4 Hal yang Saya Pelajari dari Kasus First Travel

Kalau saya kemudian membuat tulisan ini, bukan karena latah ikut-ikutan. Tapi kasus ini benar-benar membuka mata dan memberikan pelajaran bagi saya sebagai seorang perempuan dan seorang ibu.

“Kok bisa ya, mereka tidur nyenyak setiap malam?”

Kalimat ini sering kali saya lontarkan saat membaca, menonton atau sedang berdiskusi dengan rekan kantor, tentang kasus First Travel yang menjadi headline di berbagai media cetak, maupun online. Ya gimana nggak, Biro perjalanan haji dan umrah, First Travel punya utang tak kurang dari 800 milyar, tercatat dari hasil laporan di Bareskrim hingga Agustus lalu, menelantarkan setidaknya 1.200 calon jamaah haji.

Sudah mengambil ribuan hak orang lain yang mau menunaikan ibadah umrah, kok ya masih bisa hidup, makan dan tidur dengan tenang? Andika Surachman, Anniesa Hasibuan dan Siti Nuraidah Hasibuan telah ditetapkan sebagai tersangka pada 22 Agustus lalu di Bareskrim, atas keterangan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto. Mereka bertiga, harus siap menukar gaya hidup mewahnya dengan dinginnya kamar penjara, belum lagi sanksi sosial yang mereka dapatkan.

4 Hal yang Saya Pelajari dari Kasus First Travel - Mommies Daily

Suami saya, sempat meliput aduan sebagian para korban yang berdialog dengan perwakilan Komisi VIII dan Fraksi PPP di Kompleks Parlemen, Jakarta, 18 Agustus yang lalu. Dia cerita, hampir semua menitikkan air mata, bercampur  marah, saat menceritakan kronologis kejadian, hingga menjadi korban penipuan First Travel. Rata-rata mereka kepincut ongkos umrah yang hanya dipatok Rp 14,3 juta.

Padahal Kementerian Agama dan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) telah menetapkan biaya minimal, sebesar 1.700 dolar AS, atau senilai Rp 22 juta. Terpaut Rp 7,7 juta!

Polisi mengendus ketiga tersangka memainkan skema Ponzi dalam menjalankan bisnisnya, sejak 2009 lalu. Skema Ponzi, sederhananya, adalah metode gali lubang tutup lubang. Sementara menurut Wikipedia, skema Ponzi diartikan modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh dari individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini.

Dari berminggu-minggu kasus ini bergulir, saya merangkum empat pelajaran berharga. Yang mungkin, juga bisa berguna untuk mommies, minimal sebagai tindakan preventif. Baik dari segi teknis soal haji dan umrah, sekaligus value of life, yang bisa diambil

1. Harga murah bukan jaminan

Iya sih memang, beberapa orang mengaku sudah pernah berangkat umrah menggunakan biro haji dan umrah yang terganjal masalah ini. Namun, perbedaan harga mencolok yang sempat saya sebutkan di atas, (IMO) bisa dijadikan indikasi awal, ada sesuatu yang janggal. Dari hasil pencarian saya, melalui aplikasi pembelian tiket online pesawat. Harga tiket dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara King Abdulazis, Jeddah, sekali jalan 5-10 juta. Itu artinya, jika kita menggunakan rate harga tengah, 7 juta. Berarti (HANYA) untuk ongkos pesawat satu orang return, sudah menghabiskan Rp 14 juta! Belum visa, biaya penginapan, catering, seragam umrah, dan printilan biaya lainnya. Ngga heran kan, pemerintah mematok standar ongkos umrah sebesar Rp 22 juta?

 2. Punya mimpi yang terukur

Standar hidup mengartikan bahagia, kaya, makmur, mapan dan semua yang berbau kepuasan duniawi setiap orang berbeda-beda, ya. Tinggal disesuaikan saja dengan kemampuan kita. Mengutip pernyataan dari Ligwina Hananto, Financial Planner dari QM Financial, yang pernah berkunjung ke kantor Female Daily Network, intinya kalau punya mimpi, (misalnya) punya rumah. Ya, boleh saja. Tapi juga harus tahu diri. Mimpi punya rumah di daerah Menteng, tapi gaji? Ya, so so, saja. “Mimpi boleh, tapi sebaiknya tetap berpijak sama bumi,” ujar Ligwina.

3. Bersyukur tetap jadi obat mujarab dari hijaunya rumput tetangga

Si A baru beli tas branded, si B baru plesiran keliling Eropa, si C ganti mobil baru. Memang mommies tahu isi hati mereka? Bahagia atau nggak? Atau sebetulnya, sama pasangan masing-masing mereka dibebaskan nggak untuk berkarya apapun yang disuka? Tampilan boleh saja “mentereng”, tapi tetap sih, untuk saya pribadi yang jadi tolak ukur kebahagiaan ada di hati masing-masing.

4. Gunakan prinsip padi, “Makin berisi makin merunduk”

Selama kasus ini diperbincangkan di social media, muncul foto dan artikel yang membandingkan gaya hidup glamour Andika Surachman tersangka kasus First Travel dengan tampilan hidup Mark Zuckerberg pendiri Facebook dan pasangannya, yang sangat sederhana. Padahal aset kekayaan mereka berdua bagaikan langit dan bumi :D. Di lingkungan terdekat saya atau mommies, pernah juga kan menemukan pemandangan serupa? Saya pribadi lebih salut dengan orang yang kaya ilmu atau harta, tapi tetap bersahaja, baik dalam tindakan atau penampilan.

“People know you’re good, If you are good” -NN


Post Comment