Rika Mayasari, “Goals Saya adalah Mampu Membuat Karyawan Sejahtera”

Rika Mayasari, sepertinya sangat percaya pada idiom bahwa masih ada langit di atas langit. Hal inilah yang membuatnya rendah hati, dan tidak mudah merasa puas saat  atas kesuksesan yang sudah didapatnya. Zona nyaman adalah area berbahaya, yang membuatnya berkali-kali memilih pergi mencari langit lain demi mengembangkan kerajaan bisnisnya, R&R Public Relations.

Buat pekerja media seperti saya, pasti sudah cukup akrab dengan nama R&R Public Relations, salah satu PR agency lokal yang digagas oleh perempuan  bernama lengkap Rika Mayasari, yang lebih sering saya sapa dengan panggilan ‘Mbak Rika’. Saya sendiri sudah mulai familiar mendengar R&R sejak 10 tahun yang lalu, ketika saya memutuskan berkarier di dunia jurnalistik.

Beruntung, beberapa waktu lalu Mbak Rika menyisihkan waktunya untuk berbagi ilmu.  Ya, siapa tahu kan saya bisa mengikuti jejaknya? Yang pasti, banyak insight menarik yang bisa saya petik lewat obrolan kami yang berlangsung hingga 2 jam. Khususnya bagaimana perjalanan Mbak Rika membesarkan ke tiga anaknya, Annisa Chika Novriadi (22 tahun) dan Raka Ihsan Ramadhan (19 tahun) dan tentu saja anak ke-3nya, R&R yang kini sudah berusia 17 tahun.

IMG-20170712-WA0000

Mbak, ceritain sedikit dong perjalanan R&R Communications…

R&R April kemarin sudah 17 tahun. Ibarat anak, R&R ini memang sedang mekar-mekarnya. Saya sendiri nggak pernah membayangkan kalau bisa sampai sejauh ini karena memang cikal bakalnya ini kan dari SOHO.  Dulu saya pengen bisa di rumah tapi tetap ada aktivitas. Pada dasarnya, karena saya ini nggak bisa diam. Background memang Komunikasi Massa di Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, lalu lanjut di Prasetya Mulya, lebih ke Manajeman Marketing.

Perjalanan dunia PR saya mulai  di SIMA Public Relations dengan jadi Junior Secretary. 7 tahun  bekerja di sana membuat saya merasa kalau ini seperti sekolah, banyak yang didapatkan ketika bekerja di sini. Kebetulan saya juga dapat atasan yang jago banget di administrasi, termasuk membuat time sheet. Ternyata, menurut saya time sheet ini  perlu banget untuk PR, untuk mengukur seberapa besar kami produktif. Harus tahu ukuran pekerjaan yang kami lakukan. Mulai dari media relations, media visit, develop proposal sampai membuat release. Dan ini ternyata sangat saya perlukan ketika membangun sebuah perusahaan seperti sekarang.

Menurut Mbak Rika, apa sih, kekuatan Mbak Rika hingga akhirnya bisa membangun R&R sampai sebesar sekarang?

Dulu saya memulainya di Sima dengan jadi junior sekertaris. Saya ingat, atasan saya dulu bilang kalau kemajuan yang bisa saya dapat itu karena curiosity yang tinggi. Tapi bukan kepo seperti anak-anak zaman sekarang, ya. Senang ‘intip’ akun Instagram orang lain, hahaha.  Saya itu senang observasi, melihat kenapa sih teman saya bisa ini dan itu. Setelah observasi, kemudian saya bisa belajar. Saya sendiri mengakui kalau memang lebih cepat belajar dari orang dan situasi ketimbang baca buku. Bukan berarti tidak senang membaca, tapi berbeda dengan suami saya yang senang membaca, saya itu perlu mencari mood yang enak dulu untuk membaca.  Buat saya, 7 tahun bekerja di Sima jadi bekal hingga bisa seperti sekarang ini.

Lalu, apa yang memberanikan Mbak Rika untuk resign dari Sima dan membangun R&R?

