Leila Safira, “Menjadi Single Mom, Saya Yakin Semuanya Baik-baik Saja”

Kenapa tidak? Pertanyaan inilah yang selalu Leila Safira pertanyakan berulang kali untuk meyakinkan diri bahwa statusnya menjadi single mom tetap bisa membuat kehidupan bersama putri semata wayangnya akan baik-baik saja. Apa yang membuatnya begitu yakin? 

Kehidupan memang layaknya warna warni yang tidak pernah sama dari hari ke hari. Kita bisa merencanakan segala sesuatu yang untuk bisa berjalan sesuai keinginan, tapi siapa yang pernah tahu hari esok? Karena sering kali, tidak akan pernah bisa diduga-duga, bukan?

Sepertinya, hal inilah yang dirasakan Leila Safira, ibu dari gadis cilik bernama Yoko (11 tahun). Menjalani peran sebagai single mom sejak tahun 2011, diakunya sedikit banyak memang membuat kehidupannya berubah. Namun bukan berarti ia menyerah.

Saya sendiri memang sudah cukup lama mengenal sosok Mbak Leila. Namun, memang belum secara personal. Saya sering menikmati berbagai tulisannya yang diterbitkan di beberapa Media Cetak. Ya, Mbak Leila memang memilih menjalani kariernya sebagai pekerja media. Setelah sempat menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah Cleo, kini ia ‘melabuhkan hatinya’ dengan bekerja di Woman Talk. Kebetulan, Mbak Leila juga adalah kakaknya Mbak Affi Assegaf, jadi ketika ia mampir ke kantor sesekali kami pun sempat bertemu.

Di tengah kesibukan sebagai working mom, bekerja di dunia media digital, Woman Talk,  ia pun yakin bahwa dirinya mampu terus melangkah menjalani perannya sebagai single mom. Apa yang membuat dirinya kuat? Berikut kutipan obrolan yang kami lakukan lewat email.

Leila Safira-mommiesdaily

Menjadi single mom, masa-masa tersulit apa saja  yang pernah dihadapi  dan bagaimana cara Mbak keluar dari kesulitan tersebut? 

Ketika hubungan dengan (sekarang mantan) suami dan keluarga suami masih tahap krisis. Tetapi memang harus dijalani tentu proses itu, dan berjalan dengan waktu kemudian hubungan dengan mantan suami membaik, dan keluarganya pun melihat saya bisa menjalani peran sebagai orangtua tunggal dengan baik untuk anak, dan sikap mereka pun kembali normal ke saya.

Menjadi single mom, hal apa saja yang terasa paling berubah? 

I can only have myself to depend on :) Not that it’s a bad thing, though. Kalau dulu pola pikirnya adalah; saya selalu punya back up plan dalam hal waktu menjaga anak bergantian, keuangan, mengurus sekolah dan hal-hal yang berhubungan dengan rumah dan rumah tangga, sekarang semua harus dipikirkan dan dijalani sendiri.

Kalau dulu, mungkin suami yang sering dijadikan tempat curhat, bagaimana dengan sekarang? Siapa yang punya peran besar sebagai tempat curahan hati? 

Sebenarnya saya memang dasarnya tidak terlalu mudah buat curhat, apalagi dengan orang yang tidak dekat, jadi sempat saya simpan saja kalau ada yang mengganggu hati. Sekarang tempat saya bertukar pikiran adalah sahabat saya, dan adik adik yang semakin kami tua rasanya hubungan semakin erat.

Bagaimana cara Mbak membangun hubungan yang baik dengan mantan suami? 

Alami saja, ketika dia kelihatan masih ada kemarahan terhadap saya, saya jaga jarak dan menghubungi dia seperlunya. Setelah dia terlihat legowo, saya membuka jalur komunikasi lagi terutama update soal anak. Sekarang karena anak sudah besar dan bisa kontak dengan ayahnya langsung, saya biarkan dia sesering mungkin memberikan update ke ayahnya, saya bertemu jika ayahnya berkunjung saja, hubungan kami baik, seperti layaknya teman.

Sebagai single mom, ada nggak yang bikin Mbak merasa khawatir? Jika ada, bagaimana cara mbak untuk mengatasi rasa khawatir tersebut? 

