3 Nasihat Pernikahan

Ditulis oleh : Maureen Hitipeuw 

Sedikit banyaknya seperti proses perceraian yang mengajarkan saya banyak pelajaran berharga soal pernikahan.

Seperti hal lainnya dalam kehidupan ini, kita cenderung mendapatkan pelajaran berharga setelah melakukan kesalahan-kesalahan, beberapa lebih condong masuk ke dalam kategori kesalahan fatal. Atau, seperti yang sering ayah saya dengungkan sejak saya kecil “Sometimes, you just have to learned the hard ways.”

Di bawah ini tiga nasihat pernikahan sederhana yang saya pelajari dari gagalnya rumah tangga saya.

nasihat pernikahan - mommiesdaily

Jika sesuatu membuat kita kesal, bicarakan hal tersebut.

Hal-hal yang mengganggu kita perlu untuk dibicarakan.

Mungkin pasangan melontarkan sesuatu yang menyakiti perasaan kita. Meremehkan mungkin?

Apa pun hal menyebalkan itu, your feelings are hurt. Tapi biasanya karena tidak mau menimbulkan argumentasi atau malah menjaga perasaan suami supaya tidak terluka justru berakhir tidak baik.

Kenapa? Karena apa hal-hal yang melukai perasaan kita bukalah hal sepele. Karena perasaan terluka dan marah itu tidak akan pergi begitu saja jika tidak diselesaikan.

Alasan lainnya? Pasangan bukan seorang mind reader, alias terkadang mereka juga tidak sadar bahwa ada ucapan mereka yang menyakiti kita.

Sakit hati itu jika dipendam terus hanya akan berakhir fatal. Seperti poin ke dua saya.

Perasaan yang dipendam tidak akan hilang begitu saja. Mereka akan mengakar dan bertumbuh

Semua perasaan sakit hati yang kita pendam itu? Semua perasaan yang kita abaikan? They don’t go away, mereka berkembang.

Perasaan itu justru akan melekat kepada setiap perasaan yang kita miliki untuk pasangan. Ada masanya perasaan-perasaan itu akan muncul kepermukaan. Biasanya justru di saat kita bertengkar mengenai hal lain.

Misalnya, kita berdebat dengan pasangan soal kebiasaannya melempar baju kotor begitu saja dilantai, mendadak seluruh perasaan kesal dan amarah yang terpendam akan meledak. Akhirnya? Perdebatan ini sudah bukan lagi soal baju kotor tapi soal baju kotor DAN Ibu Mertua. Bukan cara produktif untuk menyelesaikan perselisihan pendapat kan?

Date Nights Tidak Selalu Berhasil

Kalau date nights adalah satu-satunya saat dimana kita dan suami melakukan kegiatan bersama-sama sebagai pasangan…hmmm…maaf ya, tapi berkencan sekali seminggu saja tidak akan menyelamatkan pernikahan kita. Makan malam dan nonton film bukan jaminan keberhasilan pernikahan.

Ini hanya date night, bukan keajaiban.

Ya pastinya menyediakan waktu khusus untuk menikmati waktu berdua saja dengan pasangan tanpa anak-anak adalah ide yang bagus kok tapi kalau satu-satunya waktu yang kita miliki untuk berduaan saja dengan pasangan? Maka sesungguhnya pernikahan kita sudah bermasalah.

Pernah dengar istilah “Never stop dating your spouse?” Jika diartikan bebas intinya sih jangan pernah berhenti mengencani pasangan kita. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk ‘mencuri’ waktu dimana kita bisa berduaan saja dengan pasangan. Misalnya, ciptakan tradisi ngopi bareng di pagi hari meskipun kita harus mengorbankan bangun lebih pagi misalnya. Tapi percayalah tradisi-tradisi kecil yang kita ciptakan berdua ini akan menjadi faktor-faktor yang menguatkan komitmen terhadap satu sama lain.

Alangkah baiknya kita selalu memastikan sesibuk apa pun kehidupan kita apalagi jika ada anak-anak yang membutuhkan perhatian penuh bahwa kita tetap memiliki quality time berdua dengan pasangan. You need to nurture your relationship.

Pernikahan tidak selamanya akan berjalan mulus-mulus saja tapi jika kita bersedia untuk working through the difficult times dan keep nurturing the relationship, you will be fine.

 

Maureen Hitipeuw adalah ibu tunggal satu anak, blogger (www.scoopsofjoy.com) dan social media influencer, penggagas Single Moms Indonesia (www.singlemomsindonesia.com). Drink way too much coffee, pecinta jalan-jalan dan photography.


Post Comment