‘Derita’ Pasca Lebaran

Biasanya, sih, setelah bersuka cita merayakan lebaran bersama keluarga tersayang, akan ada ‘derita’ pasca lebaran yang akan menanti di depan mata.

Ah, senangnya lebaran sudah di depan mata. Mungkin saat ini sudah banyak di antara mommies yang pergi mudik ke kampung halaman. Kalau saya, sih, cukup merayakan di Jakarta saja.  Padahal, pegen juga, sih, sesekali menikmati kemacetan mudik. Tapi berhubung orangtua dan mertua memang tinggal di Jakarta, jadi nggak mudik. Yang pasti, saya sudah siap-siap menerima ‘derita’ pasca lebaran yang kemungkinan besar akan muncul.

“Kantong kering”

Hahahaa…. coba ngaku, siapa yang merasakan hal serupa dengan saya? Menjelang Lebaran, mata dibuat berbinar-binar melihat jumlah saldo di rekening. Eh, begitu selesai lebaran, langsung tongpes, hahahaa. Apalagi Lebaran kali ini waktunya juga bersamaan dengan liburan sekolah. Kebayang, deh, tuh, gimana pentingnya mengelola keuangan. Pos-nya harus pas, baik untuk keperluan zakat atau sedekah, memberikan angpau buat keponakan, bayar hutang, dan tentu saja menyisihkan dana untuk keperluan yang sifatnya lebih penting.

Berat badan kian bertambah

derita bulan puasa

Siapa, nih, yang merasakan kondisi ini? Idealnya, saat puasa seharusnya baran badan nggak perlu nambah, malah lebih baik bisa berkurang. Kenyataannya, banyak yang merasakan pasca lebaran, arah jarum timbangan malah makin geser ke kanan. Ya, maklum saja, sih, kalau memang selama puasa pola makan nggak diatur. Memilih menu takjil langsung kalap semacam balas dendam, belum lagi dengan pilihan makanan goring-gorengan dan manis. Ditambah saat Lebaran, banyak makanan yang menggoda untuk disantap. Nggak cuma di rumah saja, saat berkunjugke rumah saudara, mau nggak mau juga ikut nyicip makanan yang disediakan. Biar menghormati, gitu. Tapi, memang sebaiknya tetap dikontrol menu makanan yang akan diasup. Nggak kasiahan tuh sama usus yang harus kerja keras setelah puasa untuk mecerna makanan?

Rumah berantakan

Satu masalah yang sering dialami pasca lebaran, nggak akan jauh dari kondisi rumah yang berantakan. Apalagi kalau rumah sudah open house, jadi tempat base camp keluarga ngumpul. Untuk itu, anggota keluarga harus kompak dan berbagi tugas domestik supaya  kebersihan tetap terjaga. Kalau Lebaran sedangn ngumpul di rumah orang tua, saya bersama kakak-kakak termasuk tante bergantian untuk cuci piring dan membersihkan rumah. Kalau memang sudah nggak punya tenaga, langsung saja manfaatkan jasa infal atau jasa bebersih rumah online. Beres, deh!

Jadi korban ART yang PHP

Saat mudik Lebaran, ART di rumah sering kali mengaku akan balik lagi ke rumah. Giliran waktu yang sudah disepakati datang, ada SMS atau Whatsapp yang masuk. “Bu, maaf, ya, saya nggak bisa kerja di rumah lagi. Saya mau istirahat di kampung sambil temenin ibu aja.”   Supaya nggak terlalu kecewa, saya sih sudah nggak mau berharap banyak ART akan balik lai ke rumah.

Ada lagi nggak yang mau nambahin ‘derita’ lain yang sering dialami setelah lebaran?


Post Comment