Serunya Lebaran di Keluarga Kami yang Berbeda Agama

Dalam keluarga kami yang berbeda agama, suasana Lebaran tetap bisa terasa spesial, lho! Bagaimana caranya?

Pernikahan beda agama yang saja jalani bersama suami sepanjang nyaris 13 tahun dengan dua anak tentu saja rasanya macam-macam. Ada manis, asam hingga pahit, saking serunya menggambarkan dinamika dalam keluarga kami. Salah satunya menjelang bulan puasa dan momen Lebaran.

Sebagai penganut agama Kristen, teman-teman saya suka bertanya, apakah saya selalu menyiapkan makanan sahur dan menemani suami serta anak pertama saya sahur? Jawabannya ……… kadang-kadang menemani kadang-kadang tidak, tergantung kadar ngantuk saya seperti apa (jujur banget ya, hahaha).

Dulu, saat si sulung belum ikutan puasa, kayaknya saya menemani sahur suami hanya 10 sampai 14 hari pertama. Selanjutnya saya hanya memastikan hidangan tersaji sesuai pesanan, untuk kemudian tidur lagi. Untung suami sabar lagi penyayang :D. Namun, berbeda ketika anak pertama sudah ikutan puasa, karena dia meminta mamanya ikut menemani dia sahur. Baiklah, permintaan saya kabulkan, hehehe.

Namun, beda jawaban untuk pertanyaan berikut ini yang juga sering saya terima: “Terus kalau Lebaran, suasananya kurang berasa dong? Secara kamu dan anak nomor dua kan nggak merayakan Lebaran? Tetap spesial atau biasa aja?”

Nah, untuk pertanyaan ini saya bisa dengan yakin menjawab, tetap spesial dan akan selalu seperti itu. Nggak akan berkurang!

Walaupun saya dan adiknya tidak ikut berpuasa, namun kami sekeluarga tetap ‘merayakan’ Idul Fitri alias Lebaran. Banyak hal yang bisa saya lakukan agar momen Lebaran tetap terasa istimewa bagi keluarga kami.

Serunya Lebaran di Keluarga Kami yang Berbeda Agama - Mommies Daily

1. Hunting baju Lebaran
Saya dan suami selalu membelikan baju baru untuk kedua anak kami. Baju koko dan celana bahan. Begitu juga saya yang mencari kaftan dan suami yang juga mencari baju koko. Meski nggak plek plek sama, setidaknya nuansa warna saya cari yang senada. Biar tampilan di foto jadi cantik, hehehe.

2. Mengubah dekorasi rumah
Nggak lantas make over rumah bersar-besaran juga sih, namun minimal ada sentuhan-sentuhan baru agar keluarga kami merasa ada yang berbeda di hari Lebaran. Paling simple adalah, memasang foto keluarga baru. Bisa juga mengganti gorden atau sarung bantal sofa. Oh, pernah juga kami menyusun kartu-kartu Lebaran di meja tamu :).

3. Memiliki hidangan khas keluarga
Jujur saja, sebagai perempuan yang tidak pintar masak, kalau Anda melihat ada opor ayam, rendang, sambal goreng ati, hingga sayur ketupat tersaji manis di meja makan, sudah pasti itu bukan hasil karya saya, alias saya pesan dari luar. Namun, karena anak-anak request ada satu hidangan yang saya masak sendiri, saya pun mencari sajian yang mudah diolah, namun tetap terasa enak. Pilihan saya jatuh pada Supermi yang mudah pengolahan dan kreasi menunya.

Supermi memang sudah saya kenal sejak zaman saya kecil. Dulu, saya suka minta dimasakin Supermi oleh eyang puteri. Saya ingat banget, Supermi olahan eyang itu dicampur dengan telur, mentega dan kecap manis, duuuh rasanya enak banget.

Sekarang saya menyajikannya sebagai hidangan spesial untuk keluarga dan tamu-tamu di hari Lebaran. Tahu sendiri dong, Rendang, Opor Ayam dan Sayur Ketupat biasanya hampir ada di setiap rumah, makanya kehadiran Supermi di meja makan rumah kami ini menjadi istimewa. Menyajikan Supermi semacam membawa kembali memori masa kecil saya.

Kalau dulu tidak ada banyak varian rasa, saat ini Supermi memiliki empat rasa yang bisa kita kreasikan sesuai hati: Supermi Opor Ayam, Supermi Sop Buntut, Supermi Ayam Bawang dan Supermi Kaldu Ayam.

Serunya Lebaran di Keluarga Kami yang Berbeda Agama - Mommies Daily

Biasanya, untuk menambah unsur gizi di dalamnya, saya suka memberikan berbagai macam topping, seperti telur, bakso, sosis, sawi hijau, jamur, udang, cumi hingga tomat bahkan jagung manis. Rasa yang ada di dalam Supermi kayaknya cocok-cocok aja deh jika dikeasikan ke resep apapun. Taste-nya itu nggak membuat saya kesulitan memadukan Supermi dengan hidangan khas Lebaran seperti Opor Ayam, Rendang atau Sayur Ketupat.

Nggak heran, anak saya suka menambahkan suwiran daging opor ayam ke Supermi atau ipar saya yang suka memakai suwiran daging rendang.

Rasanya enak, tekstur mie-nya halus, mudah dibuatnya dan mengingatkan saya pada masa kecil saya. Memastikan ada ‘makanan khas’ saat Lebaran menjadi salah satu cara saya membuat Lebaran terasa spesial.

4. Hadiah untuk si kakak yang berpuasa dan si adik yang bertoleransi
Hadiah ini tidak pernah saya janjikan di awal, karena saya nggak mau anak-anak berpuasa atau menunjukkan sikap toleransi karena mengincar hadiah. Saya akan memberikan ketika hari Lebaran tiba. Bisa berupa uang untuk menambah tabungan mereka, jatah traveling ke kota tertentu atau sekadar membeli mainan incaran.

Lihat kan, banyak hal yang bisa saya lakukan untuk membuat Lebaran terasa istimewa di dalam keluarga kami yang berbeda agama. Bagaimana Lebaran di keluarga mommies?


Post Comment