Ringgo Agus Rahman, “Karena Hidup Itu Bukan Kompetisi”

Kalau katanya Ringgo Agus Rahman, hidup itu bukan kompetisi, hidup itu buat dinikmati. Tapi tentu saja cara menikmatinya harus bisa bijak. Setuju?

Kemarin, saya punya kesempatan buat ngobrol dengan pasangan Ringgo Agus Rahman dan Sabai Morscheck di acara yang digagas oleh Bank Permata, Wealth Wisdom. Kebetulan, mereka ini mengisi salah satu kelasnya, Money & Parenting. Di luar pembawaannya yang kocak, ternyata ayah dari Bjorka ini bisa serius juga, lho! Contohnya, kalau lagi ngebahas soal persiapan dana buat buah hatinya.

Ringgo mengaku kalau dia baru ‘melek’ soal mengelola keuangan setelah menikah dan punya anak, “Ya, agak terlambat, sih. Gue dulu nggak tahu hasil uang kerja buat ke mana,” ujarnya. Ringgo juga sangat bersyukur mendapatkan istri yang spesial seperti Sabai, yang dianggap berbeda dengan perempuan ibukota kebanyakan.

Umh, memang sebagai istri, Sabai itu seperti apa, ya? Jadi penasaran juga, nih.

Bank Permata-Ringgo&Sabai

Setelah menikah dan punya anak, perubahan yang paling signifikan itu apa, sih?

Ringgo : “Hal yang membuat saya banyak berubah setelah menikah itu adalah bagaimana saya melawan ketakutan. Dulu saya itu sebenernya takut nikah. Kenapa? Ya, karena berkaitan dengan tanggung jawab. Tanggung jawab berarti kan saya harus menyiapkan segalanya dengan baik dan terencana, supaya bikin istri saya tetep bisa makan dan anak saya bisa terjamin masa depannya. Mulai, deh, dengan kebutuhan standar kita sehari-hari. Jadi saya memang sudah lebih sadar soal mengelola keuangan. Dulu saya takut punya istri yang high maintenance, beli tas dan baju nggak cukup harganya yang biasa-biasa aja”.

Sabai : “Lho, tapi itu kan cukup wajar untuk masyarakat ibukota”.

Ringgo : “Lho, kok, wajar? Ya, nggak wajar doong…untungnya saya nggak ketemu istri yang dari ibukota, tapi dari pingiran Denpasar. Tapi saya malah suka malu sendiri kenapa istri jarang belanja. Sudah ditawarin, malah nggak mau. Beruntung saya sekarang ketemu  istri yang malah bisa mengelola keuangan saya, setelah nikah uang saya diserahkan semua ke istri.”

Sabai : “Ya, sebenarnya yang paling boros justru dia, seneng banget belanja.”

Ringgo : “Ya, namanya lelaki, ya, laki-laki itu kan kebutuhannya dikit ya, tapi malah jadinya suka ‘kecentilan’.”

Memang dulu seboros apa, sih?

Ringgo : “Begitu ada uang, maunya dibeliin apa aja. Mikirnya malah, ‘Ya sudah dihabiskan saja, deh, nanti kalau keburu meninggal atau sakit uangnya nggak kepake, buat apa? Liburan aja, dulu. Senang-senang’. Akhirnya nggak tahu, deh, tuh, uang kerja hasilnya ke mana. Tapi itu kan dulu, sekarang ada anak, sekarang mau nggak mau harus ngomongin masa depan dan kebutuhan anak.”

Ada nggak, sih, yang kalian pelajari dari orangtua mengenai belajar mengelola uang?

Ringgo : “Kita berdua dari kecil memang nggak pernah diajarin untuk gengsi, sih, ya. Kita lepasin tuh semua gengsi, gaya hidup yang memang nggak kita butuhkan. Dulu, waktu saya mau menggaet dia (sambil menunjuk ke arah Sabai), ada lelaki yang sangat berkecukupan, saya bilang berkelebihan tapi dia tidak kreatif, dan ada saya yang agak kekurangan tapi dari situ menuntut saya untuk lebih kreatif. Orang yang tidak kreatif itu, selalu membawa mobil bagus dan mengajaknya kencan. Tapi ternyata nggak cukup buat dia. Jiper dong, saya? Pada saat menghadapi dia membuat saya perlu kreatif, mencari cara membuat Sabai bisa ketawa terus setiap hari, tapi capek sebenernya karena saya harus mikir juga, hahahaa.”

Sabai : “Tapi memang pada dasarnya selera aku aneh, kok. Makanya pilih kamu, hahahaha”.

Jadi sekarang yang jadi menteri keuangan itu Sabai?

Ringgo : “Iya, yang mengatur keuangan itu semua Sabai yang urus. Tapi semua pengeluaran tentu kita diskusiin dulu, kalau mau beli apa-apa juga diobrolin dulu, nggak ada yang ditutupi dari kita. Bahkan pin aja saling terbuka. Jadi kalau susah bisa saling sama-sama tahu. Kalau memang nggak ada duit, ya, saya akan bilang.”

Sejauh mana, sih, kalian sudah menyiapkan dana untuk Bjorka?

Ringgo : “Ya, mulai sekarang kami sudah mikirin dana pendidikan, apalagi kami juga sudah tahu kalau biaya pendidikan itu mahal banget. Apa nggak susah sekolah aja, ya? Kita sendiri aja yang ngajarin ? hahahaa…  tapi kita memang sudah mau mengejar dana pendidikan, supaya nanti kalau Bjorka sudah butuh, dananya sudah ada.

Tapi gue juga banyak belajar dari keluarga Sabai, mungkin karena bapaknya Sabai orang Jerman, jadi sudah melek banget soal pengelolaan keuangan. Dulu Sabai itu sudah disiapkan. Persiapannya itu mateng banget. Sabai itu hidupnya tenang banget, deh, kuliah tenang, karena semua sudah siap, dana pendidikan ada, dana untuk asuransi itu ada. Sabai itu bukan dari keluarga yang berlebihan, tapi buat gue keluarga Sabai itu hidupnya tenang banget. Bapaknya setelah pensiun cuma mau jadi pelukis di Bali, hidupnya tenang. Tapi semua memang sudah disiapkan dulu. Kan enak banget hidup kaya begitu. Makanya gue juga mulai mempelajari pola itu sudah dari awal, begitu Bjorka lahir langsung deh siapin asuransi kesehatan dan asuransi jiwa.”

Definisi wealth life buat kalian, apa?

Ringgo : “Tenang itu nggak ada hutang”.

Tapi tentu tetap harus menikmati hidup, dong?

Ringgo : “Hidup kita selain memenuhi kebutuhan tentu juga ada buat manjain diri. Kerja masa nggak boleh manjain diri? Itu kan seperti achievement juga”.

Sabai : “Kita punya kebiasaan kalau bapak ini sudah menyelesaikan satu dua pekerjaannya, kita suka jalan-jalan. Tapi jalan-jalannya juga bukan yang ‘wah’  juga, sih, asal pergi dari luar Jakarta ke tempat yang nyaman”.

Prinsip hidup keluarga  kalian apa, sih?

Ringgo : “Hidup itu bukan kompetisi, hidup itu buat dinikmati. Itu sih, yang gue pengen Bjorka juga tahu”.

Sabai : Buat kami kalau mau punya kualitas hidup yang baik, ya, memang perlu dinikmati. Ya, harus balance”.

Sebagai orangtua masa kini, kekhawatiran terbesar kalian apa?

Ringgo : “Lebih ke soal gaya hidup, sih…kan kita bisa lihat tuh gaya hidup anak masa kini seperti apa…”

Terus apa yang kalian lakukan untuk mencegah supaya kekhawatiran tersebut nggak terjadi?

Ringgo : “Kayaknya, sih, kita memang belum pada tahapan itu, ya. Tapi paling nggak semuanya memang harus dimulai dari orangtua dulu, gimana kita kasih contoh ke Bjorka. Contohnya tadi, kita nggak mau tuh hidup pakai gengsi-gengsian segala”.

—-

Gimana, dari jawaban yang dilontarkan Ringgo, bisa terlihat ya, kalau sosok yang sering kita lihat kocak ini juga bisa serius :).Lha, iya…. masa menjalankan peran sebagai ayah dan suami nggak serius? Seperti yang dibilang Ringgo, jadi suami dan seorang ayah itu tanggung jawabnya besar banget!


Post Comment