Susi Susanti & Alan Budikusuma: “Jadi orangtua harus bisa fleksibel”

Meski keduanya pernah meraih level juara dunia di bidang olahraga, Susi dan Alan tak lantas mengarahkan tiga anaknya (juga) jadi seorang atlet. Mereka memilih untuk menjadi orangtua yang fleksibel, apa alasannya, ya?

Bagi mommies yang besar di era 90-an, dua sosok atlet bulu tangkis ini pasti nggak asing lagi. Susi Susanti (46) dan Alan Budikusuma (49), sukses meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Rasanya saya masih ingat, ikutan haru saat bendera merah putih dikibarkan, sebagai tanda kemenangan mereka.

Susi Susanti & Alan Budikusuma: “Jadi orangtua harus bisa fleksibel” - Mommies Daily

Prestasi yang mereka ukir, sudah tentu melalui proses panjang. Berawal dari orangtua masing-masing mengenalkan bulu tangkis kepada mereka. “Perkenalan dengan bulu tangkis, tak lepas dari peran orangtua yang sangat besar. Pertama kali yang mengenalkan bulu tangkis adalah ayah dan mama, mereka juga pemain bulu tangkis  daerah. Mereka selalu mengajak saya ke lapangan bulu tangkis. Dari situ saya sudah suka bulu tangkis, dan ayah saya juga melihat saya punya potensi, bakat dan kemauan untuk menjadi atlet bulu tangkis,” tutur Susi

Senada dengan Susi, Alan mengakui, peran orangtuanya juga penting, sampai ia dikenal ebagai atlet bulu tangkis kaliber dunia. Alan manambahkan, “Orangtua saya juga mengingatkan attitude  sangat penting, karena saya yakin attitude adalah segalanya, apalagi kita sebagai orang timur. Nantinya attitude ini juga dibawa sampai ke lapangan, sopan, jujur dan supportif.”

Meski pernah mengukir prestasi membawa nama Indonesia di kancah internasional, dengan daftar panjang prestasi sebagai pebulu tangkis kelas dunia. Mereka berdua ternyata nggak ngoyo ketiga anaknya, harus berprofesi sama dengan mereka.

Saat menghadiri 95 tahun Frisian Flag di Indonesia, 1 Agustus lalu di Jakarta, saya sempat berbincang dengan orangtua dari Laurencia (18) , Albertus (17), Sebastianus (14) ini. Sebagai orangtua mereka  ingin menjadi sosok yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Tak bisa menjadi orangtua yang otoriter. “Saat ini cara itu sulit untuk dilakukan, karena pola pikir anak juga sudah lebih maju. Sehingga kita harus bisa menempatkan diri sebagai teman, sahabat dan tetap menjadi orangtua. Sehingga kita tidak hanya bisa masuk ke anak, tapi juga bisa beradaptasi dengan lingkungan anak. Itu akan memudahkan kita untuk memonitor anak. mendampingi anak sesuai perkembangan zamannya,” jelas Susi dan Alan.

Saya pribadi yang mendengar langsung pernyataan mereka, cukup kagum. Mengingat keduanya dibesarkan di tengah keluarga atlet, tak lantas ingin mengulang sejarah yang sama. Saya bisa mengerti sih, zaman sekarang kan, pilihan profesi untuk anak-anak juga semakin banyak. Tinggal disesuaikan dengan bakat.

“Kami tidak memaksa mereka menjadi atlet. Kami bilang raihlah cita-cita sesuai dengan kemauan masing-masing, apapun itu. Yang penting lakukan dan berikan yang terbaik. Fleksibilitas sebagai orangtua sangat penting, supaya anak mau diskusi sama kita orangtuanya,” tambah Alan sebagai sosok ayah yang ingin ketiga anak bisa diskusi apapun dengan dirinya.

Sebagai ibu, Susi punya pesan khusus untuk para generasi muda. Silakan dibagi ke anak-anak mommies yang sudah beranjak remaja, ya. Supaya mereka punya mental gigih. Nggak harus jadi juara sepanjang hidup mereka. Setidaknya punya daya juang yang tinggi.

  1. Isilah waktu hal-hal yang positif, sesuai dengan bakat dan bidang kalian masing-masing.
  2. Fokus menjaga kesehatan.
  3. Komitmen dan siap dengan segala konsekuensi terkait hal apapun yang kita jalankan dalam hidup. Yang penting tahu tujuannya kita kemana. Kita bisa meraih hasil yang diinginkan.

Aaaah jadi terharu bisa ketemu sosok Alan dan Susi langsung. Ternyata attitude yang Alan sempat singgung di atas, masih terbawa hingga kini, lho, mommies. Tercermin dari sikap mereka berdua, yang humble, dan datangnya dari hati.

Semoga anak-anak kita, bisa meniru prestasi mereka, ya. Berprestasi kelas dunia, dengan attitude yang terjaga baik.


Post Comment