Hal yang Saya Lakukan untuk Meredakan Konflik dengan Suami

Bohong kalau ada yang bilang pernikahan bisa berjalan adem ayem tanpa adanya konflik? Menurut saya, sih, berkonflik dengan pasangan itu justru sangat perlu, asal kita tahu bagaimana cara meredakan dan mencari cara untuk ‘berdamai’.

Kalau ngomongin soal konflik, adu argumen dengan pasangan, wah, pasti banyak banget pemicunya. Setidaknya buat saya dan suami. Lah wong, kalau lagi jalan bareng aja suka rawan konflik gara-gara saya sering bingung bentuknya mau makan di mana. Suami lebih senang memilih restoran yang Iti-itu saja, sementara saya lebih senang mencoba makanan atau restoran baru. “Nanti kalau nggak enak gimana? Sudahlah, pilih yang jelas aja. Nanti kalau makanannya nggak sesuai dengan selera, kamu juga yang nyesel,” ujar suami. “Tapi kalau nggak dicoba gimana bisa tahu makanannya enak atau nggak?” jawab saya.

Ini baru soal milih restoran, belum hal lain yang masalahnya lebih jauh lebih besar. Kebayang, dong, ya, bakal seperti apa? Saya cukup paham, kalau ketidaksepakatan sering menimbulkan argumen di antara pasangan. Apakah berdebat itu salah? Tentu saja tidak. Saya berani tahuran kalau berdebat jadi ‘makanan’ sehari-hari semua pasangan suami istri. Seperti yang dibilang pakar psikolog keluarga, justru dengan adanya konflik tanda pernikahan yang sehat. Bisa bikin hubungan jadi lebih ‘matang’, bahkan memelihara rasa sayang satu sama lain.

Baca juga : Sering Bertengkar Tanda Pernikahan Tidak Sehat?

Meredakan konflik - Mommiesdaily

Hanya saja saat sedang berkonflik, supaya nggak berlarut-larut dan jadi ‘meledak’ saya punya beberapa kebiasaan yang terus saya lakukan.

1. Hitung sampai 10

Serius, hal ini sering berhasil saya rasakan untuk meredam emosi yang mau meledak. Begitu saya mendengar atau melihat hal yang bisa memancing emosi, hal pertama yang saya lakukan ada tarik napas dalam-dalam dan berhitung sampai 10. Biasanya, sih, kadar emosi saya bakal surut, sehingga bisa melanjutkan komunikasi dengan suami tanpa perlu ada perasaan pengen lempar sepatu ke arahnya, hahahaa.

2. Nggak usah berusaha jadi pemenang

Satu hal yang selalu saya dan suami coba untuk ingat, kalau sedang berselisih, adu argumen, yang terpenting adalah mencari jalan keluar buat kebaikan bersama. Bukan siapa yang harus menang.

3. Selipkan humor

Sampai detik ini saya ataupun suami masih terus belajar. Belajar untuk saling peka, nggak banyak nuntut, termasuk mengenali diri satu sama lain. Nah, kalau perbincangan sudah mulai memanas, biasa kami sudah bisa membaca kondisi, dan saat inilah diperlukan rasa humor untuk mematahkan ketegangan. Nggak perlu cari bahan bercanda yang ‘berat’ cari saja satu dua kata atau momen lucu yang bisa memancing tawa.

4. Nggak perlu memaksa untuk menyelesaikan masalah saat itu juga

Ok, semua juga pasti setuju kalau saya bilang semua masalah harus diselesaikan. Jangan menghindar dari masalah yang justru bisa menumpuk dan jadi bom waktu. Tapi kalau lagi bertengkar, saya juga nggak pernah mau memaksa untuk harus bisa menyelesaikannya saat itu juga. Kalau sudah terlalu lelah, rasanya juga akan sulit untuk mencari titik temu. Jadi lebih baik istirahat saja lebih dulu. Tapi jangan lupa untuk melanjutkan obrolan keesokan harinya.

5. Berikan pelukan beruang

Lah, lagi berantem kok malah peluk-pelukan? Hahhahaa… Memang, sih, untuk awal rasanya bakal aneh. Tapi percaya deh, adanya kontak fisik setelah berselisih itu sangat diperlukan karena memang bisa meredam rasa emosi jadi tambah meledak. Sebenarnya sama saja, sih, kalau kita sedang berselisih dengan anak. Memberikan pelukan beruang bisa jadi obat penenang yang cukup ampuh.

Baca juga : Ritual Morning Hug


Post Comment