Bukan Anak Jajan

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Anak saya terbiasa untuk tidak gampang jajan ketika bepergian. Banyak teman yang bertanya, bagaimana saya mendidiknya? Jadi saya coba share ya pengalaman saya.

Beberapa hari lalu, saat sedang nyalon dekat rumah, datanglah si kecil Ifa yang masih balita. Ia anak pemilik salon. Datang-datang, lantas merengek ke ibunya, minta uang jajan, minta ayam goreng, dan petasan. Si ibu pun curhat ke saya tentang kebiasaan jajan anaknya, “Baru tadi siang dia makan ayam. Masa sore minta ayam lagi. Duh, anak saya mah boros banget kalau soal jajan,” begitu keluhnya, yang mengaku tak berdaya menghadapi kerewelan anak gara-gara jajan.

Kali lain, saat sedang piknik di danau bersama teman yang juga membawa anak, salah seorang teman saya membeli hampir setiap jajanan yang dijual penjaja makanan yang ia temui. Ada tukang otak-otak, kue cubit, dodol, dan sebagainya. Kadangkala, atas permintaan anaknya, atau juga karena ibunya yang pingin. Sementara saya dan anak saya Pilar (9) adem ayem saja, enggak ada keinginan jajan apa pun.

Saya juga sering mendapati kebiasaan anak-anak lain yang doyan jajan sampai masuk kategori kebangetan, merengek minta dibelikan mainan kekinian, atau makan di restoran yang dia mau. Menurut pengamatan saya, kebiasaan konsumtif pada anak bukan soal kaya atau miskin latar belakang orang tuanya. Tak sedikit juga anak dari keluarga pas-pasan atau bahkan kurang mampu, yang terjebak menjadi penjajan boros. Sekadar berbagi pengalaman, ini yang saya terapkan ke anak. So far, cukup berhasil menjadikannya bukan anak jajan.

Bukan Anak Jajan - Mommies Daily

#Sedia bekal sebelum lapar

Kebiasaan yang juga terbentuk dari aturan yang diterapkan di sekolah anak. Anak wajib membawa bekal untuk waktu istirahat mereka. Kebetulan, tak ada penjaja makanan di sekolah, sehingga anak tak pernah minta uang jajan. Buat apa juga?

Kebiasaan ini juga saya terapkan setiap kali bepergian. Ke luar rumah lebih dari dua jam, harus bawa snack. Anak kecil memang mudah kenyang dan mudah lapar. Untuk perjalanan panjang saat traveling ke luar kota, saya juga biasa menyiapkan makan berat dari rumah. Makanya, ketemu banyak jajanan di jalan dia enggak gampang tergoda.

#Tandai di kalender

Namanya anak-anak, pasti suka permen, es krim, mi instan (apalagi), jajanan kemasan semacam ataupun camilan gurih. Begitupun anak saya. Rasanya memang enak. Ditambah godaan dari iklan. Belum lagi peer pressure. Kalau dilarang semata karena alasan kesehatan, takutnya jadi bumerang di kemudian hari. Mereka jadi antipati dengan makanan sehat. Saya tetap membolehkannya konsumsi junk food, asal tidak sering-sering. Kalau hari itu sudah beli es krim, minimal bulan depan baru boleh minta lagi.

Sekali-kali, saya buat versi homemade makanan favorit anak-anak. Sebutlah, burger, nugget, sandwich, otak-otak. Minimal, kalau temannya ‘pamer’, dia sudah tahu rasanya seperti apa.

#Kenali harga makananmu

“Kamu tahu berapa harga serealmu?” Setiap kali belanja, saya akan memintanya mengamati label harga. Berapa sih, harga jajannya. Lebih jauh, harga semua barang kebutuhannya sehari-hari. Hitung-hitung sambil belajar matematika. Sekarang, saat sedang makan di restoran pun, anak sibuk menghitung harga makanan yang kami pesan. Dan, ia sudah tahu nanti berapa jumlah tagihan yang harus dibayar oleh ibunya. Dia jadi belajar tentang keuangan.

#Libatkan anak buat perencanaan belanja (jajan)

Berapa kali dalam sebulan Anda belanja groseri? Setidaknya seminggu sekali pasti ada kebutuhan yang harus dibeli bukan? Nah, daripada ribet anak minta beli jajan tiap hari, saya selalu melibatkan anak dalam membuat rencana belanja. Mulai dari kebutuhan anak, seperti sereal, susu segar, buah, roti tawar gandum, selai, juga snack yang dia mau. Selama di rumah tersedia, toh, dia enggak akan nyari-nyari lagi.

#Fungsi versus tren

Ada masanya, setiap kali melihat diecast toys, saya tergoda untuk membelikan anak. “Pasti dia happy,” begitu pikir saya. Kalau pergi ke toko mainan, saya meminta anak memilih mainan apa yang ia suka. Teman-temannya main lego, saya juga pernah beberapa kali membelikannya mainan lego. Supaya dia enggak kudet. Tapi, lama kelamaan, semua mainannya itu hanya teronggok di boks. Anak lebih tertarik pada gadget. Mulai deh, otak pragmatis saya bekerja, buat apa saya belanja mainan mahal-mahal, kalau cuma akan masuk gudang?!

Baca juga:

Mengajarkan Anak Membedakan Antara Kebutuhan dengan Keinginan

Sudah lama sekali saya stop membelikannya mainan. Sebagai gantinya, saya membebaskannya membeli buku yang ia mau. Dengan cara ini, ia jadi tidak mudah terintimidasi pada teman-temannya, yang punya PS, X-box, nerf gun, atau apa pun. Sekarang, sedang tren mainan fidget spinner, walaupun teman-temannya rame-rame beli spinner, anak saya bergeming.

Baca juga:

Agar Anak Tidak Konsumtif dan Memiliki Empati


Post Comment