Waspada Risiko Cedera Serius Anak di Bawah 6 Tahun Saat Bermain Trampolin

Risiko bermain trampolin untuk anak di bawah 6 tahun, bisa menyebabkan berbagai macam cedera serius. Di antaranya kelumpuhan dan kerusakan otak.

Saya akui fakta di atas yang saya tuliskan, memang bikin was-was orangtua sih. Secara permainan indoor atau outdoor untuk anak-anak sekarang banyak yang menyediakan permainan trampolin. Permainan ini sekaligus bisa jadi ajang olahraga, karena banyak melibatkan fisik. Di balik keseruan dan manfaat yang ditawarkan permainan trampolin, ternyata ada hal yang mesti diwaspadai. Terutama keselamatan fisik si kecil.

Waspada Risiko Cedera Serius Anak di Bawah 6 Tahun Saat Bermain Trampolin - Mommies DailyImage: www.rummelinsurance.com

Nggak heran American Academy of Pediatrics dan American Academy of Orthopedic Surgeons, menyarankan permainan ini dilakukan oleh anak yang berusia setidaknya 6 tahun. Bahkan data di IGD Amerika Serikat, tercatat ada 91 ribu kasus kecelakaan pada anak-anak gara-gara bermain trampolin (2010-2014). Cedera yang sering terjadi, di antaranya cedera kepala, tulang, keseleo dan yang kategori parah, ada yang mengalami kelumpuhan, kerusakan otak dan berujung meninggal dunia.

Itu tadi pandangan dari para expert di Amerika Serikat. Ternyata sudut pandang yang sama saya dapatkan dari Mury, S.Pd M.Si, Ketua Umum ANOKI (Asosiasi Nutrisionis Olahraga dan Kebugaran Indonesia) dia bilang risiko paling besar yang akan dihadapi seorang anak yang belum cukup usia ketika bermain trampolin adalah “Keseimbangan yang belum baik, misalnya di bawah 6 tahun memungkinkan anak tidak dapat menjaga keseimbangan di trampolin yang membuatnya jatuh, terkilir, benturan dan sebagainya yang memungkinkan terjadinya cedera.”

Mas Mury menyarankan usia yang aman untuk bermain trampolin, adalah anak usia sekolah, di atas 6 tahun. Pada usia tersebut tulang-tulang anak semakin kuat dan  keseimbangan anak sudah semakin baik. Anak yang keseimbangannya kurang baik karena masih terlalu kecil berisiko jatuh atau cedera.

Meski sudah cukup usia, Mas Mury mengingatkan orangtua dan pelatih untuk selalu mendampingi si kecil. “Trampolin yang dilakukan dengan terlalu bersemangat dapat membuat sendi-sendi anak mengalami titik berat yang luar biasa dan apabila posisi atau postur anak tidak baik dapat menyebabkan terkilir atau cedera lain yang lebih parah. Terlebih pada anak yang memiliki berat badan berlebih, sangat disarankan adanya pendamping,” jelas Mas Mury kepada Mommies Daily.

Jangan juga jadi terlalu parno, ya, mommies. Karena di sisi lain permainan ini juga ada manfaatnya kok. Seperti yang pernah saya tulis di artike 10 Manfaat Olahraga di atas Trampolin. Tapi tetap diperlukan tindakan pecegahan untuk meminimalkan risiko. Mas Mury punya beberapa kiat agar keselamatan si kecil tetap yang utama selama bermain trampolin.

  1. Mulai dengan pemanasan dan latihan peregangan dengan perhatian khusus pada sendi engkel dan sendi lutut.
  2. Lakukan latihan tungkai di bawah (sebelum masuk ke trampolin) agar otot tungkai siap untuk melakukan kontraksi d trampolin.
  3. Mulai dengan gerakan-gerakan sederhana sebelum meningkat ke gerakan selanjutnya yang agak sulit.
  4. Berikan perhatian lebih kepada anak yang tandem atau tidak sendirian berada di dalam trampolin. Karena adanya risiko terbentur antara anak satu dengan yang lainnya.
  5. Setiap 10-15 menit beri jeda anak untuk istrahat sejenak sambil minum agar konsentrasi tetap terjaga dan risiko cedera terhindarkan.

Jadi, jangan parno namun tetap waspada :).


Post Comment