RUM Tidak Sama dengan Antiobat

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Pahami betul arti RUM, agar tidak salah kaprah. Sesuai dengan kata rasional, ya gunakan obat secara rasional jangan malah antiobat.

Ini benar, lho, saat menjadi orangtua memahami aturan RUM sangat penting, agar nantinya tidak salah kaprah. Kenapa saya bilang seperti itu? Sebab, beberapa tahun lalu saat RUM ini sedang naik daun, banyak orangtua yang menyalahartikannya menjadi antiobat. Mereka menolak mendapatkan obat, meskipun anaknya sudah sakit parah. Mereka berasumsi bahwa tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk menyembuhkan penyakit.

Meskipun saya bekerja di rumah sakit dan sangat familiar dengan obat-obatan, tak lantas saya pun menjadi ‘mendewakan’ obat. Justru sebaliknya, aturan RUM ini membuat saya makin bijaksana. Perlu Mommies ketahui, RUM atau Rational Use of Medicine adalah penggunaan obat-obatan secara tepat dan tidak berlebihan untuk mengobati sebuah penyakit. Trend RUM ini memang seakan-akan baru-baru ini saja terjadi. Padahal pada tahun 1985, WHO sudah menetapkan definisi RUM yaitu penggunaan obat secara rasional. Artinya, kita seharusnya menerima obat sesuai indikasi dengan dosis yang tepat untuk jangka waktu yang tepat.

Salah satu hal yang ditakutkan beberapa orangtua tentang penggunaan obat adalah efek samping yang bisa ditimbulkan dari konsumsi obat. Nah, inilah sebabnya, saya selalu memastikan dengan bertanya lebih detail pada dokter saat saya atau anak saya berobat. Sepatutnya, dokter akan menjelaskan satu per satu obat yang ia resepkan. Namun, kita pun sangat boleh menanyakan lebih detail obat-obatan apa saja yang diresepkan berikut manfaatnya. Bahkan kita pun bisa lebih detail lagi menanyakan tentang obat ini ke apoteker. Beberapa rumah sakit biasanya menyediakan ruangan khusus untuk konsultasi obat bersama apoteker. Makanya saya sekalu membawa contekan pertanyaan saat ke dokter :D.

Bagaimanapun obat merupakan salah satu usaha yang bisa kita lakukan saat kita atau anak kita sakit. Obat, dengan indikasi tertentu akan membantu tubuh dalam menyembuhkan penyakit. Agar Mommies tak salah kaprah dengan aturan RUM, ada baiknya memahami beberapa kriteria RUM, yaitu:

RUM Tidak Sama dengan Antiobat - Mommies Daily

1. Tepat pasien
Selain kita tak boleh sembarangan memberikan obat untuk anak atau bahkan menyamakan gejala yang diderita anak, kemudian dengan entengnya memberikan obat yang kita konsumsi sebelumnya, tepat pasien artinya obat hanya diberikan berdasarkan ketepatan tenaga kesehatan dalam menilai kondisi pasien. Dokter juga akan mempertimbangkan penyakit penyerta sebelum meresepkan obat. Selain itu kondisi khusus seperti hamil, menyusui, usia anak, dan riwayat alergi juga menjadi pertimbangan.

2. Tepat indikasi
Saat berobat, dokter akan mendiagnosa penyakit dengan melihat gejala dan memeriksa kondisi fisik pasien. Jadi, bila Mommies dan saya sama-sama menderita diare, tak berarti gejala yang kita alami akan sama persis. Inilah gunanya pemberian obat sesuai indikasi. Tak semua diare harus diobati dengan antibiotik. Dokter akan melihat terlebih dahulu penyebabnya, baru kemudian menentukan obat yang tepat. Penggunaan obat seperti antibiotik yang tidak tepat justru bisa menimbulkan masalah baru yaitu resistensi kuman.

3. Tepat obat
Tepat obat artinya obat yang diberikan harus mempertimbangkan ketepatan jenis obat, manfaat dan keamanan obat dan bahkan harga obat. Dalam hal ini bisanya dokter akan memberitahukan harga obat sebelum meresepkannya.

4. Tepat dosis
Dosis ini berguna agar pemberian obat tidak berlebihan. Jadi, saat Mommies sakit parah, tidak berarti dosis obatnya diperbanyak. Dosis harus berada dalam range dosis yang direkomendasikan dan disesuaikan dengan usia serta kondisi pasien. Ini bisa jadi salah satu cara mencegah resistensi antibiotik.

5. Tepat cara pemberian obat
Informasi ini biasanya akan diberikan oleh tenaga kesehatan di bagian farmasi atau apoteker. Mommies perlu memahami, bahwa ada obat yang diberikan per oral (melalui mulut), per rektal (melalui dubur), per vaginal (melalui vaginal) per parenteral (melalui suntikan) atau topikal (dioleskan di kulit). Bila sakit yang diderita bisa diintervensi melalui obat per oral, maka dokter biasanya akan menghindari pemberian obat melalui suntikan.

6. Tepat frekuensi dan lama pemberian obat
Setelah dosis yang didapatkan tepat, maka dilanjutkan dengan ketepatan penentuan frekuensi pemberian obat. Misalnya setiap 4 jam, 6 jam, 8 jam, 12 jam atau 24 jam sekali. Lalu, dokter juga akan menetapkan lamanya pemberian obat. Lagi-lagi ini disesuaikan dengan diagnosa penyakit dan kondisi kita.

7. Tepat informasi
Ini seperti yang saya ceritakan di atas. Bahwa dokter maupun apoteker harus memberikan informasi tentang cara penggunaan obat, frekuensi dan bahkan efek samping yang mungkin terjadi.

Selama kita memahami kriteria RUM ini, menurut saya kita sudah melakukan hal yang bijaksana. Sebab, kita hanya mengonsumsi obat hanya bila diperlukan. Kuncinya, sih, diskusi secara terbuka dengan dokter, namun tak perlu ngotot agar dokter tak memberikan obat. Jadi sesuai dengan kata rasional, ya gunakan obat secara rasional jangan malah anti obat :)


Post Comment