Nak, Nilai Ulangan Jelek Bukanlah Akhir Dari Segalanya

Orangtuanya sih santai-santai aja, tapi anaknya yang down (banget) saat nilai ulangan jelek nggak sesuai harapan. Gimana dong sikap kita sebagai orangtua?

Biasanya anak usia SD itu stress begitu nilai ulangannya nggak bagus karena deg-degan akan kena marah orangtuanya (yang memberikan target nilai untuk si anak). Tapi ada juga kasus yang orangtuanya nggak nuntut apa-apa, orangtuanya santai, tapi anaknya yang malah stress dan down begitu nilai ulangannya nggak sesuai dengan target yang dia sendiri ciptakan. Ada anak macam itu? Ada banget! Anaknya teman saya :D.

“Duh, gue bingung deh sama si Abang. Gue kan nggak pernah ya nuntut dia harus dapat nilai tertentu, harus juara kelas atau target-target lainnya ya. Karena gue nggak mau dia jadi terlalu fokus sama nilai, dan nggak nikmatin masa sekolah. Tapi, guenya udah santai, dianya yang stress sendiri. Kadang sampai nangis. Gue ngelihat gitu kan ya kesal, tapi juga sedih sama kasihan. Nggak ngerti harus gimana..”

Kepanikan teman saya itu semakin kuat setelah beberapa waktu lalu dia sempat membaca kasus yang anak SMP di Klaten bunuh diri karena nggak puas dengan hasil nilai ujiannya.

Baca juga:

Mengapa Anak Ingin Bunuh Diri?

“Gue yakin sih Abang nggak bakal mengambil tindakan yang nekad, tapi ya gue merasa kebiasaannya dia yang sering stress dan down itu nggak bisa jugalah dibiarin gitu aja, kalo keterusan dan kebablasan?”

Susah juga ya, di saat kita sebagai orangtua merasa sudah mencoba bersikap sebijaksana mungkin dan kurang-kurangin menuntut, ternyata anak kita malah yang mungkin ambisius.

Kalau menurut mbak Vera Itabiliana Psi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk meredam rasa kecewa anak. Berikut point-point yang dishare oleh mbak Vera:

Nak, Nilai Ulangan Jelek Bukan Akhir Segalanya - Mommies Daily

1. Biasanya saat nggak puas dengan hasil, anak suka ngedumel berkepanjangan, untuk mengungkapkan rasa marah serta kecewanya. Bahkan tak jarang memang ada anak yang sampai menangis. Jika ini terjadi, hal pertama yang wajib dilakukan orangtua adalah menjadi pendengar yang baik. Biarkan dia keluarkan uneg-unegnya sampai puas!

2. Setelah anak sudah mulai tenang, baru ucapkan kalimat-kalimat yang menenangkan, seperti:

“Next time kamu masih ada kesempatan untuk mencoba lagi kok, nak.”

“Boleh sedih, boleh marah tapi jangan berlarut-larut ya sayang.”

3. Tunjukkan bahwa dia masih memiliki segudang kelebihan lain yang bisa dibanggakan. “Kamu mungkin nilainya nggak sesuai harapan di mata pelajaran Bahasa Indonesia, tapi kan kamu bagus banget di Bahasa Inggris. Nilai praktik olahraga kamu juga bagus. Oh iya jangan lupa kalau kamu juga pintar main piano.” Biar anak belajar untuk tidak selalu fokus pada kekurangannya, namun juga menghargai kelebihan yang dia punya.

4. Ingatkan si anak bahwa dia sudah berusaha dengan keras dan itu yang penting bahwa dia sudah berusaha sebisa mungkin. Ini agar anak tidak selalu fokus pada hasil saja, namun juga belajar menghargai sebuah usaha.

5. Buka wawasan anak bahwa memang akan selalu ada orang lain yang lebih baik dari dia, begitu pun ada juga orang lain yang tidak sebaik dia.

6. Untuk anak SD, nggak ada salahnya kalau sebagai orangtua, kita mengingatkan bahwa perjalanan dan perjuangan hidupnya itu masih panjang. Masih ada SMP, SMA, Kuliah hingga dunia kerja. Masa kalau dapat nilai jelek aja udah stress, gimana bisa tahan banting kalau menghadapi masalah yang lebih berat.

7. Orangtua juga jangan lupa ya, setiap kali anak memberikan laporan tentang nilainya, orangtua tunjukkan rasa syukur dan rasa bangga.

8. Untuk modelan anak seperti ini, biasanya mereka sudah memiliki target sendiri, jadi orangtua hindari memberikan target nilai kepada si anak. Begitu juga dengan metode belajar, biasanya anak tipe ini punya jadwal dan cara belajar sendiri, jadi jangan push dia untuk belajar. Sesekali bertanya apakah dia sudah belajar atau apakah ada yang ingin ditanya, boleh-boleh saja.

Jadi, jangan sibuk panik terus lupa bagaimana harus bertindak yang benar ya mom :).

Baca juga:

Ma, Kalau Aku Nggak Naik Kelas Bagaimana?


Post Comment