7 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memasukkan Anak ke Boarding School

Mana suara para mommies yang lagi maju mundur mau memasukkan anak ke boarding school? Coba baca deh tulisan saya, semoga memberikan pencerahan :). 

Disclaimer dulu ah, bahwa tulisan ini bukan berdasarkan pengalaman saya pribadi . Tapi karena saya melihat semakin banyak orangtua yang memutuskan untuk memasukkan anak-anaknya ke boarding school. Dan saya bukan mau membahas mengenai salah atau benar ya, karena setiap keluarga pasti kan punya value tersendiri yang berbeda dengan value di dalam keluarga saya. Hanya penasaran aja “Apa rasanya ya berjauhan dengan anak?”

Karena kalau saya mengajukan pertanyaan di atas ke diri sendiri, kayaknya saya belum siap deh berjauhan dengan Bumi, anak saya. Setidaknya itu yang saya rasakan hingga detik ini. Nggak tau beberapa tahun ke depan, hehehe.

Tapi bukan berarti saya nggak pernah tertarik untuk memilih boarding school. Ketika survei ke salah satu sekolah di Tangerang Selatan, Insan Cendekia Madani, saya dan suami cukup ‘tergoda’ untuk memasukkan anak sekolah di sana. Kebetulan, untuk tingkat SMP memang menggunakan sistem boarding school. “Toh, anak juga sudah mulai besar dan mulai bisa dilepas,”pikir saya.

Tapi apa iya, pertimbangannya cuma itu?

boarding school - mommiesdaily

Setelah ngobrol dengan Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo Psi selaku psikolog anak dan remaja, ternyata memang ada banyak hal yang perlu dipikirkan orangtua ketika memilih boarding school sebagai lembaga pendidikan anak.

  1. Sudah yakin belum?

Yup, poin pertama yang perlu diperhatikan adalah untuk menyakinkan diri sendiri lebih dulu. Apakah yakin ingin menyekolahkan anak di boarding school? Coba review  dulu, apa tujuan kita sebagai orangtua memilih boarding school untuk si kecil. “Yakin tidak? Kalau belum yakin, ya, jangan dipilih,” tegas Mbak Vera. Kalau orangtuanya saja masih ragu, bagaimana dengan anak-anaknya? Jangan sampai memilih boarding school lantaran ingin lepas tangan mengawasi anak-anak.

  1. Sudahkah anak mandiri?

Setelah kita, para orangtua yakin memilih boarding school, selanjutnya tinggal bagaimana menyiapkan anak. Sudahkah anak mandiri? Mandiri di  sini dalam artian bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Tidak tergantung pada orang lain. Biar bagaimanapun, kondisi di asrama dan rumah tentu akan jauh berbeda.

  1. Latih dengan membiasakan anak untuk menginap atau berjauhan

Coba lihat, apakah si kecil sudah siap berpisah? Umh, kalau untuk saat ini saya sih, ragu kalau Bumi bisa pisah dah jauh-jauh dari saya dalam jangka waktu yang cukup lama. Lah wong, kalau menginap di rumah si mbahnya atau rumah saudara pasti nggak betah lama. Jika anak kita memang sudah nggak rewel saat berpisah, bisa jadi tanda kalau anak sudah siap masuk boarding school.

  1. Jangan pernah memaksa anak

Dalam hal apapun saya yakin, segala sesuatu yang dipaksakan hasilnya nggak akan baik. Termasuk dalam memilih sekolah. Ketika memutuskan memilih boarding school, tentu saja perlu didiskusikan pada anak lebih dulu. Jangankan untuk pilihan boarding school, yang akan membuat anak pisah lama dari orangtua. Salah memilihkan sekolah umum saja sudah bikin anak nggak happy menjalankan rutinitasnya. Ketika anak tidak bahagia, akan berpengaruh pada hal lainnya, baik nilai akademis, emosi dan bagaimana pergaulanya di lingkungan.

  1. Perhatikan usia anak

Mbak Vera mengaku, kalau dirinya pribadi termasuk orangtua yang tidak tega untuk memilihkan boarding school untuk kedua puteranya. Khususnya untuk tingkat SD. Menurutnya, jika merujuk dari kesiapan anak, usia yang paling tepat adalah ketika anak memasuki bangku SMA, ketika anak sudah berusia 15 atau 16 tahun. Sedangkan ketika anak masih duduk di bangku SMP, justru anak-anak sedang mengalami puncak masa puber. Sudah bisa dipastikan saat ini anak masih butuh dekat dan bimbingan dari orangtua. Berdasarkan pengalamannya, Mbak Vera mengaku, tidak sedikit masalah yang dihadapi anak-anak puber yang masuk ke boarding school. Hal ini karena banyak isu yang perlu diperhatikan, salah satunya masalah ketertarikan dengan lawan jenis dan bullying.

  1. Cermat dengan visi, misi, dan fasilitas yang ada

Bisa dibilang, pilihan boarding school saat ini sudah cukup banyak. Untuk itu, jangan lupa untuk melihat visi, misi, konsep dan filosofi pendidikan sekolah yang sudah jadi incaran. Apakah sudah cocok atau belum? Pastikan punya value yang sama dengan prinsip mendidik anak. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ada sekolah yang tidak memerhatikan atau mengakomodir kebutuhan anak didiknya. Seperti yang diungkapkan Mbak Vera, sekolah juga harus disesuaikan dengan kebutuhan anak.

  1. Peka dengan tanda yang diberikan oleh anak

Mbak Vera bercerita, ia pernah mendapatkan kasus di mana si anak mengalami masalah di sekolahnya. Tidak hanya bullying, ternyata anak tersebut menjadi korban orang yang tidak bertanggung jawab karena melakukan kekerasan seksual. Sudah bisa dipastikan kalau sang anak tidak mau kembali lagi ke sekolah. Untuk itu, Mbak Vera menyarankan agar orangtua lebih peka dengan anak.

Jadi gimana, menurut mommies apakah ada hal lain yang perlu diperhatikan?


Post Comment