Tentunya soal anak, apakah dia akan tumbuh dengan merasa ada yang hilang dari hidupnya, yaitu sosok ayah. Karena khawatir dia memiliki “daddy issue” . Saya saja yang punya ayah merasa memiliki daddy issue, hahaha. Makanya, saya sering bertanya ke anak, apakah dia merasa iri atau kurang jika dia melihat teman temannya yang punya ayah dan ibu. Tetapi anak saya selalu menjawab, dia merasa biasa saja, toh, dia juga punya ayah, kebetulan saja tidak hidup bareng dengan kami. Lalu saya lega lagi, tetapi dari waktu ke waktu tetap saya tanyakan ke anak hal yang sama.

3 hal yang membuat Mbak Leila merasa dan yakin kalau hidup pasca bercerai akan baik-baik saja….

1. Kenapa tidak, 2. Kenapa tidak, 3. Kenapa tidak. Hahaha maaf. Baik baik itu hanya state of mind ya. Kalau kita mau berpikir susah ya, semua akan jadi susah. Hal yang terjadi tidak usah diberi label baik dan buruk, memang hal yang harus dijalani saja. Saya gagal tidak hanya sekali, tapi toh, tetap bisa move on dan menjalankan hidup sebaik yang saya bisa, dengan (semoga) ada yang dipelajari dari kegagalan tersebut.

Saya yakin semua akan baik baik saja asal kita tidak ada penolakan atau resistance terhadap hal yang terjadi maupun kenyataan hidup. Ketahui, hadapi, jalankan, ikhlaskan, move on. Apalagi saya lihat anak saya tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bisa saya sukai dan hormati, itu saja sudah membuat saya lebih optimis.

Leila Safira

Sejauh ini apakah Mbak punya cara sendiri untuk self healing dari semua situasi sulit yang dihadapi? 

Dari dulu saya memang perlu banyak sekali me time, tapi bukan untuk self healing dari situasi sulit, tetapi untuk self healing dari interaksi dengan banyak orang, hehehe, karena introvert yang agak ekstrim. Buat aku berdiam di rumah akhir pekan dengan membaca dan menonton film, juga berolahraga yang cukup berat adalah self healing yang paling ampuh.

Bagaimana dengan survival guide? Mau, dong, Mbak Leila dishare apa saja…  

Survival guide, eh? Find your new ‘normal’ and the hell with what other people think. Sebenarnya (imho) menjadi orangtua tunggal itu justru banyak tantangannya adalah persepsi dan stigma dari social convention. Kalau mau memikirkan perkataan orang lain atau pendapat orang lain, tentu tidak ada habisnya. Cari sistem  yang nyaman saja untuk Anda dan anak, tidak usah terlalu memikirkan orang lain. Toh, mereka tidak menyumbangkan bantuan (lahir batin) ke kita, untuk apa dipikirkan?

Aneh tidak aneh itu hanya masalah persepsi dan lebih sering malah persepsi diri kita sendiri. Tidak usah merasa kurang dari orang lain atau keluarga lain. Selain itu saya juga percaya kalau tidak semua orang cocok dengan sebuah sistem sosial yang disebut pernikahan.

Bagaimana dengan peran support system? Sejauh mana, sih, peran mereka membantu mbak untuk melangkah lagi?

Nah ini sangat penting. Saya sering sekali merasa perlu “istri” daripada suami. Karena itu saya usahakan punya support system baik di rumah maupun di kantor. Terutama ketika anak masih kecil, rasanya perlu sekali. Di rumah, saya punya mbak yang saya percaya dan mengingatkan juga bisa menangani urusan rumah, rumah tangga dan sebagian soal anak.

Sementara di kantor (yang sebelumnya) ada sekretaris yang sangat sigap mengingatkan dan mempersiapkan apa yang harus saya lakukan sehingga pekerjaan bisa lebih efisien. Sayangnya di kantor yang sekarang tidak ada fasilitas tersebut, untungnya teknologi sudah canggih jadi saya bisa terbantu dengan virtual assistant berbentuk aplikasi aplikasi di gawai saya. Sementara sekarang karena anak sudah cukup besar, saya bisa memperkerjakan dia juga untuk mengasisteni diri dan saya :)

—-

Terima kasih untuk sharing-nya a Mbak Leila, salam buat Yoko, ya.

 

 

 

 


Post Comment