Kiat Memupuk Rasa Ingin Tahu pada Anak

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Suka kesal saat anak nanyaaaaaa terus-terusan? Tahan dulu kesalnya, karena rasa ingin tahu pada anak itu malah sebenarnya bagus, kok :D.

“Bu, kenapa sih harus vaksin MR?”

“Apa itu Rubella?”

“Nggak bisa diganti dengan obat yang diminum saja?”

“Bakteri apa yang dimasukin ke tubuhku lewat vaksin MR?”

Beberapa pertanyaan yang diajukan anak saya, Pi (10) pada malam menjelang pelaksanaan imunisasi MR di sekolahnya. Saya yang tahunya cuma sepintas, mau tidak mau harus browsing supaya bisa menjawab pertanyaan anak.

Kiat Memupuk Rasa Ingin Tahu pada Anak - Mommies Daily

Anak sejak bayi, terlahir sebagai pembelajar. Mereka punya keingintahuan yang sangat besar tentang segala sesuatu di sekitarnya. Semakin besar rasa keingintahuan seorang anak, semakin banyak hal yang ia pelajari. Menumbuhkan rasa keingintahuan anak adalah salah satu cara paling penting yang perlu ditanamkan pada anak.

Menurut Zero to Three, lembaga nirlaba yang memfokuskan diri pada tumbuh kembang anak, ada beberapa tip yang bisa dilakukan oleh para orangtua untuk bisa memupuk rasa keingintahuan anak.

Mengenalkan anak pada lingkungan alam di sekitarnya
Saat berjalan-jalan, ajak ia untuk lebih mengenal tentang pepohonan, sungai, gunung, langit, dan bintang-bintang. Semakin anak mengenal alam, semakin terbuka rasa penasarannya pada misteri alam di sekitarnya.

Ikuti imajinasi dan minat anak
Anak-anak belajar lebih banyak melalui kegiatan yang menarik perhatian dan imajinasi mereka. Jika dia suka musik, sering-sering putarkan musik untuknya atau mainkan instrumen bersama. Jika ia suka dinosaurus, berikan ia bacaan-bacaan tentang binatang purba dan bacakan ke anak.

Jawablah pertanyaan secara sederhana, jelas dan sesuai perkembangan anak
Pertanyaan seperti, dari mana bayi berasal, tentu jawabannya akan berbeda bagi anak berusia tiga atau tiga belas tahun. Sebelum menjawab pertanyaan semacam ini, tanya balik ke anak, apa pendapat mereka.

Sering-sering merangsang anak dengan pertanyaan terbuka
Yakni pertanyaan yang jawabannya bukan benar atau salah, dan tidak dapat dijawab hanya dengan satu kata seperti “ya” atau “tidak”. Misalnya saja, pertanyaan seperti “Bagaimana perasaanmu setelah kucingmu melahirkan”, “Seperti apa pengalamanmu divaksin kemarin?”, dan sebagainya. Pertanyaan semacam ini mendorong anak untuk mengembangkan pikiran dan gagasannya.

Tidak segan mencoba hal baru
Bisa berupa mencoba menu baru, aktivitas baru, piknik ke tempat yang belum pernah dikunjungi, menemukan cara baru untuk membersihkan rumah, dan sebagainya.

Bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan anak
Seringkali anak bertanya pada waktu yang tidak pas. Ketika kita sedang ribet dengan hal lain. “Kamu nggak lihat ibu lagi masak”, “Nanya mulu!”, “Nggak tahu, ah!” Jawaban yang seakan ‘memarahi’ anak karena bertanya, bisa berakibat menurunnya antuasiasme anak untuk bertanya. Sikap ini juga bisa menumpulkan rasa penasaran anak. Usahakan kalau tidak menjawab saat itu juga, tunjukkan kesediaan Anda untuk menjawabnya setelah Anda menyelesaikan kesibukan.

Baca juga:

Bu, Narkoba Itu Apa, Sih?

Jika Anda tidak tahu jawabannya
Nah, ini yang sering saya alami. Misalnya, saat anak bertanya, apa ibukota Madagaskar. Duh! Mana saya tahu. Seringkali tanpa sadar, saya menyuruhnya untuk “Googling saja sendiri”, atau, “Coba lihat Youtube, gih! Kan, itu juga gunanya Youtube!” Idealnya sih, selain anak mencari jawaban, kita juga ikut membaca apa yang mereka buka sehingga bisa belajar bareng.

Baca juga:

4 Langkah Bebas Khawatir Saat Anak Menikmati Konten Youtube

Jadi, jangan malah anak disuruh diam ya saat mengajukan pertanyaan bertubi-tubi. Ingat, nggak hanya si kecil yang belajar, kita juga bisa belajar banyak hal dari sini.

Baca juga:

Sudahkah Kita Bertanggung Jawab dengan Pola Asuh yang Kita Terapkan?


Post Comment