5 Kebiasaan Orangtua, yang Sering Bikin Dokter Anak GEMAS!

Ada 5 kebiasaan sebagai orangtua, yang sebenarnya bikin para dokter anak gemas. Ummm sebaiknya, sih, juga segera dihentikan…waah, apa saja ya?

“Duuuh, kok panasnya tinggi banget, ya Jordy?”

“Jordy belum pup seminggu lebih nih, gimana, ya?”

Kira-kira, dua pertanyaan itu yang pernah saya lontarkan ke pasangan, saat beberapa bulan menyandang status orangtua. Sekecil apapun kejanggalan yang Jordy alami, reaksi pertama saya panik duluan, mungkin belum banyak ilmu yang saya serap dan belum gabung di Mommies Daily, hahaha.

5 Kebiasaan Orangtua, yang Sering Bikin Dokter Anak GEMAS! - Mommies DailyImage: www.ims.uniklinik-freiburg.de

Atau pernah nggak sih, mommies, dikit-dikit Googling tentang segalaaaa hal yang berkaitan dengan kesehatan anak? Bukannya bertanya langsung ke ahlinya, supaya lebih valid. Saya pribadi akui, sempat melakukan itu, tapi sebatas mencari tahu, sebetulnya gejala awal yang Jordy alami berupa nggak pup sekian hari, dan mendekati ke situasi apa. Nggak langsung memutuskan, obat tertentu yang harus Jordy konsumsi.

Tapi bener, deh. Rasanya kaki langsung lemes kalau tahu ada yang nggak beres dengan kesehatan anak, maklum deh, ya, namanya orangtua. Suka reflek agak gemetaran malah. *ini lebay, nggak, sih?.  Ternyata salah satu kebiasaan yang sempat saya ceritakan tadi, jadi kebisaan yang bikin gemas para dokter spesialis anak. *upsss!

Dari dr. Meta Hanindita dari RSUD Dr Soetomo Surabaya saya mendapatkan 5 jawaban lainnya, yang juga hasil pengamatan dia di lingkungan kerjanya, sesama dokter spesialis anak. Buat mommies yang merasa pernah melakukan salah satunya, jangan baper, ya…hahaha. Kan sekaligus memacu orangtua, supaya selalu update ilmu soal kesehatan, tapi dengan cara yang cerdas, (misalnya) nggak memandang temuan di internet itu sebagai alasan satu-satunya membuat keputusan. Soalnya hari gini, tahu sendiri, kan. Makin banyak orang-orang yang dengan sadar memamerkan kebodohan si di social media.

1. Orangtua lulusan “UGM” alias Universitas Google Mandiri.

Betul memang di zaman yang makin canggih seperti ini, informasi beredar dengan mudahnya dan dengan pesatnya. Masalahnya, sumber informasi di internet TIDAK SEMUA bisa dipercaya. Ada yang memang reliable seperti di website resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia atau WHO misalnya, tapi banyak juga yang tidak. Banyak orangtua yang jadi antivaksin misalnya, hanya karena mendapat informasi dari internet hasil “UGM” tadi, yang ternyata HOAX. Sebaiknya sih, kalau membaca informasi di dunia maya, coba klarifikasi dulu dengan dokter betul atau tidaknya.

2. Konsultasi di social media.

Sekali lagi, karena kecanggihan teknologi, saat ini mudah sekali berkomunikasi dengan spesialis anak. Tinggal komentar di Facebooknya, atau inbox akun Instagramnya, atau email saja bisa deh. Masalahnya, mungkin orangtua perlu mengingat kalau dokter spesialis anak BUKAN dukun hehe. Kami tidak bisa mendiagnosis apalagi memberikan advis terapi obat TANPA memeriksa sendiri pasiennya. Kalau ternyata masukan yang diberikan salah bagaimana? Yang salah siapa?

3. Terlalu gampang terbawa tren.

Lagi-lagi akibat teknologi (kasian juga teknologi disalahkan melulu, hehe), tapi orang yang terlalu mengandalkan social media menurut kami jadi gampang sekali terpengaruh. Melihat seleb BLW jadi pingin. Sebetulnya kalau tren yang diikuti baik (beberapa tahun lalu menyusui pernah jadi populer sekali misalnya), ya Alhamdulillah, kami ikut happy. Tapi kalau yang diikuti begitu saja karena sedang tren tanpa mengetahui benar tidaknya atau bagaimana sebaiknya, hmmm sedih juga ya, kami melihatnya.

4Request antibiotik saat tidak diperlukan atau sebaliknya, menolak antibiotik saat diperlukan.

Ini sering banget kejadian. Katanya sih pro RUM (Rational Use of Medicine) alias penggunaan antibiotik yang rasional. Padahal, penggunaan antibiotik yang rasional TIDAK SAMA dengan menolak antibiotik lho. Jika memang infeksi bakteri, antibiotik tetap dibutuhkan. Demikian pula sebaliknya, kadang hanya common cold saja langsung minta antibiotik. Katanya biar cepat sembuh, padahal tidak ada hubungannya hehe.

5. Suka terapi anak sendiri tanpa konsultasi ke dokter.

Yang paling gampang deh, beli antibiotik, yang seharusnya atas resep dokter, sendiri. Ini sebetulnya juga mengherankan kenapa di Indonesia banyak banget apotek yang menjual bebas antibiotik tanpa resep. (di e-commerce juga banyak, lho!). Atau me-nebul (menguap dengan alat nebulizer menggunakan obat)  anak sendiri di rumah tanpa sebelumnya berkonsultasi ke dokter. Padahal seringkali sebetulnya terapi antibiotik tadi atau nebulisasi tadi tidak diperlukan.

Terima kasih dokter Meta, yang berbaik hati mau curhat. Dan ternyata 5 dari jawaban dokter Meta, akar permasalahannya, ada di social media. Jadi, yaaa mulai sekarang, sebagai orangtua lebih bijak lagi menggunakan social media, untuk kebaikan anak, nggak ada salahnya, dong?


Post Comment