Siapa Bilang Perempuan Dilarang Punya Kartu Kredit?

Kebanyakan orang akan bilang perempuan punya kartu kredit itu ‘haram’, harus dijauhi demi kesehatan keuangan rumah tangga. Betulkah?
Kalau buat saya yang haram adalah bayar tagihan kartu kredit dengan minimal payment, karena itulah yang bikin hutangnya menumpuk. Kalau tiap tagihan selalu kita bayar lunas, apalagi sebelum jatuh tempo, maka sebetulnya kita sudah pakai kartu kredit tanpa harus keluar ongkos apapun.

Tetap harus bayar annual fee?
Biasanya tahun pertama kita akan diiming-imingi bebas annual fee. Lalu bagaimana tahun kedua? Hehe, kalau kita rutin pakai si kartu, saat ditagih annual fee kebanyakan penyedia kartu kredit akan membolehkan menghapusnya kalau kita minta. Ketimbang kehilangan nasabah aktif dengan pembayaran lancar, mending digratisin, dong, ya *wink.
Kartu Kredit - Mommiesdaily
Rutin pakainya juga nggak perlu transaksi besar kok, sekadar dipakai waktu mampir ke supermarket waktu ada yang habis di tengah bulan juga cukup. Bagi saya menggunakan kartu kredit masih sangat menarik dan malah membantu keuangan. Contohnya:
1. Cicilan. Meski nggak semua orang suka sistem cicilan, tapi harus diakui masyarakat Indonesia ini kalau beli apa-apa sukanya dicicil. Bahkan di kalangan ekonomi bawah, mereka lebih pilih mencicil 5.000 rupiah per hari ketimbang 150 ribu per bulan. Apalagi kartu kredit menawarkan cicilan tanpa bunga alias yang harus dibayar ya senilai barang yang dibeli. Lumayan ‘kan, jadinya nggak harus keluar uang banyak sekaligus.
2. Diskon. Diskon langsung sekian persen di toko partner.
3. Reward. Biasanya pembelanjaan menggunakan kartu akan dikonversi ke poin, lalu kumpulan poin ini bisa ditukar voucher belanja.
4. Benefit: promo berbagai langganan jasa, bayar 8 bulan gratis 4 bulan.
5. Billing rapi. Pembelanjaan jadi tercatat rapi, lokasi, tanggal, dan jumlah belanjanya. Nggak perlu repot mencatat setiap transaksi kalau sudah pakai kartu kredit.
6. Cashless. Nggak perlu bawa-bawa uang tunai yang bikin dompet tebal dan diincar penjahat.
7. Antar mata uang. Kalau sedang traveling pakai kartu kredit tidak perlu pusing tukar duit. Tapi pastikan menggunakan kartu yang nilai tukar valuta asingnya bagus, ya.

Tapi mengapa banyak orang terlilit hutang kartu kredit sampai puluhan bahkan ratusan juta?

Yang pertama seperti yang sudah saya tulis di atas tadi, kebiasaan membayar minimal payment. Karena minimal payment biasanya 10% dari pembelanjaan atau minimal 50 ribu rupiah, maka sisa pembelanjaan yang belum terbayar akan terkena bunga, dan bunganya ini harian. Kalau terus menumpuk lama-lama lebih besar bunganya ketimbang nilai belanjanya.

Jangan lupa juga dasar dari prinsip keuangan, bahwa yang dibelanjakan harus lebih sedikit dari pemasukan. Jadi jangan terjebak limit kartu yang besar, ya. Tetap harus diingat bahwa limit itu bikinan bank, bukan jumlah uang yang bisa kita habiskan.
Pakailah kartu kredit seperti kartu debit, sekali ditagih langsung lunasi. Bedanya cuma bahwa kita bisa mengulur waktu pelunasan. Kalau perlu, minta pihak bank menurunkan limit sesuai kemampuan kita. Bisa, kok, ini dilakukan. Saya sendiri masih punya kartu kredit yang limitnya hanya empat juta rupiah, lho. Jadi otomatis membantu mengerem pembelanjaan juga, kan.
Meminjam istilah Ibu Dessy Masri, Executive Director Cards And Payments Bank UOB, kita harus jadi smart woman as credit card user. Jadi kitalah pengguna dan pemegang kontrol kartu kredit, bukan sebaliknya, kita yang dikontrol oleh kartu.
Bisa? Tentu bisa!

Post Comment