Perlukah Anak Belajar Bahasa Daerah?

Di zaman yang kian modern seperti sekarang seberapa banyak, sih, anak-anak yang menguasai Bahasa daerah? Mereka justru lebih piawai berbahasa Inggris. Fakta ini pun membuat saya berpikir ulang, dan bertekad untuk mengajarkan anak saya Bahasa daerah, yang saya anggap sebagai mother tounge.

Mungkin pertanyaan ini tidak terlalu relevan bagi mereka yang tinggal, lahir dan besar di Jakarta. Tetapi, sebagai orang yang lahir dan besar di Pekalongan, Jawa Tengah, bahasa Jawa adalah mother tongue saya. Saya menguasai Bahasa Jawa dalam berbagai tingkatan, ngoko, krama madya, krama Inggil. Dulu, saya bahkan bisa membaca aksara Jawa. Karenanya, kenyataan bahwa sampai usia 10 tahun, anak saya Pi, sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa, membuat saya sedih dan merasa gagal. Anak sekarang jauh lebih piawai berbahasa Inggris.

Saya akui, tidak mudah mengajari anak bahasa Jawa, karena tidak pernah digunakan dalam percakapan di rumah. Maklum, pernikahan antar suku membuat bahasa daerah saya dan suami berbeda. Suami berbahasa Sunda, yang sampai sekarang juga tidak kunjung saya kuasai.

Perlukah Anak diajarkan bahasa daerah-mommiesdaily

Kesempatan untuk menggunakan bahasa daerah hanya saat mudik hari raya, sehingga sangat terbatas. Itupun, orang yang hendak mengajak anak saya ngobrol menggunakan Bahasa Indonesia.

Kemampuan berbahasa Inggris anak saya sudah lumayan bagus tanpa perlu saya ajari. Dengan mudahnya ia terpapar Bahasa Inggris, dari tontonannya: televisi dan Youtube. Tahun ini, saya bertekad untuk mengajarinya Bahasa daerah.

Ada banyak alasan kenapa anak harus diajari Bahasa daerah. Berikut ini lima alasan yang saya temukan dari berbagai sumber, di antaranya:

  1. Menjaga agar bahasa daerah tidak punah. Indonesia adalah negara kedua di dunia yang mempunyai bahasa terbanyak, setelah Papua Nugini. Menurut jurnal Ethnoloque (2015), di Indonesia ada 719 bahasa daerah. Dengan mempelajarinya, ia akan menjadi generasi pelestari budaya supaya bahasa daerah tidak menjadi punah ke depannya. Jika generasi penerus tidak diajarkan bahasa daerah, bahasa daerah terancam punah. Di zaman sekarang, keberadaan Bahasa Inggris dianggap jauh lebih penting karena menjadi bahasa pendidikan dan bekal untuk kompetisi di dunia kerja. Tidak heran jika bahasa Inggris dianggap lebih penting untuk diajarkan ke anak, oleh para orang tua.
  2. Alat penghubung dalam keluarga. Setiap kali berkunjung ke rumah mertua di Tasikmalaya, saya selalu menjadi outsider dalam diskusi dan percakapan keluarga. Sebetulnya, kemampuan pemahaman saya akan Bahasa Sunda sudah makin bertambah, sehingga saya bisa paham kalau ada orang lain mengajak saya berbicara dalam Bahasa Sunda. Hanya saja, belum bisa mengucapkannya dalam percakapan. Saya menyadari, bahasa daerah adalah akar keluarga. Bisa dibayangkan perasaan anak saya jika mudik di Tasik dan di Pekalongan, ia menjadi outsider di kedua keluarga orang tuanya. Supaya anak bisa menjadi bagian dari keluarga dan mempertahankan tradisi keluarga, ia harus bisa berbahasa daerah. Pe-eRnya jadi berat karena anak saya harus mempelajari dua bahasa daerah sekaligus.
  3. Bahasa adalah jembatan kebudayaan. Mempelajari bahasa berarti mempelajari budaya. Untuk mendekatkan anak pada budaya dan tradisi dari daerah asalnya, ia harus menguasai bahasanya. Kalau anak kita diajari Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, kenapa tidak bahasa daerah sendiri? Menguasai Bahasa daerah akan menumbuhkan kebanggaannya pada kebudayaan sendiri.
  4. Kemampuan berbahasa Indonesia menjadi lebih bagus. Dengan belajar bahasa daerah, kemampuan linguistiknya bertambah, dengan demikian ia juga akan menjadi lebih paham tata Bahasa Indonesia.
  5. Semakin dini, semakin mudah. Usia terbaik anak untuk mempelajari bahasa kedua adalah pada usia 7 atau 8 tahun. Pada usia ini, anak mudah diajari bahasa asing. Belajar bahasa daerah, sama halnya dengan bahasa asing, menjadi bahasa kedua atau ketiga yang harus dipelajari anak.

 


Post Comment