Mengapa Anak Ingin Bunuh Diri?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Di Indonesia semakin banyak berita tentang kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak remaja. Apa saja yang bisa menjadi penyebab pemicu perilaku bunuh diri pada anak remaja?

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat menelepon saya dengan sedih. Ia cemas, anak semata wayangnya, Kevin, yang duduk di kelas 1 SMU, mogok sekolah. “Buat apa aku sekolah, Ma. Lagipula aku udah tahu mauku apa. Aku enggak akan melamar kerja. Aku hanya mau main game,” ujarnya, menirukan Kevin. Parahnya lagi, Kevin bahkan pesimis dengan masa depannya dan mengatakan, berniat untuk mengakhiri hidup saja. “Aku lagi mikirin caranya bunuh diri yang enggak sakit,” kata teman saya, sesak.

Menurut teman saya, Kevin anak yang susah bergaul, penyendiri, sering menjadi korban bully. Tapi ia tidak mengira efeknya akan sejauh ini. Ia pun segera membawa Kevin bertemu psikolog.

Kasus Kevin ini mengejutkan saya. Apalagi, belum lagi saya membaca tentang menyebarnya viral challenge bunuh diri di kalangan remaja lewat tagar #BlueWhaleChallenge di media sosial: Twitter, Facebook, dan Youtube. Blue Whale adalah permainan bunuh diri di mana pesertanya diminta menyelesaikan serangkaian tantangan selama periode 50 hari, sebelum kemudian diberitahu untuk bunuh diri.

Tantangannya berupa, di antaranya, anjuran untuk menonton film horor hingga menggores suatu gambar ke kulit mereka dengan benda tajam. ‘Permainan’ yang dimulai di Rusia ini dituding sebagai penyebab kematian ratusan remaja. Sasarannya, mereka yang berusia 10-14 tahun. Buru-buru, saya minta teman saya mengecek jejak digital Kevin.

Apa yang terjadi pada Kevin, yang saya kenal dekat sejak ia masih bayi, membuat saya sadar bahwa bunuh diri di kalangan remaja ada di depan mata dan bisa terjadi pada siapa saja. Bukan isapan fiksi belaka. Bagi yang punya anak menginjak usia pra-remaja –seperti saya- wajar kalau saya jadi degdegan. Apalagi, banyak kemiripan perilaku Kevin yang juga dimiliki anak saya, seperti, susah bersosialisasi, soliter, dan menyenangi gadget.

Saya pun mencari tahu apa saja yang bisa menjadi penyebab pemicu perilaku bunuh diri pada anak remaja.

Mengapa Anak Ingin Bunuh Diri? - Mommies Daily

Kecanduan game

Terekspos gadget sejak belia, membuat anak-anak mudah sekali mengalami kecanduan game. Baru-baru ini, Internet Gaming Disorder dimasukkan dalam Manual Diagnostik Gangguan Mental, kondisi psikiatris yang patut diwaspadai. Benarkah kecanduan game adalah biang penyebab depresi? Pakar media addiction pada anak dan remaja dari Amerika Serikat, Dr. Douglas Gentile, mengemukakan, mereka yang punya masalah kesehatan mental atau attention disorder akan cenderung mencari pelarian, salah satunya dengan main game.

Di sisi lain, anak yang normal, tapi terperangkap kecanduan game sejak kecil, terancam mengalami attention disorder, kecemasan, dan gangguan mental lainnya. Tidak terkecuali depresi dan munculnya kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

Pada kasus Kevin, ia memang kecanduan game. Selain sekolah, praktis aktivitasnya adalah di depan game. Dari game, Kevin seolah menemukan dunia lain yang membuat ia merasa lebih berharga dan menemukan teman-teman ‘sejatinya’ di sana.

Screen influence

Iseng saya mengecek tagar #Bluewhalechallenge di Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube. Saya terkejut karena banyak postingan menggunakan tagar ini dalam berbagai bahasa. Di Instagram paling ngeri, saya menemukan banyak foto graphic violence, gambar pergelangan tangan bertetesan darah usai disayat-sayat. Tagar ini menjadi pembicaraan dunia karena untuk pertama kalinya media sosial menyebarkan aksi bunuh diri dalam bentuk challenge dan game, yang mengincar anak remaja, menjadi sesuatu yang seolah cool untuk diikuti. Pesertanya dengan terbuka dan bangga menunjukkan bahwa mereka sedang berpartisipasi dalam game ini. Scary!

Ada lagi, serial yang sedang ramai dibicarakan, berjudul 13 Reasons Why. Tentang seorang remaja yang sedang menyelidiki penyebab teman dekatnya melakukan bunuh diri. Banyak yang mengatakan, serial ini justru memprovokasi dan memberi inspirasi cara melakukan bunuh diri.

Yang jelas, pop culture dan media sosial adalah dua hal yang menjadi bagian dari kehidupan anak dan remaja. Apa yang sedang tren di sana, bukan tidak mungkin menjadi daya tarik bagi mereka.

Ancaman bullying

Efek bullying pada anak tidak bisa diremehkan. Perilaku bullying tumbuh subur di sekitar kita. Yang perlu diwaspadai juga adalah bully dalam bentuk verbal, yang sulit dideteksi orang tua. Itulah kenapa, orang tua harus betul-betul mengamati jika anak menunjukkan perubahan perilaku.

Anak yang sudah memiliki media sosial, juga harus diawasi aktivitasnya, karena tidak sedikit bully yang datang lewat pesan media sosial.

“Kevin sering dianggap nerd oleh teman-temannya karena susah bergaul. Dia juga tidak bisa membela diri saat ada temannya yang menyerang secara fisik. Makanya, ia jadi bulan-bulanan bully di sekolah,” cerita teman saya.

Baca juga:

Menyiapkan Ketahanan Mental si Kecil

Kurangnya self esteem

Menurut psikolog yang memeriksa Kevin, penyebab sulitnya Kevin bersosialisasi bukanlah karena ADHD, melainkan karena salah asuhan. “Dia perlu dibangun self esteemnya, harus banyak-banyak dibuat bangga dengan dirinya,” ujar teman saya mengutip pesan psikolog.

Pemberian pujian dan apresiasi pada anak ternyata berdampak besar pada tumbuh kembangnya. Sekecil apa pun usaha anak, harus dirayakan sebagai sebuah keberhasilan.

Baca juga:

Kecerdasan Moral yang Saya Ajarkan ke Anak-anak Saya

Jadi, sudahkah kita memuji anak kita hari ini?


Post Comment