Waktu itu saya berhenti karena mau berangkat haji. Saya ingin lebih dekat dengan anak-anak, 3 bulan menjelang berangkat Haji saya pun berhenti, kerjanya hanya anter jemput anak, bergaul dengan ibu-ibu sekolahan. Begitu juga 3 bulan setelah pulang dari ibadah Haji. Tapi kemudian saya sadar, kok, ini sepertinya bukan saya? Saya merasa nggak nyaman dan nggak punya manfaat untuk orang lain. Waktu itu saya mulai gelisah, rasanya seperti kuper. Kemudian saya bilang ke suami, kalau saya mau kerja saja tapi kerja dari rumah. Akhirnya saya dikasih jalan untuk kerja, dengan modal kepercayaan mantan client saat saya masih bekerja di SIMA. Hal inilah yang akhirnya membuat saya percaya diri. Dari pegang Asuransi, akhirnya membuka jalan untuk dapat klien lain seperti DHL, Microsoft, dan beberapa brand lain. Waktu itu saya kerja dari rumah, sambil dasteran, hahahaa.

Sampai pada satu titik, ketika saya diberikan banyak kemudahan saya merasa kenapa egois menikmatinya sendiri? Walaupun nggak merasa kelimpungan. Tapi akhirnya saya minta bantuan kakak saya untuk urusan membuat invoice. Hingga akhirnya saya membantu Ellipse PR. Tapi dari sana saya sadar buat apa saya kerja ditempat orang lain? Kenapa nggak mengembangkan SOHO saya sendiri? Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan  R&R hingga ada teman yang tertarik untuk gabung dan menjadi partner.

IMG-20170712-WA0001

Yang paling menantang selama membangun R&R?

Yang paling challenging buat saya adalah managing people. People and client come and go, itu memang biasa. Tapi, waktu itu saya pernah melewati bedol desa. Dalam waktu 3 bulan hilang karyawan inti, ada 6 orang. Ini adalah pukulan kedua buat saya. Waktu itu tahun 2010, bahkan klien seperti Unilever juga sudah tahu kalau saya banyak ditinggalkan oleh karyawan. Mental saya sampai harus saya kuatin kalau mau meeting. Saya mungkin dianggap tidak mampu me-manage karyawan. Tapi kalau boleh jujur, karyawan inti yang keluar itu nggak ada yang sakit hati. Justru  jadi ada yang bikin perusahan PR sendiri, jadi pegawai negeri, tapi saya nggak mungkin menjelaskan semua itu ke klien kan. Hal ini yang bikin saya nggak PD. Sampai akhirnya kejadian tersebut memberikan saya pelajaran berharga, termasuk membuat perusaahan lebih ‘sehat’ dan mengingatkan saya untuk tidak sombong karena selama ini keran saya sudah dibuka dengan deras oleh Tuhan.

Selama 17 tahun membangun R&R, ada nggak masa-masa yang bikin Mbak Rika merasa drop?

17 tahun menjalankan R&R nggak terlalu banyak persoalan yang saya hadapi. Alhamdulillah cukup smooth. Namun dalam perjalanan tersebut dua kejadian yang saya lalui cukup membuat mental saya drop karena kepercayaan diri saya turun. Satu ketika harus pisah dengan partner saya pada tahun 2007 dan yang kedua saya ditinggal oleh team inti saya dalam waktu yang bersamaan di tahun 2010. Kekuatan saya datang justru dari suami saya kala itu yang memompa semangat saya dengan pesannya, ‘Masih ingat ketika kamu bangun usaha mu sebagai small office home office? Kamu memulainya sendiri hingga 3 tahun lalu kenapa sikon ini membuat kamu menjadi down?’ Motivasi inilah yang akhirnya membuat saya sadar, selain itu juga teman-teman yang masih stay bersama saya untuk terus melanjutkan R&R.

Sebagai mompreneur, sebenarnya apa, sih, yang jadi goals Mbak Rika?

Menjadi goals dalam menjalankan R&R tentu saja ingin membantu mensejahterakan karyawan dan keluarganya sebagai giving back saya pada besarnya nikmat dan karunia yang Allah beri pada saya melalui R&R Public Relations. Kalau saya sejahtera sendiri, saya terlalu egois.

PR agency kan sekarang banyak, apa yang membuat R&R survive?

Mungkin perlu orang lain yang menilai. Mengapa mereka tetap percaya pada R&R, tapi kalau saya melihatnya, orang-orang internal di R&R ini yang punya can do attitude, yang memberikan reaksi yang baik pada client. Punya pendekatan yang berbeda dengan pada klien. Kita lebih mengedepankan atitude yang baik dengan memberikan reaksi positive lebih dulu. Saya pun selalu menanamkan pada teman-teman untuk bekerja dengan hati.

