5 Hal yang Saya Lakukan Untuk Mengajar Anak Mau Antre

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Hidup di Indonesia itu harus punya segudang stok sabar untuk antre. Karena banyak banget di sekitar kita yang masih nggak paham apa artinya antre. Makanya, saya nggak mau anak saya seperti orang-orang itu.

Sebagai pengguna Transjakarta dan KRL, saya harus menerima kenyataan bahwa kenyamanan angkutan umum di Jakarta masih jauh dari harapan. Perhatikan saja, saat kereta tiba, semua orang saling dorong dan berebut untuk masuk. Siapa kuat dan ngotot, dia yang berhasil masuk duluan. Nggak bisa bayangin kalau pergi bawa anak pada jam sibuk naik kereta. Hanya satu kata: ganas!

Naik Transjakarta juga tak jauh beda. Hanya di beberapa halte-halte tertentu, antrean bisa teratur. Itupun, untuk bisa antre rapi butuh waktu bertahun-tahun. Dulu, pintu bus dijaga ketat oleh petugas yang super galak dan siap memaki siapa pun yang tidak tertib dan mencoba menyelak antrean.

Pernah juga, saya kesal saat mengantre tiket di bioskop. Saya sudah berancang-ancang mengambil jalur khusus pengguna Movie Card. Namun, ternyata antrean Movie Card juga sama panjangnya. Tetapi, setelah dekat dengan baris depan, mereka yang ada di depan saya tak ada satu pun yang menggunakan kartu. Apa gunanya ditulis jalur antrean khusus kartu kalau begitu. Grr!

Anak saya, Pi (10) juga pernah punya pengalaman tidak enak saat antre naik bom bom car. Di situ, sudah ada beberapa anak yang mau masuk. Seorang anak yang berbadan besar, tiba-tiba menyelak antrean. Meski pada akhirnya bisa masuk, tapi kesalnya Pi masih terbawa sampai rumah.

Antrean bisa terjadi di mana saja. Jujur, harus menunggu lama dalam antrean itu memang tidak enak. Tapi, kalau yang berlaku hukum rimba, jauh lebih tidak enak lagi.

Saya kapok menyerobot antrean. Saya pernah merasakan dimaki-maki oleh banyak orang di Jepang, karena bermaksud menyelak antrean naik kereta gantung, gara-gara harus mengejar rombongan yang sudah berada di tempat lain. Jepang termasuk salah satu negara yang sangat tertib dengan masalah antrean. Walaupun tidak ada petugas, jangan coba-coba menyelak, karena semua orang akan memarahi kita.

Makanya, seujujurnya, saya berharap banget generasi Pi, generasi anak-anak kita, mereka bisa belajar budaya antre. Budaya antre dalam masyarakat mencerminkan bangsa yang bermartabat. Bangsa yang masyarakatnya rela mendahulukan kepentingan umum. Karena itu, penting untuk menanamkan antre sebagai etiket sosial sejak dini. Dan untuk itu, butuh waktu bertahun-tahun membentuk jiwa dan karakter tertib dalam diri anak.

Sebetulnya, sekolah punya peran yang amat besar dalam pembentukan karakter tersebut. Di sinilah pentingnya memilih sekolah yang menanamkan pendidikan karakter ke anak. Akan tetapi, meski jadi tugas sekolah, bukan berarti orangtua bisa lepas tangan begitu saja. Ada beberapa hal yang bisa diajarkan dalam rangka menanamkan tertib antre ke anak.

5 Hal yang Saya Lakukan Untuk Mengajar Anak Mau Antre   - Mommies Daily

Baca juga:

Bapak dan Ibu Guru, Tolong Ajarkan Anak Saya Empat Hal Ini

Beri contoh positif

Orang tua adalah role model anak yang terdekat. Kalau anak melihat orangtua dengan enteng melanggar rambu lalu lintas, menyerobot lampu merah, memotong antrean, jangan berharap anak akan tumbuh menjadi orang yang tertib.

Miliki stok kesabaran

Ingin naik bianglala, beli kue kekinian, tiket bioskop, dan sebagainya, tapi antreannya sampai 2 jam? Tidak ada kata lain selain sabar. Anak juga harus diajari sabar. Bukankah sesuatu yang didapatkan dengan susah payah, akan memberikan tingkat kepuasan yang lebih tinggi saat kita berhasil mendapatkannya?

Dahulukan prioritas

Di dalam antrean yang kita ikuti, tak jarang ada kakek nenek, ibu bawa bayi, ataupun ibu hamil. Mereka disebut sebagai kelompok prioritas. Jika kebetulan mereka ada di belakang kita, tak perlu sungkan untuk memberikan posisi kita buat mereka. Percayalah, good karma itu pasti ada balasannya. Ini juga contoh yang baik untuk anak kita. Mereka jadi belajar empati.

Siapkan amunisi

Bukan cuma modal sabar untuk bisa membuat anak mau bertahan dalam antrean. Namanya anak-anak, mereka pasti akan cranky jika misalnya harus berdiri terlalu lama. Situasi seperti ini bisa diantisipasi, kok. Misalnya, bawa buku bacaan favorit anak, alat gambar, ajak main tebak-tebakkan, atau bawa permen kesukaannya (sst…sekali-sekali bolehlah dikasih permen), apa saja yang bisa bikin anak anteng. Kalau terpaksa, ya sudah, kasih gadgetnya. Namanya juga sedang antre.

Kalau masih tidak mau antre juga

Pilih waktu yang paling nyaman. Misalnya, datang lebih pagi ke supermarket, sehingga bayar di kasir tak perlu antre. Tiba di wahana permainan anak saat baru buka. Pilih airline yang bisa check in otomatis. Dengan sedikit effort, tapi buat anak jadi lebih nyaman. Nah, saya sendiri termasuk golongan ini. Pragmatis. Saya orang yang tipenya kalau piknik ke wahana anak, mending di hari selain weekend, he…he…he….


Post Comment