Tak Mau Dibilang Bully? Hindari Lakukan 10 Hal Ini Pada Pasangan

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Menurut kita sepele melakukan 10 hal ini kepada pasangan. Ternyata sudah bisa masuk ke dalam kategori membully, lho!

Sikap bully tak selalu berbentuk kekerasan fisik. Seringkali, sikap bully keluar dalam bentuk psikis atau yang dikenal dengan emotional bully. Sikap yang menurut kita terlihat sepele, tapi sebetulnya bisa masuk kategori membully pasangan, sosok terdekat kita. Emotional bully juga bisa berakibat menyakiti hati pasangan dan mengancam bahtera rumah tangga.

Tak Mau Dibilang Bully? Hindari Lakukan 10 Hal Ini Pada Pasangan - Mommies Daily

#1. Meledek kekurangan pasangan. “Ayah nggak pantes pakai jins, habis gemuk banget” Niatnya sih, (mungkin) becanda. Diomongin sambil ketawa-ketawa. Meledek kekurangan fisik, cara bicara, atau bentuk kelemahan lain yang dimiliki pasangan. Becanda dan melontarkan joke tentu sah-sah saja. Itu menjadi bumbu perbincangan. Namun, ada baiknya mengonfirmasi pada pasangan, apakah ia tersakiti dengan joke kita. Minta ia mengingatkan, jika becandaan kita sudah keterlaluan.

#2. (Sengaja) Mengunci pasangan di luar rumah. Suami pulang kantor, kita nggak membukakan pintu dan membiarkannya di luar sampai waktu yang lama, dengan alasan “Salah sendiri, pulangnya malam banget.”

#3. Suka memotong omongan pasangan saat bertengkar. “Kemarin uangnya habis buat beli laptop baru. Soalnya laptop Papa kan…..” Belum selesai suami menjelaskan, kita sudah marah-marah. “Mama nggak mau dengar alasan Papa. Papa kan udah tahu kalau sofa kita rusak dan harus ganti. Eh, malah yang dibeli laptop.” Ketika kita tidak mau mendengar argumentasi yang diberikan pasangan, sama artinya dengan menempatkan diri kita sebagai orang yang paling benar, (selalu!).

#4. Mudah menyalahkan. “Gara-gara kamu sih.” “Kan, kemarin aku bilang apa.” “Kamu selalu deh!” “Kalau memang kamu cinta, harusnya sih kamu….(gini-gini)…”

Tanpa sadar, mungkin kita pernah melontarkan ucapan seperti itu pada pasangan. Biasanya saat kita sedang kesal, sedang mengalami situasi yang sulit, lantas kita menyalahkan pasangan. Ucapan semacam ini akan membuat pasangan merasa terpojok. Dengan menyalahkan pasangan, kita melihat apa yang terjadi adalah murni kesalahan orang lain, sehingga kita tidak merasa ikut bertanggung jawab. Padahal, dalam relationship, idealnya segala hal diputuskan bersama dan tanggung jawab dipikul bersama. Pasangan adalah partner, bukan lawan yang harus dikalahkan.

#5. Menangis di depan pasangan. Suami reunian sekolah dan ketemu mantan, kita menangis. Suami keluar kota dalam waktu lama, kita menangis. Suami membela ibunya, kita menangis. Memang betul, ada sebagian orang yang mudah menangis, terutama ketika menghadapi situasi yang membuatnya tertekan. Namun perlu diingat, tangisan juga bisa menjadi senjata untuk memanipulasi orang lain, membuat orang lain melakukan apa yang kita mau. Kalau itu yang dituju, ‘tangisan drama’ malah menunjukkan kita egois dan kekanak-kanakan.

#6. Banting pintu. Pasangan membuat kita kesal? Tentu itu hal yang pernah dialami siapa pun. Akan tetapi, kemarahan itu harus pada tempatnya. Perlu ada anger management. Jangan sampai dalam keadaan kesal, kita membanting pintu rumah, pintu mobil, atau lempar piring. Ssst, enggak enak didengar tetangga! Dan jangan sampai ini menjadi alasan suami malas pulang ke rumah.

#7. Silent treatment. Niatnya menghindari konfrontasi dengan mengunci mulut. Tak mau bicara pada pasangan. Sama artinya dengan mendeklarasikan perang dingin. Kalau kita tak mau mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, sama halnya dengan membiarkan pasangan menebak-nebak dan mengambil kesimpulan sendiri, yang belum tentu benar. Pertengkaran tak bisa selesai dengan telepati, because silence is not always gold.

#8. Mogok. Kita sedang kesal dengan pasangan dan ingin menunjukkan kemarahan dengan cara mogok dan membalas dendam. Tak mau berhubungan seks, menolak beres-beres rumah, sengaja pulang larut malam, dan sebagainya. Saat marah, ada baiknya lakukan hal yang bisa membuat kita cooling down. Akan tetapi, jangan biarkan kemarahan itu berlarut-larut.

#9. Sedikit-sedikit mengancam. Kita tidak happy dan demi pasangan menuruti keinginan yang bisa membuat kita happy, lantas kita mengultimatum pasangan. Mengancam minta cerai, bunuh diri, mau selingkuh, mengancam pulang ke rumah orang tua, dan sebagainya. Mungkin, cara ini akan ampuh, tetapi ada banyak cara lain yang lebih bijak untuk menyelesaikan masalah secara dewasa. Banyak cara menjaga hubungan tetap mesra dengan pasangan.

#10. Mengungkit masalah lama. Kesalahan pasangan di masa lalu menjadi kartu truf kita, yang akan kita ungkit sewaktu-waktu. Padahal, seharusnya masalah yang terjadi di masa lalu anggap sudah selesai dan kita berdua (seharusnya) sudah move on. Toh, setiap orang bisa berubah dan belajar dari kesalahan.

Jadi kurang-kurangilah melakukan deretan daftar-daftar di atas :).

Baca juga:

10 Hal yang Saya Lakukan Untuk Meredakan Konflik dengan Suami


Post Comment