4 Alasan Kenapa Saya Jarang Membelikan Mainan Untuk Anak Saya

Kalau dibandingkan dengan teman-teman seusianya, koleksi mainan anak saya jauuuuuuh di bawah teman-temannya. Apakah anak saya sedih? Nggak juga tuh!

Saya bisa dibilang model ibu-ibu yang lumayan pelit kalau untuk urusan membelikan mainan untuk anak-anak saya. Awalnya, begitu masuk Sekolah Dasar, sering mendapat cerita dari teman-temannya yang dibelikan berbagai macam mainan, anak-anak saya suka sok curhat tentang temannya si A yang beli mainan ini, temannya si B yang punya mainan itu, dsb. Mungkin mereka berharap, mamanya iba hati kemudian ikut membelikan, ahahaha. Sayang, harapan mereka hanyalah harapan belaka :D.

Bukannya saya mengharamkan anak-anak saya memiliki mainan. Namun, saya hanya selektif saja dalam memilih jenis mainan yang boleh dimiliki anak-anak saya. Lagipula, ada beberapa alasan lain kenapa saya nggak terlalu royal untuk urusan membelikan mainan.

1. Nggak mau menambah onggokan barang tidak berguna

Rentang waktu sebuah mainan akan dimainkan terus menerus oleh anak-anak saya bisa dibilang cukup pendek. Kalaupun ada yang lumayan panjang, itu hanya kategori mainan tertentu, misalnya seperti Lego yang kalau sudah selesai dirakit langsung saya simpan di lemari pajangan. Atau semacam PS yang memang saya kasih batasan untuk memainkannya jadi mereka sayang-sayanglah itu PS :D, atau peralatan olahraga. Sisanya? Hanya akan terlupakan untuk teronggok begitu saja di kamar main. Memang sih bisa disumbangkan, tapi kalau nggak rusak. Lah kalau sudah rusak? Jadi daripada hanya menambah sampah, mending saya nggak belikan sama sekali.

2. Uangnya mending saya tabung untuk jalan-jalan

Jalan-jalan di sini nggak selalu berarti keluar kota atau negeri, lho. Tapi kayak tour museum, tour bangunan bersejarah, ke Bogor, Puncak, yang dekat-dekat pun juga saya lakonin. Buat saya, semakin sering anak-anak traveling, semakin banyak ilmu pengetahuan yang mereka peroleh, semakin tinggi tingkat toleransi mereka. Jadi, setiap kali anak-anak minta mainan, saya selalu mengingatkan mereka akan rencana traveling kami berikutnya.

4 Alasan Kenapa Saya Jarang Membelikan Mainan Untuk Anak Saya - Mommies Daily

3. Mengajar mereka untuk kreatif

Anak pertama saya mempunyai sahabat yang tinggal di Yogyakarta. Setiap tahun mereka pasti ketemuan. Entah si kakak yang main ke rumah sahabatnya saat mudik Lebaran, atau sahabat si kakak yang main ke rumah kami saat akhir tahun. Yang saya salut dari sahabat si kakak ini adalah, nyaris semua mainan di rumahnya itu hasil karya tangannya sendiri. Mulai dari tembak-tembakan, mobil-mobilan, petasan dsb-nya. Semua dia bikin menggunakan barang-barang bekas dengan bimbingan dari mahaguru tutorial Youtube, ahahaha.

Bersyukur karena si kakak punya sahabat yang model begini karena dari sahabatnya, si kakak bisa belajar bahwa mainan itu bisa kok kita bikin sendiri kalau kita niat :D. Kalau apa-apa selalu dibelikan, kapan dia bisa belajar kreatif?

4. Karena saya lebih cinta buku daripada mainan

Alasan terakhir ini mungkin karena masa kecil saya yang sudah dijejali buku oleh mama saya. Sejak kelas 2 SD, bacaan saya adalah buku-buku karya Enid Blyton dan Agatha Christie. Dan hingga kini, buku-buku itu masih tersimpan rapih di lemari buku rumah mama. Saya merasakan sendiri, betapa serunya sebuah buku membawa alam pikiran saya berkelana. Saat saya harus diam di rumah nggak bisa kemana-mana, saya sama sekali nggak pernah merasakan bosan berkat kehadiran sebuah buku.

Inilah alasan kenapa saya lebih memilih mengalokasikan uang untuk membelikan anak-anak sebuah buku daripada mainan. Mau semahal apapun buku itu, kalau saya mampu, sebisa mungkin saya belikan.

Itu alasan saya. Jadi untuk para mommies yang hobi bilang “Kasihanlah anak-anak, masak jarang banget dibeliin mainan,” sekarang sudah tahu kan alasan saya?! Dan FYI, nggak kok, anak saya nggak sedih.


Post Comment