Jangan Jadi Orangtua Narsis

Coba cek, apakah kita ternyata termasuk orangtua yang narsis? Aaah, semoga saja, sih, tidak.

Merujuk dari Wikipedia, Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda) bisa diartikan sebagai perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini pun disebut narsisis. Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narkissos (versi bahasa Latin: Narcissus). Sebenarnya, sifat narsisisme sudah bawaan dari lahir, hanya kadarnya saja yang mungkin berbeda.

orangtua narsis-mommiesdaily

Lalu bagaimana dengan tipe orangtua yang narsis? Apakah kita termasuk salah orangtua yang narsis? Aah…mudah-mudahan saja, sih, nggak ya. Oh, ya, narsis yang saya maksud di sini bukan narsis yang sering ngajak anaknya untuk selfie bareng kemudian di posting di social media, lho, ya. Kalau ini, sih, saya bisa dipastikan saya termasuk salah satunya, hahahaha. Walaupun saat ini anak saya sudah susah banget buat diajak foto bareng.

Narsis yang dimaksud justru lebih ke arah selalu ‘mengelu-elukan’ anaknya. Menganggap anaknya selalu hebat di antara anak yang lain, bahkan terkesan jadi ‘maksa’, dan parahnya malah membuat orangtua jadi punya ekspektasi yang begitu besar pada anak kemudian selalu ingin mengontrolnya.

Nggak bisa dipungkiri, saya pun sebagai orangtua sering punya harapan atau ekspektasi sendiri terhadap Bumi. Berharap Bumi bisa mencapai target tertentu. Tapi kemudian saya ingat, kondisi ini nggak benar.  Bahkan bisa berdampak negative.

Saya sempat membaca artikel menarik di website Psychology Today dan  Mental Health, ternyata ada beberapa ciri yang begitu kental yang menandakan orangtua narsis terhadap anaknya. Saya pun jadi berpikir keras, apakah saya masuk di antaranya?

Kebanyakan menuntut

“Kamu itu nilainya harus bagus, dong. Masa nilainya cuma segini?  Lihat tuh, teman-teman mu saja nilainya pada tinggi masa kamu nggak bisa?”

Rasanya hampir semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya. Benar nggak, sih? Kadang saat jadi orangtua, harapan dan ekspektasi kita memang terlalu tinggi. Suka lupa, bahwa tidak ada satu orang pun yang senang dirinya disamakan oleh orang lain, dituntut menjadi orang lain, termasuk lupa kalau nilai akademis yang tinggi bukan segala-galanya.

Sulit menerima kritikan

Ternyata orangtua naris itu sulit atau sangat sensitive dengan segala kritikan. Cenderung defensive ketika ada orang lain yang mengkritik atau memberi masukan  untuk dirinya atau anaknya. Bahkan orantua narsis juga tidak bisa menerima ‘penolakan’ atau kritikan dari anaknya sendiri.

Mementingkan kepentingan pribadi

Kalau di sinetron, saya serig banget melihat plot cerita soal orangtua yang menuntut anaknya untuk menjalani sebuah profesi. Misalnya, nih, jadi pengusaha untuk meneruskan tahta keluarga, atau menjadi dokter, karier yang sesuai dengan keinginan si orangtua. Nah, orangtua seperti ini, yang kerap memanfaatkan anak untuk kepentingnya pribadi, merupakan salah satu ciri orangtua yang narsis. Anak hanya dijadikan perpanjangan dari keinginan pribadi. Dijadikan media untuk mewujudkan impiannya yang tertunda.

Pilih kasih

Ternyata, salah satu indikasi orangtua yang narsis itu adalah menjadi orangtua yang pilih kasih. Seperti yang dikatakan Mbak Ayank Irma sebagai psikolog anak, pada dasarnya orangtua memang punya kecendrungan untuk pilih kasih atau melakukan praktik favoritism pada anaknya. Tapi kondisi ini tentu saja harus ditekan dan tidak bisa dibiarkan, karena akan memancing terjadinya sibling rivalry. Sayangnya orangtua yang narsis sering kali tidak menyadari hal ini. Tipe orangtua narsis justru punya kecendrungan punya anak emas, yang selalu meneruti keinginannya dan anak yang jadi kambing hitam karena kerap kali membantah.

Tidak punya empati

Jangan dulu menginginkan anak punya empati pada orang lain jika kita sendiri nggak punya rasa empati, bahkan untuk anak sendiri. Ternyata, salah satu manifestasi paling umum dari orangtua yang narsisistik adalah ketidakmampuan untuk memperhatikan pikiran dan perasaan anak sendiri. Jadi yang paling utama dan penting itu adalah apa yang ada dipirkan si orangtua.


Post Comment