Wanda Hamidah, Cerita Soal Menekuni Yoga Selama 15 Tahun & Manfaat Bulan Ramadhan Sebagai Perekat Hubungan Keluarga

Bagi Wanda Hamidah (39), yoga adalah olahraga yang berproses, butuh ketekunan dan menaklukan ketakutan diri sendiri. 15 tahun sudah ia menekuni yoga, tapi ada saja gerakan yoga yang masih ingin dia dalami.

Ditemui dalam acara “Yoga Anchors All: Journeyof Modern Selt Enlightenment through Your 7 Chakras”, pameran foto Acroyoga oleh Fajar Putra, pakar acroyoga Indonesia, pertengahan Mei lalu di Jakarta. Wanda Hamidah bersama 17 pesohor negeri lainnya, seperti Titi DJ, Carissa Puteri, Raisa, Luna Maya dan masih banyak lagi, berpose acroyoga dibalut busana cantik, bersama Fajar Putra. Dan diabadikan lewat jepretan Diera Bachir.

Wanda hamidah - Mommies Daily

Pada rekan-rekan media, Wanda tak hanya bicara tentang yoga, tapi juga seputar manfaat bulan Ramadhan, sebagai momentum menjaga keharmonisan keluarga dengan jalan beribadah bareng. Yuk, simak obrolan selengkapnya di  bawah ini.

Boleh diceritakan, bagaimana awal keterlibatan dalam event ini?

Saya yoga sudah 15 tahun, pada saat itu yoga belum sepopuler sekarang, dan susah mencari tempat untuk yoga. Sekarang kehadiran saya di sini, untuk mendukung guru saya, jadi saya private dengan Fajar itu sudah lama, dari tahun 2009. Sekitar 3-4 tahun saya private sama Fajar, jadi saya benar-benar mengikuti perkembangan Fajar dari awal, sampai sekarang Alhamdulillah sudah melejit sebagai guru yoga dan terkenal di Indonesia, yang mempopulerkan acroyoga di Indonesia dan saya bangga sekali sama fajar.

Kesulitan selama belajar yoga, apa mbak?

Sebetulnya semua orang yang yoga, bisa mengikuti acroyoga. Dari awal memang nggak bisa langsung jago, biasanya harus menguasai latihan-latihan dasar yoga untuk bisa acroyoga.

Dengar-dengar sekarang juga mengajar, ya, mbak?

Iya, saya baru ambil sertifikat yoga teacher training di tahun 2016, sekarang saya mengajar di Gudang Gudang, Kemang Timur, seminggu sekali, selebihnya private.

Sejauh ini, olahraga yoga paling cocok dengan karakter mbak, ya?

Sejauh ini, iya. Masing-masing orang kan  beda karakter, ada suka lari, muay thai, ngegym, ada yang menganggap yoga membosankan, gerakannya itu-itu saja. Tapi kalau buat kepribadian dan karakter saya, saya merasa cocok dengan olahraga yoga. Kenapa yoga, yang pertama bisa dilakukan dimana saja, dan yoga itu manusia itu nggak pernah terlalu tua atau muda untuk ikut yoga, mau itu 50 tahun atau 70 tahun. Yoga for kids juga ada. Tidak pernah terlalu gemuk atau kurus untuk ikutan yoga. Nggak ada alasan, bentuk badan gemuk gak bisa beryoga.

Wanda Hamidah - Mommies Daily

Image: IG @wanda_hamidah

Yoga juga bisa dibilang olahraga di segala cuaca. Yoga juga olahraga satu paket, yaitu body and soul, tentu secara fisik kita akan sehat mengaktifkan otot-otot di seluruh tubuh, dari atas sampai bawah. Yoga juga membawa fleksibilitas. Dan yang terakhir, yang tidak ada di olahraga lain, yoga membuat kita rileks, karena gerakan yoga harus seiring dengan napas. Tarik dan mengeluarkan napas, harus teratur di setiap gerakan.  Dan sebetulnya secara taroi, bahwa napas yang teratur itu membuat kita tidak panik, dalam menghadapi segala sesuatu. jadi yoga dalam dterapkan dalam keadan berolahraga. Dalam menghadapi pekerjaan, persoalan, apalagi hidup di ibukota itu stressfull, misalnya dalam menghadapi kemacetan, tarik napas dan keluarkan secara teratur. Itu membuat kita rileks.

Hal apa yang memicu mbak, memutuskan untuk menekuni yoga?

