5 Aturan Keluarga Bahagia yang Tidak Berlaku untuk Saya

Menjelang menikah, saya sering mendapat petuah dari orangtua, sanak keluarga, termasuk ke dua kakak perempuan saya. Katanya, nih, ada beberapa aturan yang sebaiknya bisa saya terapkan untuk membentuk keluarga bahagia. Tapi nyatanya, kok, aturan ini nggak berlaku, ya, buat saya.

“Nanti… kalau menikah, jangan lupa untuk punya waktu berdua… Biar hubungan kamu dengan suami itu nggak basi.”

“Kalau bertengkar, harus diselesaikan segera. Jangan pernah ditunda atau dianggap sepele.”

“Salah satu yang sering bikin ribut sama suami soal keuangan, makanya semua harus transparan. Jangan ada yang ditutupin.”

Nah, siapa di antara mommies yang pernah mendengar petuah atau nasihat dari orangtua seperti di atas? Hampir 7 tahun yang lalu, saat mau nikah sudah cukup ‘kenyang’  dengan petuah seperti di atas. Berhubung memang nggak punya pengalaman dan baru memasuki pernikahan yang konon katanya mirip masuk ‘hutan belantara’ dan naik roller coaster, saya sih senang-senang saja mendengarnya. Setidaknya, saya jadi punya gambaran lebih dulu soal pernikahan.

???????????????????????????????

Lalu, apa semua nasihat dan segala peraturan yang konon bisa membuat keluarga harmonis bin bahagia berlaku juga untuk saya dan suami? Oooooh, jelas saja nggak, hahaha…. Malah, ada beberapa peraturan yang menurut saya cukup ‘basi’.

Jangan Pernah Bohong Sama Suami, Sama Pasangan itu Harus Saling Jujur

Bukan maksud saya jadi istri yang tukang dusta, saya paham hidup ini harus jujur. Nggak kebayang betapa repot dan berabenya kalau kita hidup dengan kebohongan. Sejak kecil, orangtua saya pun selalu bilang kalau hidup itu perlu jujur. Tapi percaya, deh, kalau sebenarnya ada kalanya bohong itu diperlukan. Contohnya, nih, kalau buat saya itu soal urusan belanja, hahahhaa. Iya, saya mau buat pengakuan kalau soal belanja kadang saya memang melakukan, ‘bohong putih’. Beli tas harga normal, ngakunya dapat harga sale. Saya juga ingat, saat ngobol dengan Mbak Nina Teguh, selaku psikolog keluaga, bohong putih ini memang kadang diperlukan. Bahkan katanya bisa mengurangi risiko keributan dengan suami. Asal dananya nggak mengganggu cash flow, kenapa tidak?

Habiskan Waktu Luang Berdua Suami

Mengingat hobi saya dan suami agak berbeda, kok, rasanya aturan ini nggak cocok ya saya aplikasikan dalam kehidupan rumah tangga saya. Kalau suami lebih doyan main game seperti PS, sedangkan saya nggak. Saya lebih senang nonton film drama romantis yang menurut suami saya terkesan ‘menye-menye’, sedangkan suami saya senang film action. Nah, dari pada sama-sama nggak menikmatinya, ngapain juga dipaksain? Kami nggak ragu untuk jalan berdua, tapi kemudian nonton bioskop di studio yang berbeda. Suami nonton film A, saya film B. Mungkin bagi sebagian ini hal aneh, tapi buat kami nggak :D

Nggak Perlu Adu Argumen untuk Persoalan Kecil

Percayalah, sesuatu yang kecil itu bisa beerubah jadi sesuatu yang amat besar. Ingat saja tuh, sama pepatah yang bilang menabung dikit-dikit jadi bukit. Jadi kalau buat saya dan suami, nggak ada yang salah kalau mau berargumen atau melakukan protes akan hal kecil. Malah hal ini perlu dilakukan untuk saling mengingatkan. Kalau memang akhirnya jadi konflik, ya, tinggal hadapi saja. Lagian, mana ada sih pernikahan yang nggak pakai konflik?

Child Comes First

Saya setuju kalau setelah jadi orangtua sering kali pikiran kita fokus ke anak. Mikirin apakah tumbuh kembang ya sudah sesuai dengan usia, bagaimana kondisi kesehatan, pergaulan, termasuk pendidikan. Tapi apa lantas membuat saya dan suami selalu menganggap anak adalah segala-galanya tanpa memikirkan kebutuhan kami berdua? Nggak juga. Ada momen di mana saya membutuhkan waktu sendiri alias me time, dan tentunya saja ada saatnya saya butuh keluar hanya bersama suami atau teman-teman tanpa mengajak anak ikut serta.

Tugas Domestik, Tanggung Jawab Istri

Aduh…. ‘aturan’ ini basi banget sih? Menurut saya dan suami, tugas domestik ini tentu saja bukan hanya tanggung jawab saya sebagai istri. Contohnya, nih, belum lama ini setelah ART mudik Lebaran, suami nggak ragu untuk mengerjakan tugas domestik seperti nyapu, pel lantai dan mencuci.

Ada yang mau tambahin aturan lainnya nggak?


Post Comment