“Nak, Hidup Tak Selalu Indah Seperti Cerita dalam Dongeng!”

Selalu memudahkan kehidupan anak, bukan solusi dari ketidakpuasan kita akan kehidupan masa kecil di masa lalu. Justru malah bisa berdampak buruk buat kehidupannya kelak.

Suatu hari saya tertohok mendengar kata bijak yang disampaikan abang ipar, kira-kira bunyinya seperti ini, “Jangan selalu memudahkan anak, untuk menyusahkannya di kemudian hari.”  Saat kalimat pendek itu mampir di telinga, saya belum mempunyai anak. Masih meraba-raba apa maksudnya, sempat bergumam, “Kok tega, banget, sih. Kan anak sendiri, kenapa juga nggak dibantu?”

MD11

Sampai datang masa-masa saya membesarkan si anak lanang pertama kami, Jordy. Tantangan demi tantangan mau tak mau saya dan pasangan lewati. Di tiga bulan pertama, adalah masa terberat. Jordy belum menemukan pola pasti untuk jam tidurnya. Alhasil, tidur nyenyak jadi barang langka untuk saya. Memasuki usia 6 bulan, drama baru dimulai. Dituntut selalu kreatif meracik menu, meminimalisir kebosanan Jordy, dan berakhir melepeh makanan yang sudah saya buat sepenuh hati. Sampai dititik ini, tentu anak masih bergantung sama kita 100%.

Hidup sebagai orangtua semakin berat *__*, ketika Jordy sudah bisa jalan, bicara dan punya kenginanannya sendiri, dan tak jarang bergesekan dengan kepentingan orangtuanya dan lingkungan sekitarnya. Di poin ini, saya mulai ngerti, kata bijak yang sempat saya singgung di atas. Ada yang merasakan hal yang sama dengan saya? hahaha, *cari teman

Sebagai orangtua yang dilabeli orangtua millennial, saya sadar banget pernah mencicipi pola asuh orangtua yang cenderung mengekang (helicopter parenting). Ngerinya, nih, saya jadi berbalik 180 derajat ke anak saya. semua serba “iya”, semua serba dibolehin. Dampak dari masa lalu saya, kalau mau apa-apa benar butuh perjuangan! Misalnya aja, saya pernah minta kamera DSLR yang ketika itu baru keluar dan saya lagi hobi motret. Syaratnya sederhana, sih! 3 semester berturut-turut IP saya nggak boleh geser dari 3,5. Sampe lengser dari angka terebut, kamera ditarik dan dijual lagi *ouch!

Saya nggak mau, Jordy tumbuh jadi anak yang mentalnya ciut. Apalagi dia laki-laki, akan datang waktunya harus berjuang untuk keluarga kecilnya. Jadi orangtua millennial memang penuh perjuangan. Bayangkan saja, betapa mainan anak-anak zaman sekarang, lucunya minta ampun. Kita aja orang dewasa bisa dengan mudah tergoda. “Duh, zaman gue nggak ada yang kayak gini, beli ah buat si kecil,” “Dulu gue minta apa-apanya susah banget sama bonyok. Sekarang bolehlah, gue royal sama anak sendiri?!”. Mudah-mudahan, kita semua dijauhi dari bisikan-bisikan semacam ini, ya.

Nggak apa-apa kok, kita jadi orangtua yang anti-helicopter parenting, tapi jangan juga kebablasan. Karena anak tetap harus mendapatkan porsi pengawasan yang pas dari orangtuanya. Bukan dosa besar, kita menunda atau meniadakan keinginan anak. Tujuannya supaya si kecil juga paham, kalau nggak semua permintaannya harus dituruti. Dan ada proses usaha yang harus ia lalui.

Anak juga harus belajar kecewa, mendengar kata tidak. Tentu diiringi dengan alasan yang masuk akal. Bayangkan kalau anak nggak pernah terpapar perasaan sejenis ini. Pas nanti dia besar, hidup nggak mungkin berjalan mulus seperti cerita dalam dongeng, kan? Pasti ada masalah, pasti ada konflik, mari persiapkan mereka untuk hal-hal semacam ini.

Contoh kecil yang bisa dicicil dari dini, membiasakan membereskan mainan. Awalnya memang terasa berat. Pelan-pelan kalau dicontohkan, anak akan terbiasa.  Kalau mau ikut bantuin, sertakan anak dalam proses itu. Ada nilai plus lainnya, anak jadi belajar, saling menolong itu juga bagian dari usaha mendapat sesuatu yang dia butuhkan.

Memanjakan anak masih dalam batas wajar, menurut saya boleh saja. Lebih kepada , memperkaya hati mereka. Kalau anak cerita, dengarkan baik-baik, beri respond dengan detail – jangan sambil main HP dan masih sibuk sama kerjaan kantor.

Percuma juga, kan. Merealisasikan semua kenginannya, kalau ujung-ujungnya hanya akan menyulitkan kehidupan anak di kemudian hari.

Selamat Hari Anak Nasional 2017, mommies!

Baca juga:

Mendidik dan Menjaga Generasi Z Itu Sungguh Menantang

Agar Anak Laki-laki Menjadi Gentleman


Post Comment