Bercerai Karena Pekerjaan, Mungkinkah?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Women can’t have it all. Mau karier sukses atau keluarga bahagia? Pilih salah satu. Saya sangat menentang pendapat ini, bahwa wanita karier yang ingin sukses, rumah tangga tak akan bahagia. Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai ketika pekerjaan bisa membawa rumah tangga di ujung tanduk.

Saya teringat dengan seorang teman. Ia adalah breadwinner keluarga, karena suaminya menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Sembari menyelesaikan tesis, suami juga menjadi bapak rumah tangga yang bertanggung jawab mengasuh anak yang masih bayi. Selepas tesis, suami tak pernah bekerja kantoran dan melakukan pekerjaan sebagai freelancer. Beberapa tahun kemudian, teman saya bercerai. Hal yang sudah saya duga, sebab sejak dulu teman sudah sering curhat tentang pertengkarannya dengan suami. Seputar keuangan keluarga, pembagian kerja di rumah, juga harga diri lelaki yang terluka. Kulminasi dari konflik kecil-kecil yang kerap terjadi, adalah ketika teman saya menemukan bukti perselingkuhan suami. Ketika akhirnya mereka bercerai, tak sedikit yang menyalahkan teman saya, karena dianggap terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Saya sangat menentang pendapat yang mengatakan bahwa wanita karier yang ingin sukses, tak bisa mendapatkan kebahagiaan berumah tangga. Namun demikian, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai ketika pekerjaan bisa membawa nasib rumah tangga kita di ujung tanduk.

Bercerai Karena Pekerjaan, Mungkinkah?  - Mommies Daily

Kurang merawat diri

Saking sibuk dengan deadline dan marathon rapat jangan sampai membuat kita lupa menjaga kesehatan diri. Perhatikan hal-hal mendasar seperti menjaga asupan makanan, nutrisi, waktu tidur, dan berolahraga secara rutin. Jadikan ‘perawatan diri’ sebagai prioritas utama. Sebab, bagaimanapun, your body is your temple, right? Kalau kita sehat, kita punya kendali atas diri kita dan punya energi lebih untuk bisa merawat orang-orang di sekeliling kita. Perawatan yang sifatnya memanjakan diri, seperti spa, facial, dan creambath, juga tak kalah penting, lho!

Meletakkan pekerjaan sebagai prioritas

Saya paham bahwa tak semua orang bisa punya ‘kemewahan’ untuk menolak pekerjaan ekstra. Pekerjaan memang demanding. Apalagi, pada saat level masih bawah menengah. Bertahun-tahun menjadi karyawan yang berdedikasi tinggi, membuat saya tak menyadari batasan antara dedikasi dan workaholic. Perlu waktu lama sampai akhirnya saya bisa mengambil jarak dari belenggu pekerjaan. Ada beberapa momen yang sampai sekarang sangat saya sesali karena saya telah mendahulukan pekerjaan, dengan dalih dedikasi tersebut. Dan, ketika melihat ke belakang, sekarang saya bisa mengatakan, “after all, it doesn’t matter anymore.” Pekerjaan bisa datang dan pergi serta bisa dicari lagi, tetapi soul mate dan suami yang baik, adalah permata yang tak ternilai harganya.

Mudah Merasa Lelah

Sudahlah pekerjaan berat, ditambah jalanan yang kian macet menambah beban stres. Berangkat pagi hari, sampai rumah malam hari, badan sudah capek. Rasanya pasti ingin langsung tidur. Jika pekerjaan sudah menghisap energi kita, pasangan juga akan ikut terpengaruh. Begitu juga, quality time dengan pasangan. Lelah fisik bisa diatasi dengan berolahraga. Jika kita sering kelelahan, kurang segar, bisa jadi itu tandanya tubuh kita kurang olahraga. Nah, sedangkan lelah mental, obatnya adalah dengan mengurangi mengeluh. Mengeluh hanya akan menambah energi negatif. Apalagi jika yang dikeluhkan adalah hal yang sama berulang kali. Capek, deh!

Malas Bermesraan

Lelah dan stres juga bisa membuat mood bermesraan dengan pasangan menghilang. Yang ada malah sensitif dan baper. Apa pun yang dikatakan pasangan, bisa ditafsirkan berbeda. Berapa kali kita dan pasangan berciuman setiap harinya? Kapan terakhir kali kita bercinta?

Terlalu Berbangga Diri

Ambisi itu perlu dan tidak tabu. Di satu sisi, pekerjaan bisa mendatangkan stres, di sisi lain, pekerjaan juga mendatangkan rasa arogansi. Biasanya ketika karier beranjak naik dan kesuksesan sudah di tangan. Tidak sedikit wanita yang ketika sampai di puncak karier, rumah tangganya justru berakhir. Di kantor, kita mungkin atasan yang dihormati oleh banyak orang, tetapi tidak di rumah. Di rumah, suami adalah partner dan support system utama yang membuat kita mampu meraih kesuksesan di luar.


Post Comment