Jatuh Ketika Hamil, Kapan Harus ke Dokter?

Ups, saat hamil tanpa sengaja mengalami ‘kecelakaan’ kecil seperti jatuh? Kapan harus ke dokter ya?

Siapa yang sudah nonton atau baca novel national bestseller Critical Eleven karya Ika Natassa? Jadi dalam cerita tersebut, tokoh utamanya, Anya, yang tengah mengandung sempat terjatuh saat sedang berjalan. Kalau nggak salah, sih, nggak sengaja keserempet orang yang naik sepeda. Kondisi ini pun mau nggak mau langsung menggerakan Anya pergi ke dokter memeriksakan kandungannya.

Kalau ngomongin soal kecelakaan, siapa sih, yang bisa menduganya? Hal ini pun berlaku pada kondisi ibu hamil  yang bisa jatuh kapan pun juga. Tanpa diduga dan direncanakan. Duh, ngebayanginnya saja sudah bikin saya ngilu. Khawatir ada sesuatu yang terjadi dan mengganngu kondisi janin.

pregnant-woman-doctor

Tapi mengingat tubuh perempuan yang sedang hamil banyak mengalami perubahan, termasuk perubahan dalam berat badan, situasi ini memang bisa terjadi pada siapapun. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan kalau ada sebuah penelitian dalam Maternal and Child Health Journal tahun 2010 yang menyebutkan kalau sekitar 27% wanita hamil pernah terjatuh setidaknya sekali dan 10% pernah terjatuh lebih dari sekali.

Hal ini terjadi lantaran kondisi perut yang memang kian membesar sehingga membatasi ruang gerak. Selain itu, ternyata perut ibu hamil yang membesar ternyata juga punya pengaruh menggeser pusat gravitasi di tubuh ke depan, artinya untuk tegak saat berjalan memang akan mengalami kendala. Nggak cuma itu saja, sih, penyebab lain kenapa ibu hamil jadi lebih berisiko mengalami jatuh disebabkan hormon kehamilan atau hormon relaksin dapat membuat persendian dan ligamen melonggar. Khususnya menjelang mendekati waktu kelahiran. Hal ini berdampak pada pergerakan.

Kapan butuh ke dokter?

Pertanyaannya, ketika terjatuh apakah lantas harus ke dokter? Kapan ibu hamil yang jatuh perlu ke dokter? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya sempat bertanya pada dr. Fakriantini Jaya Putri SpoG.

Dalam hal ini, dokter yang praktik di RS. Puri Cinere menerangkan kalau sebenarnya janin di dalam kandungan sudah memiliki system keamanan dengan adanya air ketuban. Seperti yang kita ketahui, air ketuban berfungsi melindungi bayi karena cairan ketuban mengelilingi bayi dan dapat menjadi ‘bantalan’. Selain itu, otot-otot rahim yang kuat juga dapat membantu melindungi bayi dari benturan luar.

“Jika memang jatuhnya tidak sengaja, tidak ada benturan keras, dan jika memang yakin tidak ada masalah, ya, tidak apa-apa kalau memang tidak ke dokter. Tapi saya menyarankan lebih baik langsung ke dokter saja untuk USG. Biar gimana, kita kan tidak pernah tahu bagaimana kondisi di dalam perut. Apakah terjadi pendarahan atau bagaimana dengan kondisi plasentanya,” paparnya.

Untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan, tidak ada salahnya ibu hamil lebih mawas diri. Mencegah segala risiko yang dapat membahayakan diri sendiri dan janin yang ada di dalam kandungan. Caranya, mulai hilangkan kebiasaan untuk menggunakan high heels. Meskipun memakai hal tinggi kadang kala membuat kita merasa (lebih) seksi, tapi sepatu hak tinggi membutuhkan keseimbangan yang baik. Sementara kalau hamil, lebih mudah kehilangan keseimbangan. Jadi, selama hamil nggak ada salahnya menggunakan sepatu flat saja. Selain itu, sebaiknya juga lebih hati-hati saat berjalan. Kalau jalan, nggak perlu tergesa-gesa.

Ada yang mau menambahkan kiat lainnya?

 

 

 


Post Comment