Tandem Nursing: Why Not?

Ditulis oleh: Meutia Chaerani – Pendiri AIMI

Menyusui si adik berbarengan dengan menyusui si kakak memang nggak mudah, namun bukan berarti nggak bisa. Dan, ternyata banyak lho manfaat tandem nursing.

Ketika saya hamil anak kedua, si kakak belum genap 20 bulan. Karena saya bertekad untuk menyusui setidaknya 2 tahun, dan sampai si kakak ingin berhenti sendiri, saya memutuskan untuk tidak berhenti menyusui.

Ternyata menyusui sambil hamil tidak mudah. Sejak hamil, hormon mengubah puting menjadi lebih sensitif sehingga saat si kakak menyusu, rasanya lumayan sakit. Yang bisa saya lakukan hanya menahan sakit dan meminta kakak untuk pelan-pelan. Kemudian, perlahan-lahan produksi ASI mengalami penurunan, meski tidak habis sama sekali. Ini adalah pengaruh meningkatnya hormon-hormon kehamilan.

Pada trimester terakhir, ASI saya menjadi kental bening kekuningan, yaitu menjadi kolostrum. Seperti yang kita tahu, kolostrum terkenal dengan jumlahnya yang sedikit tetapi manfaat dan khasiatnya sangat tinggi. Dan ternyata benar, di bulan-bulan terakhir kehamilan itu si kakak menjadi tidak pernah sakit sama sekali, meski ia baru mulai masuk playgroup setiap hari. Kakak dapat bonus kolostrum, dan menurut informasi yang saya baca, hal ini tidak mengurangi “jatah” kolostrum untuk adiknya saat lahir nanti.

Tandem Nursing: Why Not? - Mommies Daily

Tandem Nursing, Seru dan Menyenangkan Sejak Awal

Si kakak “cuti” menyusu hanya sehari, yaitu saat saya melahirkan. Di hari berikutnya, saya persilakan si kakak untuk menyusu bersama si adik. Awalnya si kakak kikuk, tetapi ia menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Saya membiasakan si kakak untuk menyusu setelah si adik, atau berbarengan. Beberapa hari kemudian, kolostrum berubah menjadi ASI transisi, lalu menjadi ASI matang, dan si kakak seperti menemukan kembali kenikmatan menyusui ASI seperti sebelum kehamilan adiknya.

Baca juga:

Breastmilk Changes

Bagi saya pribadi, walaupun menyenangkan, namun menyusui juga terkadang terasa menantang dan melelahkan. Si kakak selalu minta ikut menyusu kalau melihat adiknya menyusu. Tentunya menyusui dua anak sekaligus lebih capek. Selain itu rasanya lebih cepat haus dan lebih sering lapar. Tidak jarang saya merasa hidup saya habis untuk menyusui. Tetapi, meski demikian, ASI nampaknya tak pernah kurang. Si adik terlihat menggemuk, bahkan lebih pesat daripada waktu si kakak berumur sama. Ditambah keuntungan lainnya dari tandem nursing.

Manfaat Tandem Nursing

Si kakak mendapat kesempatan untuk menyusu sampai minimal usia 2 tahun. Manfaat menyusu hingga 2 tahun sudah banyak dipublikasikan, dan menurut saya manfaat-manfaat tersebut bukan main-main dan sangat pantas “diperjuangkan”.

Tandem nursing dilaporkan mencegah terjadinya sibling rivalry. Menyusu berdua adik membantu mengurangi rasa iri kakak terhadap adik. Si kakak tidak bertindak negatif terhadap si adik, malah ia ingin turut merawat si adik. Namun demikian saya menerapkan batasan, misalnya, si kakak hanya boleh menyusui di kamar tidur, dan tidak boleh minta ASI di luar rumah, dan saya jelaskan ini karena si kakak jauh lebih besar daripada adik bayi.

Si kakak juga membantu memecahkan masalah hari-hari pertama pasca persalinan seperti payudara bengkak (engorgement) atau sumbatan ASI. Tanpa perlu melakukan berbagai perawatan payudara khusus, saya tidak mengalami kedua keluhan tersebut. Cukup dengan menyusui si kakak, kedua masalah tersebut dapat dicegah.

Bonding juga nampak sekali terbentuk dengan cepat antara kakak dan adiknya, berkat tandem nursing. Saya pun merasa sangat terbantu untuk tetap menunjukkan kasih sayang dan perhatian saya pada si kakak, walaupun saya sibuk menyusui adiknya. Kami seperti menemukan keselarasan bersama.

Menyapih Kakak

Di usia 3.5 tahun, si kakak akhirnya kami sapih. Di usia tersebut si kakak sudah bisa diajak berunding dengan lebih dewasa. Yang kami lakukan hanya menekankan bahwa si kakak adalah anak besar dengan kebutuhan dan kesenangan yang berbeda dengan adik bayi. Untunglah kakak dapat menerima penjelasan tersebut, dan memutuskan sendiri untuk berhenti menyusu. Saat si kakak memutuskan untuk menolak ASI, kami sadar bahwa si kakak sudah siap untuk berhenti menyusu dan dia sudah mengambil keputusannya sendiri (dengan dukungan dari kami, tentunya).

Para ibu yang memilih untuk tandem nursing sepakat bahwa manfaatnya lebih besar daripada effortnya. Bagi saya, tandem nursing ada pro kontra. Tetapi saya setuju bahwa tandem nursing adalah pengalaman yang unik, tidak terlupakan dan tidak tergantikan. Bernostalgia sekarang, saya sangat bersyukur sudah memilih untuk tandem nursing.


Post Comment