Anak Perempuan dan Make-up: Yes or No?

Ditulis oleh: Azza Waslati

Waktu kecil, saya senang melihat bibir menjadi merah setelah minum Fanta, karena berasa memakai lipstick. Sekarang? Kenapa semakin banyak anak kecil didandani ala orang dewasa oleh orangtuanya?

Masih ingatkah ketika kita masih kecil dan asik berkaca setelah minum minuman soda berwarna merah? Senang sekali melihat bibir jadi kemerahan seperti bibir ibu yang cantik menggunakan lipstik. Namun, seiring waktu, kita lihat semakin banyak anak kecil yang didandani orang tuanya ala orang dewasa. Tak tanggung-tanggung, wajah si anak diceploki foundation, eyeliner, bulu mata palsu, dan eyeshadow. Cukup banyak orang dewasa yang khawatir melihatnya. Apa bijak membiarkan anak berdandan seperti itu? Adakah dampak bagi si anak?

Anak dan Make-up: Yes or No? - Mommies Daily

Ketika model dan pebisnis Katie Price menaruh foto anaknya yang berumur 8 tahun, Princess, berdandan lengkap seperti orang dewasa di Instagram, banyak orang yang marah dan mengkhawatirkan sang anak. Mulai dari dandanan hingga tampilan keseluruhan yang “oversexualized”.

“Biarkan anak-anak tetap menjadi anak-anak. Tak perlu dipaksa agar lekas dewasa.”
“Ini mengerikan! Ini memaksakan kehendak orang tua ke anak! Sangat tidak pantas.”

Banyak komentar serupa. Bahkan Peter Andre, mantan suami Price sendiri menyebut foto tersebut, “disgusting” dan “hard to deal with”. Wow! Price akhirnya mengakui bahwa dia membuat keputusan yang salah setelah berdiskusi dengan Andre.

Di sisi lain, orang tua yang memiliki anak perempuan biasanya sudah mengalami serunya main dandan-dandanan dengan anak. Tak harus make-up, baju yang matching dan penampilan menarik untuk diberi tagar OOTD saja sudah menyenangkan. Atau, ketika si anak sudah berumur cukup, memberikan dia lipgloss yang memberikan sedikit warna pink di bibir.

“Saya pernah merasakan apa yang Tita rasakan. Waktu kecil juga saya ingin sekali meniru ibu yang terlihat cantik dengan lipstik. Seringnya ibu tak mengijinkan, takut nanti kebiasaan. Tapi terkadang, beliau mengijinkan saya bermain dengan make-up-nya, namun tak boleh keluar rumah,” Ajeng mengenang masa kecilnya sekaligus memberikan alasan kenapa dia tak menentang anak memakai make-up asal tak berlebihan dan tak terlalu sering. “Yang penting masih seperti anak-anak. Jangan medok kayak orang dewasa. Malah seram.”

Dokter anak dari Cleveland, Amerika Serikat, Eva Kubiczek-Love, MD, menyarankan agar orang tua berdiskusi dengan anak begitu ia menunjukkan minatnya. “Seperti biasa, orang tua perlu menentukan batasan dan harapan anak.” Aturannya seperti apa? Tergantung nilai keluarga dan apa yang diterima oleh masyarakat sekitar kita. “Kalau anak sering ikut kegiatan menari atau cheers, maka make-up bisa jadi diterima di lingkungan sosialnya.”

Yang paling perlu diperhatikan dari anak dan make-up adalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Bahkan label natural dan organik pun terkadang tak sesuai dengan harapan konsumen. Hindari make-up dengan bahan-bahan yang berbahaya bagi anak. Untuk make-up luar, situs Environmental Working Group  bisa jadi acuan untuk mengetahui tingkat keamanannya.

EWG pernah melakukan penelitian yang menyimpulkan semakin muda anak mulai memakai make-up, semakin besar bahayanya bagi kesehatan. EWG melakukan penelitian pada anak perempuan berusia 14-19 tahun dan menemukan produk kecantikan yang mereka gunakan bias membahayakan karena mengandung zat kimia seperti phthalates, triclosan, parabens, dan musks yang terkait dengan kanker dan masalah hormon. Bahkan, para peneliti juga mengkhawatirkan kemungkinan zat-zat tadi bisa membuat depresi.

Stacy Malkan, salah satu pendiri Campaign for Safe Cosmetics mengatakan pada The Sun, “Gadis remaja banyak yang sudah memiliki make-up ritual. Semakin banyak yang digunakan, semakin sering pula ia terkena zat-zat yang berbahaya, dan ini tentu sangat buruk bagi kesehatannya.”

Meski di Indonesia belum seheboh di luar negeri, namun bila kita membiarkan hal ini menjadi kebiasaan, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi kita melihat anak-anak gadis berkeliaran dengan make-up tebal, bermodalkan pengetahuan dari YouTube tutorial.

Jadi kesimpulannya:
1. Jangan biasakan gadis kecil kita menggunakan make-up. Banyak zat kimia yang bisa berbahaya di sana.
2. Main dandan-dandanan boleh saja bila Anda merasa make-up yang akan digunakan aman, tapi jangan tiap hari dan jangan terlalu sering.
3. Perhatikan dandanan anak, tak perlu memaksa dia terlihat dewasa apalagi hanya demi menuruti kesenangan kita sendiri.
4. Berdiskusilah dengan anak tentang kelebihan dan kekurangan make-up. Dan buat aturan jelas pada usia berapa dan saat-saat apa dia boleh menggunakannya.

Yang lebih penting, jangan lupa mengingatkan anak bahwa dia cantik apa adanya. Terkadang kita banyak menuntut anak untuk pintar di sekolah dan berperilaku baik, sementara kita tidak mengerti apa yang ia rasakan di dalam hatinya. Ada kasus di mana anak ternyata ingin menggunakan make-up karena ia merasa minder dengan kawan-kawannya. Sebagai orang tua, tumbuhkan rasa percaya dirinya dengan membuat ia menyadari bahwa ia pun memiliki banyak kelebihan.

Kita tentu tak ingin anak yang hanya fokus pada penampilan luarnya, namun kita juga menyadari bahwa penampilan fisik adalah hal yang diperhatikan orang lain. Beri anak pengertian bahwa penampilan bukan sekadar tentang wajah yang dipoles, tapi juga hati yang baik yang terlihat dari perilaku, dan otak cerdas yang bisa dinilai dari kemampuan membawa diri. Selamat berdiskusi dengan anak, ya!


Post Comment