebuah karya penting. Tidak mengherankan setiap kali membuat tulisan ia selalu berusaha membuatnya dengan sebaik mungkin. Bahkan untuk setiap titik dan komanya punya makna besar karena dapat menggiring hasil tulisan tersebut menjadi persis seperti yang ia mau.

Jika Laila kerap punya pemikiran berbeda yang ia tuangkan lewat sebuah tulisan, bagaimana dengan pola asuh yang ia terapkan untuk buah hatinya? Yuk, simak obrolan saya dengan salah satu member Forum Female Daily ini.

Hai Laila, ceritain dong, sekarang lagi sibuk apa aja?

First and foremost, saya masih bekerja sebagai Direktur. Direktur Rumah Tangga keluarga sendiri alias IRT, hahaha. Saya juga bekerja freelance di bidang penulisan sebagai editor, content writer, kadang copywriter dan penerjemah. Saya juga sedikit-sedikit belajar tentang perusahaan keluarga. Not too much, though, karena bidang engineering sejatinya jauh banget dari minat dan kemampuan saya.

Oh, ya, Laila itu aktif nggak, sih, di forum FDN? Kalau iya, apa yang Laila dapatkan saat ‘main’ ke forum? 

Beberapa tahun lalu, sempat ada masanya saya jadi bencong banget. Maunya dandan melulu, dan hobi banget ngulik ulasan beauty products. Saat itulah love affair saya dengan forum FDN terbentuk, meskipun saya adalah silent reader. Lalu minat saya terhadap makeup dan beauty mereda, sehingga saya jadi jarang main ke forum.

Sejak tahun lalu, saya mulai berburu TK dan SD untuk anak saya, dan saya pun kembali ke forum FDN. Walaupun kecepatan tektok di thread sekolah anak FDN tidak terlalu cepat, informasi yang disajikan berguna banget untuk jadi panduan awal saya berburu.

Bagaimana, sih, cara Laila menjalankan aktivitas sehari-hari jadi lebih efisien? Ada tools yang dirasa membantu nggak?

Saya perlu Mbak pengasuh anak. Udah, deh, loud and clear aja. Saya nggak bisa pura-pura jadi ibu tangguh, hahaha. Seharusnya, semakin anak besar, saya bisa lebih mandiri dari Mbak, ya? Nggak, tuh. Makin ke sini, ternyata saya semakin getol berkegiatan, sementara anak saya semakin petakilan. Jadi saya butuh seorang Mbak untuk mendampingi anak saya, kalau saya sedang tidak bisa.

I also love the fact that my Mbak is part-time. Datang pagi, pulang sore, serta libur saat akhir pekan dan tanggal merah. Jadi Raya (dan saya) nggak bergantung penuh kepada si Mbak. Kedekatan kami tetap terjaga.

5 kata yang mengambarkan Laila sebagai ibu?

Santai, otodidak, liberal, artsy… santai udah, ya?

Jadi orangtua masa kini, apa yang paling terasa sulit dan bikin Laila khawatir?

Gerbang informasi yang terlalu terbuka lebar dan nyaris tanpa filter. Internet can be awesome, tapi anak juga jadi rentan terekspos dengan berbagai konsep yang aneh-aneh, meski sudah diawasi. 15 tahun lalu, dunia maya adalah pelarian sejenak dari dunia nyata. Sekarang, dunia nyata adalah pelarian sejenak dari dunia maya. Gimana menyeimbangkannya, ya?

WhatsApp Image 2017-09-11 at 7.52.32 AM

Parenting style yang Laila terapkan ke anak-anak seperti apa, sih?

Di serial TV komedi Modern Family, ada sepasang suami-istri Gloria dan Jay Pritchett. Usia mereka terpaut jauh, dan hal tersebut terefleksi dari gaya parenting masing-masing. Gloria yang muda lebih parnoan, meyakini berbagai teori parenting, dan cenderung protektif terhadap anak. Sementara Jay—sebagai orang “angkatan lama”— lebih keras dan nggak mau sedikit-sedikit parno. Anak terlambat bicara? Susah makan? Nggak populer di sekolahnya? Udahlaaah, santai aja. Pada akhirnya, semua akan baik-baik saja, kok. Biarlah anak terbentuk sendiri lewat kerasnya dunia nyata. Jay juga nggak percaya dengan teori-teori parenting masa kini.

Dulu saya adalah Gloria. Sekarang saya 100% Jay, hahaha.

Saya juga agak terobsesi dengan membuka pikiran Raya. Saya senang sekali membawa Raya travelling dan memperkenalkannya kepada berbagai macam kebudayaan, kesenian, masyarakat, dan kepercayaan. Saya kepingin pikiran Raya terbuka seluas-luasnya, dan sadar bahwa tidak ada satupun standar di dunia yang “paling benar”.

Pernah nggak punya momen yang bikin Laila merasa gagal menjadi seorang ibu atau istri? Dan bagaimana cara untuk meng-handle situasi tersebut?

