Tujuh Hal yang Perlu Diketahui Orangtua PreSchool

Oleh: Lariza Puteri

Saat anak akan masuk Sekolah Dasar dengan anak akan masuk preschool ternyata persiapannya beda ya. Ini pengalaman saya saat mengantar Dhia masuk preschool.

Saat Dhia masuk PreSchool 3 tahun yang lalu, saya merasa, saya pun seakan berada di milestone yang baru sebagai orangtua. Mungkin sama seperti yang dirasakan Dhia saat ia masuk ke dalam kelas pertama kali: cemas, gugup, deg-degan, tapi senang bukan kepalang.

Sama seperti orangtua yang lain, saya juga melakukan beberapa persiapan, yang konon dilakukan agar anak siap, ibu juga siap. Tapi, namanya juga anak, kan, yaaa, drama sih tetap saja terjadi. Misalnya saat ia nangis dan kekeuh nggak mau masuk kelas.

Dari pengalaman saya, ada baiknya kita mengetahui beberapa hal ini, untuk mempermudah diri sendiri, guru dan yang terpenting bagi anak kita sendiri.

Tujuh Hal yang Perlu Diketahui Orangtua PreSchool  - Mommies Daily

1. Ciptakan perpisahan tanpa drama

Hmmm, baiklah, kalau mau jujur, sebenarnya saya juga punya andil cukup besar dalam menciptakan drama, hahaha. Misalnya saat anak menangis tak mau masuk kelas, saya ikut menangis (ngembeng) dan memilih untuk mengajaknya pulang, kemudian berjanji akan mencobanya lagi besok. Apakah ini jalan terbaik? Tentu tidak. Saya lupa, anak punya kemampuan manipulasi yang mungkin jauh lebih jago daripada saya. Kemudian saya bertanya ke diri sendiri, masak sih saya ‘kalah’ dengan sedikit tangisan?! Kapan anak akan belajar mandiri? Akhirnya saya pun tidak berlama-lama di pintu kelas saat mengantar Dhia, dan segera pergi setelahnya. Setelah masuk kelas, toch, guru akan meng-handle dengan baik anak-anak kita.

2. Miliki support system yang tertata

Bagi ibu bekerja seperti saya, mengandalkan support system memang sudah pasti. Saya bisa mengantar Dhia saat ia berangkat sekolah, tapi saat pulang, si mbak-lah yang saya tunjuk untuk menjemput Dhia. Namun, just in case si mbak berhalangan, saya punya daftar lain seperti ibu dari teman Dhia atau tetangga untuk menjemput Dhia. Yang pasti saya informasikan dulu ke pihak sekolah.

3. Guru PreSchool tak sekadar ‘guru’

Jangan pernah sekali-kali menganggap pekerjaan guru PreSchool itu mudah karena mereka seakan hanya menemani anak bermain. Jangan lupa, saat bermain itulah anak sebetulnya belajar. Dari tumpukan balok dan lagu-lagu yang mereka nyanyikan itulah mereka belajar. Hargai setiap cara mereka saat mengajak anak kita bermain. Sebab, saat itu jugalah perkembangan motorik anak dan perkembangan-perkembangan lainnya sedang diasah.

4. Tetap disiplin

Ada beberapa teman saya yang menganggap PreSchool sebagai sekolah main-main. Sehingga, saat anak mogok sekolah, ia pun meng-iyakan. Padahal, meskipun hanya masuk 3 kali dalam satu minggu, saat itu perkembangan anak terus dipantau oleh para guru. Tentu saja mereka juga punya jadwal khusus yang harus dilakukan setiap harinya. Jadi, tetap usahakan untuk anak tetap masuk sekolah meskipun mereka ‘hanya’ bermain.

5. Anda adalah bagian penting dari tim pengajar

Iya, kita juga jadi bagian paling penting dari tim pengajar. Dari anak lahir, kitalah guru pertamanya dan yang terbaik. Tugas ini tak kemudian berhenti saat anak mulai sekolah. Saat anak di sekolah, mungkin mereka menerima pelajaran yang lebih formal, tapi saat di rumah, kita bisa menambahkan pelajaran-pelajaran itu dengan permainan sederhana di rumah seperti menghitung buah atau sekadar mengajarkan perubahan cuaca. Saya ingat betul saat mendaftarkan Dhia ke sekolah, kami mendapatkan wawancara yang cukup panjang dari para calon guru Dhia. Mereka memastikan bahwa kami (orangtua) punya visi dan misi yang sama untuk pendidikan anak. Kalau semua sudah sama, maka semuanya akan berjalan lebih selaras.

6. Gunakan pakaian nyaman

Anak saya semacam punya selera sendiri dalam berpakaian. Saat itu, ia sedang senang-senangnya menggunakan kaos dan celana pendek. Padahal, saya ingin sekali Dhia menggunakan rok atau celana panjang. Tapi akhirnya saya mengalah. Selama pilihannya membuatnya lebih nyaman, no worries, kan? Untuk masalah seragam, kita bisa membujuknya pelan-pelan dan membentuknya menjadi latihan kedisiplinan, bahwa saat sekolah, maka adik harus menggunakan baju dari sekolah.

7. Saat guru mengatakan anak kita ada masalah, dengarkan dengan baik

Guru juga akan memerhatikan bagaimana anak fokus, konsentrasi dan perkembangan lainnya. Jadi, saat kita tak menyadari ada masalah perkembangan pada anak, umumnya guru justru bisa mendeteksinya. Jadi, saat mereka memberitahukannya, dengarkan dengan baik. Lakukan kerjasama untuk mengatasi masalah perkembangan tersebut.

Selama 3 tahun itu, saya pun tak pernah absen dalam pertemuan antara orangtua dengan guru, saya menanyakan dengan detail setiap perkembangan Dhia. Bahkan bila diperlukan, para guru di sekolah dia memperbolehkan pertemuan di luar jam tersebut untuk diskusi lebih dalam.

Selamat memasuki dunia preschool :)


Post Comment