Berani Bicara, Akar Relasi yang Kuat Dalam Keluarga

Berani bicara khususnya untuk membicarakan topik yang sulit dan mendalam tanpa menuai konflik memang nggak gampang. Perlu ilmu yang perlu dipahami dan dipelajari seperti yang dijelaskan Ratih Ibrahim selaku Psikolog Keluarga.

berani bicara_mommiesdaily

Lulus kuliah jurusan komunikasi, ternyata nggak menjamin saya untuk bisa berkomunikasi dengan baik tanpa menuai konflik. Khususnya ketika bicara mengenai topik yang dirasa cukup sulit dan sensitif. Contohnya, nih, saat mau ngomongin masalah uang, atau persoalan keluarga besar. Bahkan urusan pekerjaan.

Beberapa tahun lalu, ketika memutuskan untuk bekerja kembali di media, saya sudah paham betul segala risikonya. Contohnya harus bertugas akhir pekan dan ke luar kota. Meskipun begitu, ketika  pertama kali dapat tugas ke luar kota ketika punya anak, tetap saja saya bingung. Dilema, apakah harus menerima tawaran pekerjaan tersebut dan meningggalkan anak selama beberapa hari, atau lebih baik menolak saja? Bagaimana kalau ternyata suami nggak mengizinkan?

“Wah, bisa-bisa terjadi ‘perang mulut’ nanti. Apa lebih baik tugas tersebut saya tolak dengan halus daripada bikin berantem sama suami?,” batin saya ketika itu. Saya cukup yakin, pergolakan batin seperti ini sudah jadi ‘makanan’ sehari-hari para ibu bekerja, ya?

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, masa ngomong sama suami saja takut? Bukankah kalau komunikasi sudah bisa dilakukan secara intim dan hangat, tandanya relasi dengan keluarga sudah baik? Saya pribadi sangat percaya kalau ngobrol secara intim seperti sharing ibarat akar untuk mempererat sebuah relasi.

Ngomongin soal sharing, beberapa waktu lalu Mommies Daily dan SariWangi mengadakan acara blogger gathering. Sepanjang ingatan saya, sejak awal kehadirannya SariWangi memang sangat concern mengenai pentingnya berkomunikasi dalam keluarga. Kali ini SariWangi pun ingin  mengajak keluarga Indonesia untuk lebih #BeraniBicara dan mengungkapkan isi hati. Sebuah gerakan dari kampanye terbaru dari SariWangi.

Di awal acara saya cukup terkejut dengan fakta mengenai keterbukaan di antara keluarga. Survei yang dilakukan SariWangi membuktikan kalau tingkat keterbukaan keluarga Indonesia masih cenderung rendah. Masyarakat kita ternyata cenderung bermain aman saja, artinya hanya mau ngomong dan sharing soal hal yang mudah saja. Untuk hal yang sulit dan cenderung memicu konflik justru lebih banyak dipendam sendiri.

Selain Mona Ratuliu selaku Brand Ambassador SariWangi, dan Johan Lie, selaku Senior Brand Manager SariWangi, Ratih Ibrahim selaku Psikolog Anak dan Keluarga juga hadir dan menjelaskan banyak informasi menarik yang perlu saya pelajari.

berani bicara-mommiesdaily

Ratih Ibrahim mengungkapkan meskipun masyarakat Indonesia punya kebiasaan sharing terutama dalam lingkup keluarga. Faktanya,  8 dari 10 orang yang hobinya bercerita, tapi tidak selalu yang diceritakan merupakan ungkapan isi hati sebenarnya. Artinya masih banyak yang ditutup-tutupi dengan dalih demi menghindari konflik. “Padahal memiliki pembicaraan yang mendalam di keluarga termasuk hal-hal yang sulit diungkapkan, dapat membangun relasi yang hangat dan intim. Dan inilah yang akan membuat keluarga bahagia bahkan mencegah risiko depresi pada seseorang,” ungkap Ratih.

Ratih melanjutkan, Dalam keluarga idealnya memang harus terbuka satu sama lain, jadi tidak perlu perlu sungkan untuk bicara karena takut terjadi konflik . Memang, sih, keterbukaan berpotensi  menimbulkan konflik yang menyebabkan rusaknya relasi. Nggak heran kalau banyak yang cari aman soal topik yg dibicarakan. Tapi apa apa iya itu yang paling baik? Seperti yang dijelaskan oleh Ratih Ibrahim,  jika kedekatan dalam keluarga sudah dibangun dengan baik, tidak perlu ada ‘topeng’ atau hal yang ditutup-tutupi.

Kalau memang akhirnya ada konflik, ya, selesaikan. Bukan dihindari. “Konflik itu akan ada saat terjadi interaksi. Lah kalau urusan memilih mau makan apa di restoran saja bisa terjadi konflik, kok. Justru  dengan konflik akan meningkat level hubungan dengan keluarga, baik dengan anak dan suami. Berani berbicara soal hal mendalam dan terasa sulit juga menunjukan tingkat kedewasaan seseorang,” papar Mbak Ratih lagi.

Masih bingung bagaimana membangun komunikasi yang hangat dan mendalam? Nah, Mbak Ratih Ibrahim waktu itu memberikan beberapa tips yang bisa kita pelajari.

Bangun empati

Yup, komunikasi juga perlu empati. Jadi saat ngobrol, coba perhatikan lawan bicara kita lebih dulu dengan memahami perspektif orang lain. Dengan empati, kita pun bisa  mampu menerima perbedaan. Jadi nggak egois dan menganggap kitalah yang selalu benar. Toh, memang setiap individu punya pandangan berbeda bukan? Kadang tidak perlu dipaksaan untuk menjadi sama.

Jangan lupa bersikap hangat

Gimana orang lain mau terbuka kalau sikap kita dari awal sudah nggak ramah dan hangat? Ingat, nih, sebuah keterbukaan itu bisa dengan bersikap ramah dan hangat pada orang lain. Ibaratnya seperti memberikan sinyal positif pada lawan bicara.

Selipkan humor

Kebayang nggak kalau saat ngobrol itu suasananya kaku?  Jadi, ada baiknya tetap menyelipkan humor. Tapi humor di sini yang beretika dan lihat situasi lebih dulu, ya. hal ini berlaku unuk komunikasi secara langsung ataupun saat ‘curhat’ di media social.

Ciptakan suasana hangat dan nyaman

Menurut saya poin yang satu ini tuh, ibu-ibu banget, deh! Saya ingat jauh sebelum menikah, Mama saya sering sekali memberikan saya camilan dan membuatkan saya segelas minuman hangat kalau lagi kumpul. Katanya, “Biar ngobrolnya tambah enak”. Hahaha, benar juga, sih, kalau suasananya sudah hangat, bisa mencairkan suasana dan bikin lebih nyaman. Di sini, SariWangi ingin menjadi mediator dalam membangun suasana hangat dan nyaman yang membantu individu lebih terbuka.

sariwangi-beranibicara

Jadi gimana mommies, yuk, mulai berani bicara  hal mendalam dengan keluarga. Jangan lupa untuk berbagi pengalaman juga, ya, di social media dengan memberikan #BeraniBicara dan tag IG Sariwangi juga, ya !


Post Comment