Berhenti Mengatakan Kalau Anak Kita Bisa Melakukan SEGALA HAL

Karena kenyataannya memang anak-anak kita tidak bisa melakukan semuanya. Mereka punya keterbatasan dan mereka perlu memahami itu.

Beberapa waktu lalu, ketika sedang menemani anak-anak les renang saya menyaksikan seorang ibu yang sedang ‘ menyemangati’ anaknya untuk ikut perlombaan renang. Dengan suara lantang ibu itu mengatakan “Ayo dong nak, kamu pasti bisa. Yang penting kamu niat dan nggak malas latihan. Di mana-mana, asal kita itu rajin latihan kita pasti bisa ngelakuin apa aja dan menjadi apa yang kita inginkan. Ayo, jangan malas. Yang gagal itu cuma yang malas-malasa aja. Kamu mau jadi pemalas?”

Dan hati saya sedikit terganggu…

Mungkin, memang si ibu ingin memberikan semangat untuk si anak, dan seringkali sebagai orangtua memang kita perlu melakukan itu. Karena ada kalanya anak butuh sedikit dorongan untuk berani maju. But somehow, saya merasa kita sebagai orangtua suka menyalahgunakan kalimat ini “Ayo nak, kamu pasti bisa melakukan apa aja asal rajin berlatih,” atau “Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau.”

http://mommiesdaily.com/2017/07/17/nak-nilai-ulangan-jelek-bukanlah-akhir-dari-segalanya/ - Mommies Daily

Of course, we want to encourage our children to pursue their interest and not be limited by society’s view of their capabilities. tapi kalau kemudian kita mengabaikan fakta bahwa anak kita itu adalah manusia yang juga punya keterbatasan, dia punya kelebihan tapi suka atau tidak dia pasti juga punya kekurangan, bukannya itu malah bisa berbahaya ya?

Saya bukan ahli psikologi, namun saya percaya ketika anak saya sudah berusaha mati-matian, belajar siang malam, namun nilai hapalannya tidak bisa sebagus nilai ilmu pastinya, saya memilih untuk mengatakan kepada anak saya bahwa tidak semua bidang harus dia kuasai.

Saya pernah mengatakan ke anak-anak, kalau memang semua orang bisa melakukan segala hal, bisa menjadi apapun, buat apa ada jurusan di saat kuliah nanti? Buat apa ada departemen-departemen yang berbeda di kantor-kantor?

Saya memberikan contoh, banyaknya bidang pekerjaan di muka bumi ini menjadi bukti bahwa nggak perlu bisa melakukan semuanya, karena masing-masing sudah ada bagiannya.

Astronot bisa terbang ke bulan atau ke planet-planet lainnya, tapi dia tetap butuh seorang koki untuk menikmati sebuah makanan. Ahli Fisika mungkin bisa menyelamatkan dunia dengan temuannya, namun tanpa dokter yang menjaga kesehatannya mungkin dia bisa sakit karena tidak menjaga gaya hidup yang sehat.

Kebayang nggak kalau kita selalu menanamkan ke anak-anak kita bahwa mereka bisa menjadi apapun yang diinginkan, di saat mereka gagal sekali dalam satu bidang, bisa saja membuat mereka down selama-lamanya. Karena di dalam pikirannya tercetus “Satu ini aja aku nggak bisa, gimana bisa melakukan hal yang lain?”

Jadi, kenapa nggak mencari di mana letak kekuatan dan kelebihan anak kita, fokus dan menjadi ahli di bidang itu? Setelahnnya, bantu mereka untuk mengasah kelebihan yang mereka miliki.

Kalau dari buku yang saya baca, dibanding hanya mengatakan kepada anak-anak kalau they can do anything, lebih baik bantu mereka mencari kelebihan yang mereka punya, berikan fasilitas untuk mengasah kelebihannya itu.

Jangan lupa, ingatkan mereka untuk melakukan 3P:

- Practice: Nggak pernah ada seorang master yang menjadi hebat tanpa latihan teratur dan terus menerus.

- Patience: Nggak pernah ada hal bagus yang dihasilkan dengan cara yang instan. Butuh usaha, butuh waktu yang kadang tidak sebentar. Anak butuh belajar untuk bersabar.

- Perseverance: Karena akan selalu ada yang namanya rintangan

Anak perlu diberikan penyemangat namun dia juga perlu dikenalkan dengan yang namanya realita hidup :).

Baca juga:

Nak, Nilai Ulangan Jelek Bukan Akhir dari Segalanya


Post Comment