Buat saya kerja adalah ibadah. Bekerja dengan hati semata mencari karunia-Nya. Dalam rangka terus mendekatkan diri kepada Allah, saya bersama partner memiliki kebijakan dalam mengelola perusahaan ini dengan tidak meng-handle client perusahaan minuman keras, rokok, yayasan yang didirikan dari perusahaan rokok, jual beli senjata, minuman keras dan proyek siluman yang ada unsur ‘titipan’. Saya ingin amanah yang Allah berikan ini menjadi keberkahan bukan hanya untuk saya dan partner saya sebagai pemilik,  tapi juga pada mereka para karyawan saya dan keluarganya.

Pandangan Mbak Rika terhadap ibu bekerja?

Saya salut dengan ibu bekerja, tapi saya lebih salut pada ibu yang bisa bekerja rumah tangga. Tandanya ia mampu menahan hasrat, untuk bisa melihat dunia luar lebih sering. Sementara kalau kita para ibu bekerja tentu punya kesempatan yang sangat banyak. Tapi saya melihat, untuk kondisi saat ini memang sepertinya agak sulit kalau isteri tidak membantu suaminya bekerja karena biaya hidup itu kan sudah tinggi. Tapi jangan sampai alasan bekerja juga karena menganggap rezeki atau pendapatan  suami itu kurang. Tapi kebih niatkan bekerja karena Allah  Selama perempuan bisa menempatkan posisinya dengan baik, tentu akan baik-baik saja.

Sebagai ibu dari dua orang anak yang sudah beranjak dewasa, fase apa yang terasa sulit?

Dalam phase membesarkan anak-anak, yang paling challenging adalah ketika mereka masuk usia pra-remaja dan remaja. Kekhawatiran yang berlebihan karena pengaruh dari luar rumah membuat saya acapkali menjadi ibu yang parno. Sampai akhirnya saya diberi musibah melalui anak saya Raka karena di DO dari sekolah saat SMP. Di sini saya belajar mengambil hikmah bahwa rasa khawatir itu harus disertai dengan do’a yang tidak boleh putus, kepasrahan pada kehendak Allah, serta perhatian penuh untuk anak-anak.

IMG-20170712-WA0004

Sebagai ibu bekerja, saat itu usaha saya lagi masa puncak-puncaknya, harus saya akui waktu saya lebih banyak tersita untuk pekerjaan. Risiko yang harus saya tanggung dan untuk itu ketika masalah itu datang, saya memutuskan istirahat dari kerja kantoran selama tiga bulan untuk temani anak saya.

Dari situ saya belajar, bahwa sebagai orangtua, saya bisa berperan jadi teman buat mereka. Alhamdulillah saya mendapatkan itu dan bisa merasakan bagaimana anak cowok saya waktu itu minta ditemani beli setangkai bunga mawar buat teman ceweknya, diskusi tentang cewek itu unik ya susah susah gampang. Pergi ngopi berdua bahkan berlibur berdua dengan anak cowok saya ke tempat yang dia mau. Walau saya bisa dapatkan itu semua melalui jalur yang curam lebih dulu.

Ibu hebat di mata Mbak Rika?

Definisi ibu yang hebat buat saya adalah ibu yang bisa menjadikan anak-anaknya menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan anak-anak yang senang berbuat kebaikan.

Menjadi orangtua di mana kini, apa yang paling Mbak Rika khawatirkan?

Anak pindah agama. Itu yang paling membuat saya khawatir.

Apa yang Mbak Rika paling harapkan sebagai seorang ibu?

Ada dua, pertama menjadi ibu yang kuat (fisik dan mental) karena saya orangnya sangat sensitifi dan perasa. Kedua bisa jadi ibu yang bisa jadi suri tauladan untuk anak cucu saya. Hanya saja, keduanya saya belum bisa optimal lakukan, sedang proses menuju kesana. Insyaa Allah dicukupkan waktu.

Sibuk urusan kantor dan domestik, bagaimana cara Mbak Rika mengelola stress?

Tidur atau istirahat yang cukup. Sebenarnya, mood saya mudah terganggu jika jam tidur kurang soalnya, hehehehe. Kemudian mengerjakan amalan sunnah seperti sholat tahajud dan dhuha, sebagai permohonan ampun karena pasti godaan emosi kala stress cukup tinggi, ahaha, dan yang terakhir  mencoba me-recall hal-hal yang menyenangkan yang pernah saya lalui sebagai bentuk tanda syukur.
———

Setujukan, kalau obrolan saya ini bersama Mbak Rika ini meninggalkan banyak insight yang bisa dipetik? Terima kasih buat waktunya, ya, Mbak Rika. Semoga ‘kerajaan’ bisnisnya bisa kian berkembang, sehingga goals-nya bisa tercapai.

 

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment