Unschooling, Benarkah Menjadi Proses Belajar Anak yang (Paling) Baik?

Ternyata tidak sedikit juga, ya, orangtua yang memilih anaknya untuk unschooling. Membiarkan anak belajar secara alami tanpa perlu mengikuti kurikukulum yang sudah diterapkan di lembaga pendidikan formal.

Seperti biasa, kalau lagi ngobrol dengan ‘penjaga gawang’ Mommies Daily, Fia dan Thatha, obrolan kami suka ngalor ngidul. Tapi tenang saja, obrolan kami tetap bermanfaat, kok, hahahaa. Mulai ngobrolin berita yang memang sedang up to date, bahas makanan enak yang bisa kami cicipi saat makan siang, dan pastinya ngobrol soal parenting.

Nah, salah satu topik sempat kami bahas belum lama ini adalah mengenai  trend unschooling. Ada yang sudah pernah dengar? Atau malah sudah ada yang memilih metode unschooling untuk buah hatinya?

Kalau saya baca dari beberapa website, dan blog, unschooling ini bisa diartikan sebagai salah satu alternatif pilihan untuk mendapatkan pendidikan namun tidak lewat lembaga yang formal layaknya sekolah. Katanya, sih,  dengan unschooling ini anak-anak justru bisa belajar secara alami, sesuai minat dan bakatnya. Tanpa perlu mengikuti pakem-pakem yang dibuat oleh sekolah formal.

Berhubung saya cukup ‘buta’ mengenai motede unschooling ini, saya pun bertanya pada Mbak Najellaa Shihab. Selain memang latar belakang Mbak Ellaa ini psikolog, beliau uga praktisi pendidikan.  Menanggapi soal unschooling, kakak dari Najwa Shihab ini mengatakan, “Buat saya tidak masalah kalau memang ada orangtua yang memilih untuk unschooling karena  itu memang pilihan. Tapi harus dipahami juga, ya, kalau unschooling itu bukan berarti anak jadi uneducated, lho. Biar bagaimana pun sekolah memang hanya salah satu alternatif tempat anak untuk belajar.”

unschooling - mommiesdaily

“Apa bisa anak belajar secara alamiah begitu saja, seperti  prinsipnya unschooling ini” tanya saya lagi.

Menurut mbak Ellaa, pada dasarnya anak memang pembelajar. Senang belajar dan ingin tahu segala macam hal, ingin mengeksplorasi lingkungan sekitarnyam bahkan sejak bayi.  Artinya, semua manusia itu lahir dengan fitrah ingin belajar tanpa perlu dikasih sertifikat, tanpa perlu mendapatkan nilai yang baik, tanpa perlu diabsen di kelas, dan sebagainya.

“Contohnya, saat anak masih bayi dan ingin mencoba segala sesuatu, kita kan juga tidak pernah menjanjikan anak kita untuk mendapatkan nilai 10. Iya kan?” ungkap Mbak Ella.

Ya, benar juga, sih.

Tapi memilih unschooling? Hmmm meskipun ada kalanya saya dibikin bingung dengan kurikukum dan sistem yang diterapkan oleh sekolah, tapi sejauh ini saya dan suami masih memilih sekolah sebagai media agar anak kami, Bumi, mendapatkan pendidikan yang layak. Tapi tentu dengan berbagai macam syarat dong ketika memilih sekolah.

Karena saya ingat apa yang dikatakan mbak Ellaa, bahwa kadang-kadang, justru sekolah yang tidak tepatlah yang akhirnya ‘mematikan’  anak untuk bisa berkembang. Oleh karena itul ia sangat memahami kalau ada orangtua yang memilih untuk unschooling.

“Mungkin mereka beranggapan kalau sekolah bukan tempat yang tepat untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Karena terus terang saja, sekolah itu banyak masalahnya. Banyak sistem yang membuat anak-anak justru jadi seragam, membatasi kebebasan anak untuk bereksplorasi, dan belum tentu anak-anak itu belajar sesuai dengan minat dan bakatnya. Kalau memang ada pilihan lain itu sah-sah saja,” paparnya.

Namun kalau ngomongin pendidikan anak, Mbak Ellaa menegaskan, yang terpenting adalah orangtua harus sadar betul tujuan pendidikan anaknya itu apa. Dan cara mencapai tujuan itu bagaimana? Apa yang lebih efektif? Apakah mau lewat sekolah formal atau tidak, mau unschooling atau yang lain. Sebenarnya ini kan hanya pilihan saja yang tujuannya untuk memberikan hak anak. Yang jadi bahaya kalau kita tidak memenuhi hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan baik”.”

Menurut Mbak Ella sendiri, seberapa penting, sih, pendidikan formal itu?

“Pendidikan itu penting tapi saya percaya juga kalau dalam lingkungan yang berbeda, dalam keluarga yang berbeda, ada situasi yang justru  kebutuhannya tidak bisa terpenuhi lewat pendidikan formal. Sebagai contoh kalau kita melihat dari jadwal. Buat anak-anak ada yang bermasalah juga, loh,dengan jadwal ini. Kalau ada anak yang memang harus menemani orangtuanya bekerja, misalnya berlayar. Nah, kalau harus sekolah setiap hari bagaimana caranya? Kan nggak bisa, sementara liburan sekolah juga sangat singkat”

“Kita juga perlu melihat ada beberapa situasi, anak butuh off dulu dari sekolah kemudian anak “dipaksa’ lagi untuk sekolah, sementara misalnya usianya sudah tidak sesuai dengan tingkat sekolah yang harus diambil. Situasi seperti ini membuat kemungkinan gagal sekolah juga besar sekali, artinya ada situasi yang membuat kembali ke sekolah itu bukan pilihan yang tepat untuk anak itu. Tapi bukan berarti anak itu nggak terdidik kan?”

Mbak Ella menambahkan, “Yang perlu kita pastikan itu apakah anak sudah mendapat hak pendidikan atau belum. Sekolah itu memang bukan prasyarat. Kita juga sebagai orangtua nggak bisa menyerahkan semua nya pada sekolah, karena sekolah itu pasti punya kelebihan dan kekurangan. Harus dilengkapi dengan pendidikan keluarga, anak perlu juga dipaparkan pada media yang baik. Sekolah itu kan hanya alat, semua memang akan kembali pada value keluarga.”

Wah, saya sih setuju sekali dengan yang dikatakan Mbak Ella. Orangtua memang nggak bisa menyerahkan anak begitu saja pada sekolah. Bukankah, sebenar-benarnya guru terbaik bagi anak adalah orangtuanya sendiri?


Post Comment