Urusan Bekal Sekolah Anak yang Kadang Penuh Drama

Siapa di sini yang kadang merasa kalau urusan menyiapkan bekal sekolah anak itu ‘bebannya’ lebih berat daripada menyiapkan presentasi di hadapan bos? :D

Dulu, waktu Bumi, anak saya masih di Playgroup, setiap kali teman-teman saya yang anaknya sudah duduk di Sekolah Dasar curhat tentang bekal sekolah, saya suka membatin “Ngapain sih pusing banget urusan bekal sekolah. Tinggal googling resep yang gampang tapi enak, bikin, bawain deh ke sekolah.” Soalnya, saat itu, Bumi masuk sekolah cuma seminggu tiga kali, dia belum bisa ngeluh atau banyak nuntut. Nerima aja dibawain bekal sama Ibunya, hahaha.

Ternyata, setelah Bumi berada di Sekolah Dasar, baru saya paham, kenapa dulu teman-teman saya (terutama yang ibu bekerja) suka curcol di WAG. Karena sekarang saya mengalaminya. Tuntutannya terhadap bekal sekolah yang dibawa kadang melebih tuntutan atasan terhadap tenggat deadline yang wajib saya patuhi, hahaha.

Urusan Bekal Sekolah Anak yang Kadang Penuh Drama

Tapi semua bisa ‘terbayar’ kalau Bumi bilang bekalnya enak dan dia suka. Bahkan kadang Bumi juga bilang, “Bu, kata teman-teman aku, bekal makanan yang dibuat Ibu itu enak.” Namun, di luar pujian yang bikin saya besar kepala, dengan membawa bekal, saya sendiri bisa memastikan kalau makanan yang dia asup sehat. Nggak jajan sembarangam yang kandungannya nggak jelas. Bisa saja kan ada zat berbahaya yang digunakan? Belum lagi soal higienitas. Duuh…

No wonder, menyiapkan bekal sekolah  masuk dalam list ibu-ibu macam saya. Ya, walau kadang penuh drama yang disebabkan beberapa hal berikut ini:

  1. “Ibu, besok bekalku apa?” atau “Ibu, aku tuh bosan kalau bawa bekalnya roti, puding atau spaghetti terus,” atau “Ibu, besok aku mau bawa bekal 3 macam ya.”

Pernah ngalamin momen begini? Saat si kecil ada aja permintaan spesial untuk bekal sekolahnya? Mari kita berpelukan dulu. Tuntutan Bumi biasanya lumayan kencang setelah masa libur selesai. Mungkin karena baru awal-awal kembali ke sekolah, Bumi masih semangat memamerkan bekal bikinan ibu ke teman-teman.  Atau bisa juga karena sekarang Bumi mengikuti beberapa kegiatan after class. Jadi dia butuh asupan energi yang lebih banyak.

Yang membuat gregetan itu kalau Bumi mintanya satu hari sebelumnya, dan baru ngasih tahu sore harinya, lewat telepon ketika saya masih di kantor. Momen “duh” banget kan *__*.

Akhirnya, sebagai solusi, saya mencoba melakukan beberapa hal ini:

  1. Membuat daftar menu bekal sekolah untuk satu minggu. Jadi saya nggak pusing lagi mikirin besok mau bikin apa, lusa mau bekalin apa.
  2. Melibatkan anak dalam membuat menu bekal sekolah. Ini wajib hukumnya, agar Bumi nggak bisa lagi komplein “Kok bekalnya itu lagi-itu lagi, bu..”. Kan membuat menunya bersama-sama, hahaha.
  1. “Aku maunya di bekal ada sosis, nugget dan kentang goreng,” atau “Aku nggak mau sayurnya terlalu banyak.

Mencari titik temu untuk menyamakan konsep makanan sehat dan enak versi saya dengan versi Bumi itu rasanya cukup melelahkan. Iya sih, Bumi mau membawa bekal sekolah bermacam-macam. Masalahnya, sosis, nugget, kentang goreng, cake, menurut dia variasi yang sehat. Menurut ibu? Oh, tentu TIDAK. Gonta-ganti menu, tapi kalau isinya sosis, nugget, kentang goreng, atau aneka makanan instan yang nggak sehat, sama aja bohong.

Jadi, solusinya, saya perlu mutar otak untuk kreatif menyajikannya. Gimana cara agar si brokoli itu mau dia makan, gimana cara agar wortel bisa masuk ke dalam mulutnya, dst. Nah, ini terbantu banget dengan jadwal mingguan dalam membuat menu tadi. Karena dengan membuat daftar bekal mingguan, saya jadi nggak asal sekadar membawa bekal yang praktis tapi juga ada kandungan gizinya.

  1. “Ibu, bekalnya tadi nggak habis, soalnya udah dingin, nggak enak,” atau “Ibu, tadi bekalku tumpah di tas, soalnya tempat makannya kebuka” atau “Ibuuu, tadi kenapa makanannya semua kecampur jadi satu?”

Duuh, drama banget nggak sih? Sudah capek-capek masak, anak udah happy dengan pilihan menunya, tapi malah nggak kemakan. Kalau begini, saya akhirnya sangat concern dengan pemilihan wadah makanan dan minuman yang digunakan. Jangan sampai karena Bumi mau pakai tempat makan atau minum yang ada gambar tokoh favoritnya, terus saya jadi melupakan faktor penting lainnya. Saya menganggap wadah makanan dan minuman itu ibarat investasi. Harus aman dan kuat.

Nggak apa deh membeli yang harganya lebih mahal asal kuat, aman dan bisa menjaga higienitas. Karena gimanapun, kan, makanan dan minuman itu akan masuk ke dalam tubuh Bumi dan mempengaruhi kesehatannya.

Tapi sekarang saya nggak perlu khawatir lagi karena ada Thermos JBC 801 yang punya 3 wadah penyimpanan untuk menyimpan beberapa bekal yang berbeda secara terpisah. Saat makan, jadi nggak perlu drama karena kualitas makanan masih terjaga.

Soalnya, Thermos sudah menggunakan isolasi vakum yang merupakan solusi terbaik untuk menjaga kualitas dan rasa makanan serta minuman. Suhu makanan, yang panas atau dingin bisa tetap terjaga.

Lagian, siapa sih yang nggak kenal dengan brand Thermos? Brand ini sudah hadir lamaaaaaa banget lho di Indonesia, sejak tahun 1904!!! Bahkan usianya lebih tua dari orangtua saya :D.

Nah, kalau mommie nggak mau mengalami drama seperti saya, anak nggak mau makan bekalnya atau malah jadi menolak untuk bawa bekal ke sekolah, coba ganti wadah makanannya dengan Thermos JBC 801, deh. Selain memang harus kreatif mencari menu makanan, saya pun menyerahkan kepada Thermos untuk menjaga kualitas makanan dan minuman yang dibawa Bumi agar tetap terjaga.

Oh, ya, untuk varian produk Thermos seperti yang dipakai Bumi bisa di cek di www.thermos.co.id atau bisa lihat di Facebook fanpagenya di Thermos Indonesia, ya, mommies.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment