Sebagai Ibu, Penyesalan Apakah yang Anda Pilih?

Ditulis oleh: Gita Damayana

Kisah setumpuk penyesalan sebagai ibu, dan bagaimana mengubahnya agar menjadi ibu yang lebih bertanggung jawab.

Mari berbicara soal penyesalan seorang ibu. Si sulung tahun depan masuk SMA, anak tengah pada waktu yang bersamaan lulus SD harus mencari SMP, sementara si bungsu naik kelas 6 SD. Sebagai ibu, selesai sudah masa saya bergadang malam, gelisah karena sebentar lagi menyapih atau sibuk mempersiapkan MP-ASI. Semua persyaratan minimal gizi anak sudah saya tempuh dengan sebaik-baiknya; anak-anak saya ASI ekslusif dan MP-ASI mereka homemade. Namun, sayangnya pada masa-masa itu, belum ada media sosial yang bisa membuktikan rekam jejak saya sebagai ibu.

Sebagai Ibu, Penyesalan Apakah yang Anda Pilih? - Mommies Daily

Tulisan ini tidak bermaksud mencibir pada para ibu millenials yang senang mendokumentasikan aktivitas mereka bersama bayi dan balita. Bahkan jauh dari itu, pendokumentasian itu sangat baik untuk saling menakar seberapa berusaha seorang ibu berusaha memberikan yang terbaik bagi si kecil. Ketika saya berbicara soal penyesalan di atas, yang saya maksud sebetulnya adalah sesal sebagai seorang ibu, namun saya tidak berusaha lebih kuat lagi.

Sesal saya untuk si sulung adalah MP ASI-nya bukan makanan natural dari alam, melainkan biskuit bayi yang penuh gula. Sesal untuk si nomor dua adalah usai ASI-ekslusifnya saya berangsur-angsur memberikan susu formula karena kehamilan anak ketiga. Untuk si bungsu, sesal saya adalah kurang teliti mengawasi pengasuh ketika mencuci rambutnya ketika keramas, sehingga di kepalanya suka ada bekas luka garukan karena gatal. Setiap ibu, bila mereka jujur pada dirinya sendiri, memiliki daftar penyesalannya masing-masing.

Namun satu hal yang saya tidak sesali. Yaitu menuntaskan bacaan mengenai petunjuk kehamilan (ini acuan saya) paralel dengan buku bagaimana merawat serta mengurus bayi. Bermodalkan dua buku ini, lawan saya adalah mereka yang memberikan nasihat kehamilan atau mengurus bayi tanpa saya minta. Tentu saja niat orang-orang ini baik namun menurut hemat saya, yang terpenting bagi seorang ibu adalah tanggung jawabnya atas kondisi anaknya. Tanggung jawab berasal dari pengetahuan yang memadai. Ketika kita memutuskan memberikan pisang sebagai makanan pertama MP-ASI mereka, saat kita mengukus ubi jalar untuk snack sore dan saat kita menyimpan ASI perah di freezer; apakah itu pilihan terbaik buat anak-anak kita?

Tak pernah seorang ibu hidup dalam keadaan lebih menguntungkan selain di abad 21. Apalagi anda, para (calon) ibu yang sedang membaca tulisan ini. Maafkan bila dugaan saya salah, tapi kemungkinan besar anda tinggal di kota besar, bekerja di luar rumah, melek teknologi serta lulusan perguruan tinggi.  Sesal apakah yang akan anda miliki sebagai ibu kelak? Sebisanya, seminimal mungkin. Semoga, sebatas makan mie instan dan makan snack penuh MSG seminggu sekali.

Penyesalan yang saya bisa bayangkan adalah di masa ketika semua orang menampilkan rutinitas pribadinya di sosial media, kita mengambil mereka sebagai teladan. Untuk semua yang mereka suapkan pada bayi mereka, semua teknik membesarkan anak yang mereka perlihatkan di feed media sosial serta penolakan pada teknologi yang mereka tebar. Tingkat harapan hidup manusia pada tahun 1930 adalah 60 tahun, tahun 1955 adalah 70 tahun dan kini mencapai 80 tahun lebih. Semua capaian ini adalah berkat sains dan teknologi. Berhubung anda adalah (calon) ibu Indonesia cerdas, silakan cek angka-angka yang saya tulis di atas.

Otoritas sains dan keilmuan berbicara atas data; bukan sebatas contoh anekdotal. Contoh anekdotal bersandar pada kalimat semacam “Tapi anaknya si X nggak apa-apa tuh…”.

Sebagai ibu, tugas kita adalah memilki kepemilikan utuh akan apa yang kita berikan pada anak-anak. Ketika kita memutuskan untuk berhenti memberikan ASI dan beralih ke susu formula, apakah pengetahuan dan motif bisa kita pertanggungjawabkan ke anak serta diri sendiri? Saat kita menolak memberikan obat pada anak dan mengandalkan pengobatan alternatif, apakah pengetahuan kita tersebut berlandaskan bukti kegagalan ilmu kedokteran modern dalam menyembuhkan manusia? Ketika kita bersitegang menolak vaksinasi bagi anak apakah kita bisa mempertanggungjawabkan penolakan tersebut apabila sejarah membuktikan vaksin menyelamatkan jutaan bayi dari kematian?

Mari menolong diri dan anak-anak kita dengan mengandalkan otoritas keilmuan teruji seperti WHO dan ikatan profesi medis (silakan pilih, PB-IDI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), atau American Academy of Pediatrician. Sementara untuk tantangan membesarkan anak secara psikologis, bukankah lebih baik berkonsultasi langsung dengan psikolog klinis yang memiliki ijin praktik ketimbang mendengar selebriti?

Sebagai ibu, posisi kita harus terang, jelas dan tegas dalam menyaring pengetahuan. Ibu memiliki posisi sentral dalam menentukan apa dan bagaimana anak mengonsumsi makanan serta obat-obatan. Apa yang akan kita katakan pada diri kita sendiri ketika pengetahuan soal makanan anak-anak kita hanya sebatas popularitas feed media sosial atau dari pencarian ringan di Google? Alasan selalu bisa dicari bahwa kita sudah lelah bekerja dan mengurus mereka sehingga waktu terbatas untuk membaca lebih runtut lagi dari sekedar sosial media.

Tapi penyesalan selalu datang belakangan. Ketika mereka terbaring dengan potensi lumpuh, sesal kita akan menggugat mengapa yang kita andalkan hanya pengetahuan seseorang yang populer di sosial media mengenai tubuh memiliki antivirus alami sehingga mampu menolak polio. Ketika dokter UGD dengan tutur halus menyebutkan perlu ada tindakan segera untuk menyelamatkan organ pencernaan mereka, sesal yang keluar adalah seandainya kita lebih konservatif mengikuti petunjuk WHO dalam memperkenalkan makanan padat pada anak.

Sebagai ibu yang telah menapaki langkah para perempuan millenials ini bertahun-tahun lewat, semoga penyesalan yang anda alami hanya sebatas memberi mie instan secara sporadis. Sambutlah sains dan ilmu pengetahuan dari lembaga dengan rekam jejak teruji, selalu terapkan diskon pada trend kesehatan terbaru. Cara konvensional dalam membesarkan serta merawat anak terkesan membosankan, namun sejarah membuktikan bahwa pendekatan ini lebih teruji menyembuhkan umat manusia.


Post Comment