Anakku (Bukan) Jago Kandang

Salah satu masalah klasik yang sering membuat para orangtua bingung, bagaimana menyikapi anak yang jago kandang?

Cindra (3 tahun 8 bulan) berteriak keras ketika keinginannya tidak terpenuhi. Membuat semua penghuni rumah kewalahan menghadapinya. Bingung menghadapi sikap Cindra yang sangat aktif dan cenderung banyak maunya. Herannya, sikap Cindra akan berubah 180 dejarat jika di luar rumah. Cindra malah berubah, cenderung menjadi pasif. Sikapnya memang sering on off seperti ini. Istilahnya jago kandang.

Familiar nggak dengan perubahan sikap anak yang sangat drastis seperti ini?

Belum lama ini saya sedang asik membaca  forum Mommies Daily, nggak jauh-jauh, thread yang sering saya baca memang selalu berkaitan dengan parenting. Seru membaca lika liku pengalaman para mommies dalam membersarkan anak, setidaknya dari sana saya juga jadi bisa banyak belajar .

Nah, salah satu thread yang saya baca itu masalah anak yang ‘jago kandang’. Ternyata masalah anak jago kandang ini jadi common problem yang sering dihadapi, ya, khususnya  pada balita. Biasanya,  anak yang jago kandang memang punya keberanian dan sangat aktif. Sayangnya, begitu di luar malah jadi ‘melempem’. Nyalinya jadi ciut.

anakku (bukan) jago kandang - Mommies Daily

 

Seorang teman  juga sempat curhat, ketika anaknya masih batita, bisa ngoceh panjang lebar hingga menyanyikan lagi kesukaannya. Tapi, saat di luar rumah, justru jadi diam seribu bahasa. Kalau diajak ngobrol, malah memilih mojok di kelas. Saya cukup bersyukur karena anak saya tidak masuk dalam kategori anak yang jago kandang.

Kenapa anak-anak jadi jago kandang?

Saya jadi ingat obrolan dengan beberapa psikolog anak, bahwa jago kandang  memang dijadikan jargon yang menunjukkan sikap anak yang tidak mampu mengekspresikan dirinya di luar rumah. Seperti yang saya lansir dari situs psikolog Kancil,  Yelia Dini Puspita, M. Ps menjelaskan kalau jago kandang ini ternyata juga dipengaruhi oleh faktor internal yaitu karakter anak. Namuuuun, perubahan sikap anak yang on off seperti ini justru lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, di mana pola asuh orangtua juga punya peran sangat besar. Pola asuh kita, sebagai orantua akan menentukan kemandirian anak dalam berinteraksi dengan orang lain di luar rumah.

Kalau kita terlalu otoriter, membatasi gerak langkah anak, ya jelas bisa memengaruhi sikap anak. Untuk itulah, kita perlu memberikan kesempatan untuk bertindak secara mandiri, termasuk kemandirian di luar rumah dan berinteraksi dengan teman sebayanya.

Oleh karena itu kalau bisa sih, berikan kesempatan anak untuk berinteraksi di berbagai lingkungan sehingga anak jadi punya kesempatan bersosialisasi dengan orang lain. Nggak cuma lewat play date bareng teman-teman seusianya, anak diajak ke kantor pun punya manfaat menumbuhkan keberaniannya . Anak jadi punya kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan orang dewasa.

Faktor lain yang menyebabkan anak jadi jogo kandang juga dipengaruhi oleh rasa nggak nyaman yang dirasakan anak. Mbak Nina Teguh selaku psikolog anak dan keluarga menjelaskan kalau anak yang ‘jago kandang’ ini disebakan karena anak merasa tidak nayaman bahkan merasa terancam kalau sedang berada di lingkungan yang belum ia kenal. Karena rasa yang tidak nyaman itulah, membuat anak-anak cenderung diam.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah menyiapkan anak untuk memiliki gambaran mengenai  lingkungan barunya. Nggak ada salahnya, lho, menjelaskan ke anak, sikap seperti apa yang kita harapkan untuk bisa ia lakukan. Tapi ingat yaaa, ekspektasi kita juga jangan ketinggian, lah. Selain itu, penting bagi kita untuk bisa mendampingi anak saat menghadapi situasi baru.

Buat mommmies yang masih galau, dan bingung karena anaknya jago kandang, coba deh ikutan diskusi dan membaca pengalaman para mommies lainnya di thread mommies daily. Siapa tahu, bisa mendapat insight penting yang bisa mommies terapkan saat menghadapi si kecil.


Post Comment