Pentingnya Mengenalkan Budaya dan Tradisi (Idul Adha) Pada Si Kecil

Setuju nggak kalau saya bilang anak zaman sekarang kurang memahami dan mengenal budaya bangsanya sendiri? Termasuk tradisi yang berkaitan dengan perayaan Idul Adha di Indonesia? Padahal menanamkan nilai budaya seperti ini akan berpengaruh pada pembentukan karakter saat anak dewasa nanti, lho!

Mas Bumi, mau kerak telur nggak?” tanya saya ketika sedang jalan-jalan ke Kota Tua.

Kerak telur itu apa, Bu?” tanya anak saya lagi.

Mendengar jawaban saya dibalas dengan pertanyaan seperti ini, saya kok, jadi kesentil ya? Maksudnya, saya jadi berpikir ulang, apakah selama ini saya sudah cukup mengenalkan ragam budaya pada anak saya? Lah wong, dengan makanan khas Jakarta, tempat ia lahir dan tumbuh besar saja nggak tahu, bagaimana dengan budaya dan tradisi yang lain? Yang jumlahnya mungkin ribuan.

Menurut saya mengenalkan budaya dan tradisi pada anak itu memang penting karena tanpa disadari akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian dan karakter anak ketika ia sudah dewasa. Kalau anak sudah punya perasaan mencintai tradisi dan budaya yang diwariskan turun menurun, anak-anak jadi punya identitas dan bisa belajar akan keragaman, sehingga bisa menumbuhkan nilai moral pada anak.

Lagi pula, kalau bukan kita sendiri yang menularkan dan mengenalkan pada anak-anak, siapa lagi, dong? Toh, sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan. Bisa dimulai dengan menjadi teladan di rumah. Saat anak melihat kalau kita menghargai dan mencintai budaya, harapannya bisa ‘menular’ ke anak.

IMG_3550

Sebelum mengenalkan budaya dan tradisi bangsa secara luas, menurut saya sebuah keluarga juga perlu punya tradisi. Hal sederhana yang dilakukan bersama-sama sehingga bisa memberikan kehangatan, dan tentunya bonding antar anggota keluarga. Nah, momen Idul Adha seperti sekarang juga sering saya manfaatkan.

Tentu saja dimulai dengan mengenalkan dan melakukan tradisi keluarga lebih dulu. Biasanya, sih, jauh hari, saya dan suami sudah mengajak anak saya, Bumi, mulai menabung untuk membeli hewan kurban. Sejak kecil, Bumi paling senang kalau diajak memilih hewan kurban yang akan dibeli keluarga.

Apalagi kalau ia ingat, hewan kurban yang akan dibeli akan diolah jadi makanan kegemaran keluarga kami. Dibikin sate, digulai atau dibuat tongseng. Nyuuumiee! Kumpul keluarga sambil makan siang di hari Raya Idul Adha memang jadi salah satu tradisi keluarga besar. Jadi momen ngangenin karena Mama saya selalu membuat sajian istimewa yang menggunakan kecap Bango. Kata Mama saya, sate atau tongseng kambing yang ia buat berdasarkan resep warisan yang diperoleh dari almarhumah nenek.

Katanya lagi, kalau bikin sajian seperti sate atau tongseng nggak afdol kalau nggak pakai kecap Bango. “Rasanya jadi khas, karena Kecap Bango itu nggak cuma bikin makanan jadi manis saja, tapi juga lebih lezat,” begitu kata Mama saya.

IMG-20170902-WA0002

Setahu saya Kecap Bango memang sangat concern dan mendukung sajian khas daerah. Rasanya, sudah nggak perlu diragukan lagi kalau Kecap Bango sangat peduli dengan tradisi dan budaya Indonesia. Setidaknya, saya pribadi dan mama juga mengakui kalau banyak mendapatkan inspirasi resep dari Bango. Apalagi sekarang juga gampang banget kalau mau nyontek beragam resep warisan nusantara, bisa langsung saja cek ke http://www.bango.co.id, ya.

Berhubung saya masih tergolong koki amatiran, ilmu masaknya masih jauh di bawah mama, dengan adanya kumpulan resep dari Bango ini sangat membantu. Biar bagaimanapun, sebagai ibu sekaligus istri saya juga punya keinginan untuk bisa membuatkan makanan istimewa untuk keluarga, khususnya seperti di Hari Idul Adha.

Harapannya, sih, anak dan suami bisa kangen dengan makan rumahan yang dibuat sama ibunya. Melihat mereka menyantap lahap makanan yang kita olah, bahagianya bukan main. Beberapa waktu lalu, saya sempat praktik salah satu resep Bango, yaitu iga kambing bakar kecap aroma jeruk.

Begitu tahu saya masak menu iga kambing, Bumi girang bukan main. Bolak balik ke dapur dan tanya, “Sudah matang belum, bu?”. Kebetulan, anak saya memang penggemar iga. Nggak heran, begitu matang anak saya langsung minta makan. Bahkan sampai nambah, hahahaha.

Wah, saya malah jadi nggak sabar mau coba praktik resep yang lain yang ada di  http://www.bango.co.id lalu menyantap bersama keluarga. Buat saya sih, makan bersama keluarga harus dijadikan tradisi.

 


Post Comment