Kalau saya bekerja—entah kerja “kantoran” atau mengerjakan sebuah proyek freelance yang besar—saya rentan tersedot ke pola hidup workaholic, karena saya orangnya parnoan, khawatir hasil pekerjaan saya nggak maksimal. Tapi gawatnya, time management saya kurang baik.

Saya pernah pergi makan malam keluarga di malam minggu, dan saya buka laptop, lho, di meja makan. Saya juga selalu buka laptop saat liburan. Kebayang nggak, gimana enegnya anak dan suami saya? Sempat ada masa Raya alergi melihat laptop saya, sampai laptop tersebut pernah didorong jatuh ke lantai. Wak..waw…!

Hal ini sering menjadi sumber pertengkaran besar antara saya dan suami. Suami pernah melarang saya bekerja (yang terlalu serius), sehingga saya menuduh dia seorang misoginis. Ribet, deh.

Solusinya, ya, saya harus mengatur waktu dengan lebih baik. Saya harus fokus dengan kerjaan saya saat weekdays, ketika Raya sekolah, sehingga saya nggak perlu terbirit-birit menyelesaikan deadlines di akhir pekan. Sibuk boleh, tapi saya nggak bisa “kelihatan sibuk” di depan anak dan suami. Piye tho, hahaha. Saya juga merasa gagal kalau saya kelepasan berantem besar dengan suami, di depan Raya.

Banyak yang bilang seorang ibu butuh me time supaya bisa tetap ‘waras’. Nah, kalau Laila sendiri bagaimana? Hal apa saja sih, yang bikin Laila tetap merasa ‘waras’?

Mungkin nongkrong dengan teman-teman yang belum berkeluarga. Beda banget, lho, nongkrong dengan mereka, sama nongkrong dengan teman-teman yang sudah beranak. Gaya hidup mereka berbeda, prioritas mereka berbeda, becandaannya juga berbeda.

Saya punya geng yang orang-orangnya belum berkeluarga—kecuali saya—dan ajakan nongkrong mereka bisa seru sekali. Misalnya, mendatangi disko dangdut. Becandaan mereka juga sangat kasar dan “politically incorrect”. Soalnya hidup mereka lebih carefree dan tanpa beban. Tanggungjawab hidup mereka juga nggak sebesar orang yang sudah berkeluarga. Despite all that, sekali-kali nongkrong dengan mereka bisa memberikan perspektif yang fresh.

Sejauh ini ada buku yang paling jadi favorit nggak? Seputar parenting atau buku lainnya? Apa alasan memilih buku tersebut?

Saya nyaris nggak pernah baca buku parenting. Saya lebih banyak membaca artikel. Kalau ada artikel yang teorinya menarik, baru akan saya gali lebih dalam. Kayaknya buku parenting yang terakhir saya baca adalah Bringing Up Bebe, lima tahun lalu, hahaha.

Bagaimana dengan exercise routine?

Saya rutin menari dan berolahraga. Di awal tahun 2017, sempat ada masanya saya olahraga 6 kali seminggu, tapi trus tobat, hahaha. Ngejar target ikut Asian Games apa gimana, bu? Hahahaha…. Minggu lalu saya baru mulai ikut program 8 Weeks Challenge dari Sana Studio dan private training menari, jadi kayaknya saya bakal kembali memasuki era berolahraga 6 kali seminggu.

Saya suka berolahraga bukan untuk mengejar bodi oke—saya masih ginuk-ginuk, kok!—tapi karena saya merasa my happy place betul-betul adalah studio tari dan studio olahraga. Endorphine—yang dihasilkan dari berolahraga—bercampur dengan musik joget-joget, tuh, hasilnya dahsyat, deh. Rasanya problem hidup luntur semua.

Hal apa saja, sih, membuat Leila bisa tetap fokus menjalankan peran sehari-hari….

Saya selalu berpegang teguh kepada prinsip masker oksigen. Saban naik pesawat, kita selalu diwanti-wanti oleh petunjuk keselamatan bahwa kalau tekanan udara di kabin sampe turun, masker oksigen akan keluar. Begitu keluar, orang dewasa harus memakaikan untuk dirinya sendiri dulu, baru memakaikan anaknya. Pesannya jelas—you must, must, must take care of your well-being first, in order to take care of your child’s well-being. Sang ibu harus terurus dengan baik dulu. Kalau si ibu stres, dijamin, efeknya akan merembet ke anak, dan aspek-aspek lain dalam hidup.

Maka seorang ibu—terutama ibu baru—harus menghilangkan perasaan bersalah untuk merawat dirinya sendiri dulu. Memang, ada kebanggaan “menyiksa diri” jadi supermom yang mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari urusan pekerjaan sampai rumah tangga. Tapi kalau kita sampai burned out, kebanggaan tersebut jadi nggak berarti.

Wah, saya kok, setuju banget, ya, dengan pemikiran istrinya Teguh Wicaksana Sari ini. Di akhir obrolan yang kami lakukan lewat email, Laila juga punya pesan, yang menurut saya penting untuk diingat oleh semua kaum ibu. “So take care of yourself first, and never, ever defend yourself about it. You’re the mom, you know what’s best.”


Post Comment