Pertama nonton tv, melihat Madonna, Gwyneth Paltrow, mereka melakukan yoga dengan gerakan yang mungkin orang awam, merasa “Wow, kok bisa ya, mereka?!” Dan buat saya itu menantang. Di yoga nggak pernah merasa paling pintar, dan  jago. Karena selalu ada gerakan yang ingin kita kuasai. Setelah 15 tahun yoga pun, saya merasa masih banyak gerakan yang belum saya kuasai di yoga.  Jadi sangat menantang, dan olahraga yang penuh dengan proses, jadi nggak bisa di yoga itu, mau kurus, berotot, mau nge-gym satu atau dua bulan sudah six pack. Yoga nggak bisa begitu, satu gerakan itu bisa dikuasai dalam hitungan tahun

Ada ketakutan nggak? Karena beberapa gerakan, bisa dikatakan ekstream

Itu tantangannya, di yoga itu kita nggak berkompetisi dengan tim lain dengan teman-teman. Tapi di yoga  kita berkompetisi dengan diri sendiri. Harus bisa menaklukan ketakutan kita.

Gerakan yang paling sulit? Pernah mengalami cedera atau kendala?

Yoga kalau kita nggak hati-hati pasti cedera, makanya nggak boleh gegabah. Karena kalau nggak risiko cedera juga ada. Saya sendiri, pernah cedera pinggang. Nggak bisa nunduk. Dua minggu, nggak menundukkan badan, lumayan menyiksa. Tetap yoga tapi nggak semua gerakan saya ikutin. Dan gerakan di yoga sebetunya kalau dipelajari rutin pasti bisa, misanya head stand. Mudah-mudahan 6 bulan sudah bisa menguasai satu gerakan yang sulit.

Pernah melibatkan anak dalam beryoga?

Pernah, karena saya suka private di rumah. Anak-anak suka ikutan-ikutan, yang bayi juga suka ikutan angkat kaki,nunduk dan sebagainya. Dan saya suka menggunakan anak  saya sebagai bahan percobaan acroyoga, dan mereka senang banget kalau diangkat-angkat.

Kalau mengenalkan yoga sama anak-anak seperti apa?

Yang perempuan, sesekali suka ikut yoga. Yang laki-laki dua, nggak suka ikutan yoga. Tapi kalau acroyoga mereka suka ikutan. Mereka juga sudah memilih olahraga sendiri, taekwondo dan basket. Jadi saya biarkan saya,sampai waktunya mereka tertarik.

Persiapan puasa dan tantangan terberat selama bulan puasa?

Lebih ke persiapan mental, ya. Dan yang paling berat adalah membangunkan anak-anak untuk sahur. Oh iya, dan sudah 3 tahun, saya membiasakan saya, anak-anak dan keluarga khatam Al Quran. Bareng-bareng, dan ikut pengajian anak-anak, saya yang nungguin juga ikuta ngaji. Dilakukan sore.

Apa alasan khatam Al Quran?

Bulan puasa itu kan bulannya ibadah. Karena 11 bulan sudah disibukkan dengan keduniawian, saatnya satu bulan di antara 12 bulan itu, banyakin ibadah. Dan otomatis juga memperbanyak waktu bonding antara orangtua dan anak. Jadi ibadangnya dapat, dan secara kekeluargaan juga lebih dekat.

Dari bentuk tubuh kok, bisa terlihat stabil ya, mbak. Bisa dibagi kiatnya?

Pemilihan makanan itu penting, di rumah, selalu sedia makanan sehat seperti buah, juice, yogurt, granola pakai lowfat milk. Jadi ketika makan di rumah, dikenyangin dulu sama buah. Jadi ketika makan pokok, sedikit. Karena sudah kenyang makanan yang sehat. Nah kalau khilaf, abis jajan, atau dari luar kota atau luar negeri. Nggak olahraga pula, makanannya khilaf lagi. Biasanya kalau udah pulang, balik lagi olahraga, dan kembali makan clean.

Mbak termasuk yang strick nggak sama pemilihan makanan anak-anak? misalnya kalau boleh MSG

Iya termasuk, tapi, seminggu sekali boleh. Cheating time. Buat mereka bisa makan mie instan itu suatu kemewahan. Sama junk food, seminggu sekali saya kasih. Saya kasih junk food itu, TK udah boleh, ya. Saya nggak saklek-saklek banget sih ya.

Siapa di sini yang sudah rajin yoga? Merasakan manfaat yang sama dengan Wanda?


Post Comment