Menghadapi si Post Power Syndrome

Pernah berhadapan dengan rekan kerja yang post power syndrome (entah karena pensiun atau kehilangan kekuasaan)? Untuk yang lagi menghadapi si post power syndrome :D, beberapa tips ini mungkin bisa membantu. 

Kalau bicara tentang rekan kerja yang mengalami post power syndrome, ini nggak hanya seputar mereka yang akan pensiun kok, tapi termasuk juga rekan kerja yang karena satu dan lain hal terpaksa kehilangan kekuasaannya di kantor. Mereka yang terkena PHK, atau menempati jabatan yang lebih rendah karena restrukturisasi organisasi bisa merasakannya juga.

Ada model orang yang terkena post power syndrome mau diajak bicara baik-baik (kalau bertemu dengan yang tipe begini sih enak-enak aja). Namun nggak jarang, ada juga yang membuat suasana kantor menjadi tidak nyaman.

Baca juga: Cara Mengatasi Konflik dengan Rekan Kerja

Punya Rekan Kerja yang Post Power Syndrome? Hadapi dengan 3 Langkah Ini - Mommies Daily

Baca juga: Ini Dia Strategi Menghadapi Teman yang Menghambat Karier

Sebelum salah kaprah memberikan label post power syndrome, kenali dulu gejala yang pastinya:

Gejala post power syndrome

  1. Orang tersebut bisa menjadi pemurung
  2. Kurang bersemangat
  3. Agresif atau mudah tersinggung
  4. Merasa ada sesuatu yang hilang atau dirampas dari dirinya, berupa sesuatu yang sangat berharga yang menentukan identitas diri mereka selama ini. Entah itu jabatan atau kekuasaan yang melekat padanya.

Kalau sudah tahu gejalanya, sekarang cara menghadapinya!

Bagaimana menghadapinya?

  1. Menerima dan memaklumi ini sebagai sebuah fakta. Masing-masing orang akan memerlukan waktunya sendiri untuk pulih dari syndrome ini. Coba deh tempatkan diri kita di posisi mereka. Rasanya juga pasti nggak nyaman kan? Dengan memaklumi kita jadi tidak terkaget-kaget melihat perilaku mereka yang tiba-tiba marah atau tersinggung tanpa sebab.
  2. Melakukan komunikasi secara santun dengan menghargai pengalaman dan senioritas mereka. Yang perlu diingat, menghargai dan bersikap santun bukan berarti kita jadi menempatkan diri kita sebagai bawahannya ya. Bersikap profesional tetap harus dilakukan namun tanpa berkesan merendahkan mereka. Tidak perlu juga bersikap menuruti segala keinginan mereka, karena hal itu akan membuat mereka terus tenggelam dalam realitas masa lalu.
  3. Konsisten untuk bekerja berdasarkan aturan, prosedur dan mengomunikasikannya secara jelas dan positif. Secara mereka mungkin saja lebih senior dari kita dan lebih berpengalaman, pasti adalah beberapa hal yang bisa kita serap ilmunya. Nggak ada salahnya kok tetap meminta masukan atau saran dari mereka. Urusan apakah sarannya akan dilaksanakan atau tidak, toch tetap berada dalam wewenang kita. Mereka akan merasa sangat dihargai, tanpa kita harus menuruti kemauan mereka secara membabi buta.

Baca juga: 7 Kesalahan yang Sering Kita Lakukan di Tempat Kerja

Kalau sekarang ada di antara Anda yang lagi ngalamin nih, ketemu dengan si post power syndrome, bisa dicoba saran dari tim EXPERD ini atau kali-kali mau share ide lainnya. Good luck ya mom :).

*Artikel ini ditulis oleh Tim EXPERD


Post Comment