5 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Anak Demam

Pengalaman jadi ibu dari anak yang kini berusia 7 tahun membuat saya banyak belajar. Termasuk belajar tentang beberapa kesalahan yang perlu dihindari ketika menghadapi anak demam.

Coba para ibu yang sering panik dan pusing tujuh keliling saat menghadapi anak demam, mana suaranya? Dulu, saat jadi ibu baru saya pernah berada di posisi ini. Cemas berlebihan ketika anak mulai demam. Bawaannya, mau buru-buru membawa ke dokter. Kalau perlu langsung minta obat yang cespleng buat menurunkan demam. Intinya, saya selalu berusaha melakukan berbagai cara untuk mengatasi demam tersebut. Sayangnya, terkadang saya sampai lupa bahwa ada beberapa prinsip tatalaksana yang perlu diperhatikan.

Belajar dari pengalaman pribadi, dan hasil ngobrol dengan dokter spesialis anak, saya pun disadarkan bahwa orangtua seringkali melakukan kesalahan-kesalahan umum saat menghadapi anak demam. Kesalahan apa saja? Saya coba rangkum, ya, siapa tahu bermanfaat buat mommies yang lain

kesalahan orangtua saat anak demam

  1. Terlalu panik

Yup, orangtua mana sih, yang nggak panik saat anaknya sakit? Apalagi anaknya masih bayi atau batita. Hati pasti langsung nelongso ketika melihat anak demam, mulai lemas, kehilangan selera untuk bermain. Tapi percayalah, saat kita punya rasa cemas yang berlebihan justru membuat kita tidak bisa berpikir dengan jernih. Jadi bingung sendiri, harus melakukan apa. Supaya rasa khawatir nggak bertambah dua kali lipat, saya pun mulai belajar fakta penting yang wajib diketahui orangtua saat anak demam. Perlu digarisbawahi, nggak panik di sini bukan berarti lantas membuat kita jadi cuek dan menganggap demam itu sepele, lho, ya.

  1. Menganggap demam adalah penyakit

Fakta pertama yang perlu kita pahami adalah demam bukan sebuah penyakit, melainkan mekanisme tubuh untuk melawan infeksi. Infeksi ini bisa berupa gangguan dari penyakit atau hal yang lain, misalnya ketika anak mulai tumbuh gigi. Bibit penyakit akan melemah dan musnah pada lingkungan bersuhu tinggi, oleh karena itu sebenarnya demam justru diperlukan untuk mematikan penyakit. Justru kalau demam diturunkan secara paksa, saat penyakit belum sepenuhnya musnah, suhu tubuh akan naik lagi terpicu masih adanya bibit penyakit.

  1. Asal-asalan memberikan dan memilih obat

Lewat mengikuti beberapa seminar dan edukasi media, termasuk ngobrol dengan DSA-nya anak saya Bumi, saya jadi sering diingatkan kalau kita, para orangtua harus lebih dulu memahami kalau ada patokan dasar suhu tubuh yang memerlukan intervensi obat-obatan ketika anak mengalami demam. Mulai dari bayi usia di bawah 3 bulan dengan suhu di atas 38ºC,  kemudian bayi usia 3-6 bulan dengan suhu di atas 38,5ºC, sedangkan untuk anak di atas usia 6 bulan dengan suhu di atas 39ºC. Jika suhu tubuh memang sudah menunjukkan angka perlunya intervensi obat.  Tentunya dengan dosis yang tepat, dengan mengetahui berat badan anak.

Sayangnya karena obat penurun panas banyak dijual secara bebas, tidak sedikt orangtua yang sembarangan memilih, termasuk memberikan obat penurun panas yang berbasis ibuprofen dan asam asetilsalisilat/asetosal atau aspirin Padahal kandungan ini bisa menimbulkan efek samping luka pada lambung karena termasuk obat yang cukup keras.

Sejauh ini saya hanya memercayai obat yang mengandung parasetamol  karena memang direkomnedasikan oleh WHO karena terbukti paling aman sebagai pereda panas dan nyeri pada anak-anak termasuk ibu hamil. Contohnya, tentu saja Panadol yang sudah aman dan terpercaya.  Saat ini sudah ada 3 pilihan Panadol sirup, untuk anak 0 -1 tahun, untuk anak 1 sampai 6 tahun dan untuk 6 tahun ke atas. Alasan kenapa saya memilih Panadol sirup juga nggak terlepas karena obat ini punya toleransi yang baik terhadap lambung. Cara kerjanya juga sangat efektif untuk meredakan semua jenis demam. Saat memberikannya pada anak saya juga nggak perlu usaha keras karena memang rasa raspberry enak.

  1. Memaksa anak untuk bisa makan

Duh, kebayang tidak bagaimana enggak enaknya kalau kita sedang demam? Punya selera untuk makan tidak? Saya rasa, sih, nggak ya. Sayangnya saat jadi orangtua, dan anaknya demam, kita suka lupa untuk memaksakan anak agar tetap makan. Padahal nafsu makannya sedang menurun secara drastis. Untuk itu, ada baiknya nggak perlu memaksa. Tapi anak tetap perlu asupan makanan yang cukup dengan gizi yang seimbang. Kalau saya, sih, biasanya mengatasi dengan cara memberikan makan sedikit saja. Sesuap, dua suap juga cukup. Namun memang secara berkala atau sering. Ketika anak demam, yang paling dibutuhkan air putih. Nggak hanya air putih saja, sih, asupan cairan juga bsa didaptkan lewat buah-buahan, makanan berkuah, atau homemade jeli. Anak demam perlu asupan cair yang untuk merangsang tubuhnya supaya berkeringat dan kemudian bisa menurunkan suhu tubuhnya.

  1. Mendiagnosa lewat internet

Di zaman yang serba digital seperti ini, kita memang mudah mendapatkan segala informasi. Termasuk mencari tahu soal demam dan penyakit anak lewat internet. Tinggal memasukan kata kunci anak demam di mesin pencari seperti Google, kita pun dengan mudah mendapatkan ratusan hingga ribuan artikel yang memberikan informasi. Tapi apa itu cukup? Tentu saja nggak. Biar bagaimana pun, untuk mendiagnosa sebuah penyakit dibutuhkan tenaga ahli. Jangan sekedar menerka berdasarkan informasi di internet. Cara terbaik untuk mendapatkan diagnosa dan saran yang terbaik tentu saja dengan pergi ke dokter.

Baca juga : Bagaimana Penanganan Demam pada Anak

Baca juga : Waspada Terhadap Demam Rematik pada Anak


Post Comment