Aturan Main Bekerja di Perusahaan Keluarga

Di antara mommies, mungkin ada yang sedang bergabung di perusahaan keluarga. Walau bekerja dengan keluarga sendiri, sebaiknya juga tetap ada peraturannya, lho.

Berbeda dengan perusahaan pada umumnnya maka dalam perusahaan keluarga posisi-posisi management kunci bisa saja dipegang oleh anggota keluarga terdekat dari sang pemilik. Hal-hal seperti ini, tentu harus melalui adaptasi yang tidak mudah, apalagi jika sebelumnya mommies sempat bekerka di perusahaan biasa. Apa saja, sebetulnya aturan main, atau poin lainnya, yang mommies mesti ingat ketika bekerja dalam sebuah perusahaan keluarga?

Aturan Main Bekerja di Perusahaan Keluarga - Mommies Daily

Image: www.property118.com

Baca juga: 3 Pemikiran yang Salah Dalam Bekerja

  1. Kebijakan vs Kepentingan keluarga

Kebijakan bisa saja diambil atas pertimbangan kepentingan keluarga yang bersangkutan. Dalam hal ini mommies yang terbiasa dengan perusahaan terbuka, tentunya harus beradaptasi dengan kebijakan-kebijakan yang diambil, yang mungkin saja tidak bisa dimengerti dari kacamata pertimbangan pasar ataupun logika bisnis pada umumnya. Dalam sisi karier tentunya mommies juga harus menerima fakta bahwa posisi strategis akan dipegang oleh orang-orang dari pihak keluarga.

Baca juga: Ingin Cepat Mendapatkan Promosi? Lakukan Hal Ini!

  1. Besar kecilnya perusahaan pengaruhi strategi bisnis

Jika perusahaan keluarga belum terlalu besar maka kebijakan yang diputuskan oleh pemilik bisa langsung dilaksanakan dalam waktu yang cepat dibandingkan perusahaan pada umumnya yang banyak dibatasi oleh peraturan, waktu maupun sistem. Ini bisa saja merupakan suatu keuntungan karena Anda bisa cepat bereksperimen dengan strategi-strategi bisnis baru. Namun bisa juga menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri Anda yang sudah terbiasa bekerja dengan sistem yang mapan.

  1. Corporate culture

Demikian pula halnya dalam budaya perusahaan, maka dalam perusahaan keluarga sangat terasa nilai-nilai yang dianut sang pemilik akan mewarnai keseharian Anda. Bahkan sang pemilik bisa saja menjadi contoh paling nyata dari praktek management yang ia inginkan, baik itu dari sisi positif maupun negatif. Tentunya hal ini memberikan konsekuensi positif dimana mommies akan melihat budaya perusahaan yang konkrit dan nyata ditunjukkan oleh pihak keluarga, dan juga memiliki dimensi personal. Bayangkan ketika mommies bekerja di perusahaan umum yang core values-nya mungkin sudah terdokumentasi didalam secarik kertas, namun kadang terasa tidak bernyawa.

Sebagai informasi tambahan, beberapa perusahaan keluarga juga telah menjadi begitu mapan, dimana keluarga hanya menjadi pemilik, tetapi proses operasional dikelola oleh para professional. Dalam perusahaan ini terdapat kombinasi ini  yang unik antara budaya yang mengakar dan proses kerja yang sudah lebih sistematis. Dalam hal ini mommies layaknya bekerja di perusahaan pada umumnya. Apalagi jika pihak keluarga sudah memiliki generasi penerus yang lebih modern dan menginginkan improvement terus menerus.

Baca juga: Menjalin Networking di Tengah Jadwal yang Super Padat

*Artikel ini ditulis oleh Billy Latuputty, Psi, Tim EXPERD .


Post Comment